Alice

Alice
Bagian 141



"Nak Purnama, Ibu dan Bapak Jujur sangat berterimakasih atas segala kebaikan nak Purnama, bapak dan Ibu sudah mendengar semuanya dari Ibu Kos Alice, Bapak dan Ibu tidak akan menghalangi apapun yang bisa membuat Alice bahagia, bapak dan Ibu akan merestui hubungan kalian, bapak dan Ibu berhutang banyak sama kalian semua.!"


Ucap Bapak Alice berterimakasih dan memberi restu.


Tak Ayal kondisi tersebut membuat siapapun yang melihat tak bisa lagi menahan air mata


"Terimakasih pak, Bu Alhamdulillah, selama saya pergi saya sudah menitipkan Alice kepada Desi dan Iqbal!"


Ucap Purnama


Topan yang melihat hal tersebut hanya tersenyum simpul.


"Pur gue ada kabar baik!"


Ucap Dahlan sembari berlutut di samping Purnama.


Purnama menatap ke arah Dahlan dan Dahlan menyentuh kedua pundak Purnama dengan kedua tangannya.


"Dokter ngasih elo ijin buat masuk ke dalam, tapi waktu elo hanya lima belas menit!"


Ucap Dahlan dengan nada kecewa.


"Sungguh?!"


Tanya Purnama histeris.


"Tentu, masuklah dan manfaatkan waktu sebaik mungkin!"


Ucap Dahlan.


Purnama menatap kedua wajah orang tua Alice.


"Masuklah nak masuk,berpamitanlah kepada Aluce, kami janji akan menjaga Alice selama kamu pergi nak.!"


Seru Bapak Alice


"Terimakasih pak, terimakasih, Lan makasih banyak ya!"


Ucap Purnama berterimakasih kepada Orang tua Alice dan kepada Dahlan.


"Masuk lah ke dalam temui Alice, dan pergilah tanpa beban, bebaskan hati dan pikiranmu Agar Alice cepat pulih disini.!"


Ucap Ibu Alice


Ibu kosan pun menepuk pundak Purnama dan mengangguk sembari menangis.


"Masuk lah nak Purnama, jangan sia-sia kan waktu!"


Ucap Ibu kosan.


Purnama sembari menyeka air matanya kemudian berdiri dan memasuki kamar rawat Alice.


Melihat kekasihnya yang masih terbaring lemah tak sadarkan diri dengan alat bantu pernapasan yang terpasang, membuat hati Purnama teriris air matanya yang sempat ia seka tak sanggup ia seka lagi dengan langkah tertatih perlahan Purnama memberanikan diri mendekati Alice.


Kemudian duduk di kursi dan meraih tangan Alice beberapa kali Purnama menciumi tangan gadisnya itu.


"Assalamualaikum... se..lamat...sore... sayang...!"


"Kamu apa kabar hari ini sayang?, kamu tahu sayang, hari ini kamu jadi siswa terbaik yang naik ke atas pentas, ibu dan bapak juga disini sayang, selamat ya sayang apa yang selama ini kamu cita-citakan akhirnya bisa kamu raih, kakak bangga sama kamu.!"


Ucap Purnama sembari menangis tanpa perduli lagi dengan air matanya.


"Sayang, kakak yakin ... kamu mendengarkan kakak kan sekarang,,, sayang,,, kalau kamu cape dengan semua ini kamu istirahatlah saja dulu tapi jangan lama-lama, kakak pengen ngobrol lebih banyak hal lagi bareng sama kamu, jalan-jalan lagi, ketawa-ketawa lagi, maafin kakak ya sayang... hiks. hiks... hiks... Kakak udah terlalu banyak kasih kamu masalah, kamu selalu bilang sama kakak kalau kakak gak boleh ngeluh sayang, tapi kalau ngeliat kamu kayak gini kakak hilang arah kakak benar-benar kehilangan arah Hiks...hiks...hiks...!"


Purnama menciumi tangan Alice sembari sesekali mengelus kepala Alice.


Ada air mata yang menetes di penjuru mata Alice, Purnama yang melihat itu semakin meyakini bahwa Alice mendengarkan apapun yang dia ucapkan, Purnama menyeka air mata Alice, dengan kondisi matanya yang tertutup rapat.


"Sayang kamu tidak boleh sedih,,, berjanjilah kita akan saling menepati janji, maafkan kakak tidak bisa menemani kamu disini semua kakak lakukan demi kebaikan kamu disini, kakak janji kakak akan pulang dan langsung melamar kamu, tapi kamu harus sehat sayang.."


Purnama menarik napas dalam berat baginya harus mengucapkan perpisahan dalam kondisi Alice seperti saat ini.


"Sayang kakak akan pergi malam ini, kamu jaga...diri...baik-baik ya disini... kakak janji bakal sering-sering menghubungi kamu, kamu juga harus... janji... sama kakak... bahwa kamu akan segera sembuh dan beraktifitas seperti biasa... maafkan kakak sayang... tolong maafkan kakak karena kali ini kakak gak bisa di sisi kamu saat kondisi kamu benar-benar down... hik...hiks...hiks...!"


Purnama menangis sesenggukan sembari mencium kening Alice dan menatap lekat wajah kekasihnya, tak sedikitpun lagi suara terdengar d ruangan itu hanya ada tangisan yang menjadi bukti dan gambaran sulitnya perpisahan ini dilalui.


Topan menatap kedalam kamar rawat Alice menyaksikan sendiri perpisahan Alice dan Purnama. Ibu Kos bangkit dari duduknya kemudian menghampiri Topan dan ikut menatap kedalam, sembari menyeka air matanya yang akan menetes Ibu kosan Pun setengah berbisik kepada Topan.


"Nak!, mencintai bukan berarti mesti selalu memiliki, prioritaskan kebahagiaan orang yang kamu cintai, jangan lagi memaksakan kehendak, sudah terlalu banyak air mata yang mereka keluarkan untuk bisa bersama.!"


Ucapan Ibu kos membuat Topan menunduk.


Iqbal ikut mendekati Topan kemudian menyentuh Pundak Topan.


"Bang, yang namanya jodoh itu di Atur oleh Allah, sekuat apapun kamu menggenggamnya jika dia bukan untuk mu dia akan tetap hilang, tapi jika memang dia jodoh kamu, sejauh apapun jarak kalian, dia akan tetap datang kepadamu.!"


Ucap Iqbal memberi semangat pada Topan.


Topan pun tersenyum dan mengangguk.


"Rasa sayang tidak mesti melulu harus di curhakan sebagai seorang pasangan kekasih, jika kamu benar-benar mencintai dan menyayangi dia, jaga dia sebagai adik kamu, lebih bijak lah dalam menyikapi setiap keadaan karena kita hanya manusia tidak akan mampu merubah apa yang telah digariskan oleh pencipta.!"


Seru Asti kepada Topan Pula sembari tersenyum.


"Aku pikir kalian semua benci sama aku karena aku terlalu memaksa, sejujurnya melihat kondisi Alice seperti ini aku marah dan hancur, aku benar-benar benci pada Purnama, bagi aku dia adalah sumber segala kesakitan Alice.!"


Seru Purnama mengutarakan perasaanya.


"Jika aku tidak mencintai Alice sudah sejak kemarin Aku datang dan menghajar Purnama habis-habisan, tapi disisi lain ibu bilang bahwa jika perbuatanku ini akan membuat keadaan lebih baik maka aku boleh melakukannya, tapi jika hanya menambah buruk keadaan aku tidak boleh ikut kesini walau hanya sekedar untuk melihat Alice.!"


Seru Topan lagi sembari kembali menatap kedalam kamar Alice.


Ibu Kos dan Iqbal hanya mengelus-elus pundak dan punggung Topan.


"Nak Topan terimakasih karena nak Topan begitu mencintai anak kami, kalian begitu baik Alice beruntung memiliki kalian yang begitu perduli pada kondisinya, meskipun pada akhirnya jodoh Alice bukan salah satu dari Kalian, bagi Ibu dan Bapak kalian semua adalah keluarga.!"


Ucap Bapak Alice sembari berdiri mendekati Topan.


"Terimakasih Pak, saya merasa sangat malu berada disini, saya datang membawa niat yang tidak baik tapi kalian begitu terbuka dan baik terhadap saya.!"


Ucap Topan sembari memeluk Bapak Alice.


Di tengah-tengah suasana tangisan itu tiba-tiba Purnama keluar dari dalam ruangan Alice sembari Berlari