
"Aku akan membacakan pesan Alice kalian dengarkan lah!"
Pinta Akila kepada Topan dan Andri.
Andri mengangguk mengiyakan.
"Kak Topan dan Pak Andri, Maafkan aku yang sudah menjadi pembuat onar dalam hidup kalian, aku mohon jika kalian mau memaafkan Aku maka lupakan lah aku dan lanjutkan hidup kalian, aku ingin ketika kita bertemu lagi suatu saat nanti tidak akan ada rasa canggung atau perasaan lebih dari teman yang tersisa, Pak Andri, maaf Alice sudah membuat bapak kerepotan karena membimbing Alice selama ini, maaf Alice tidak bisa menerima perasaan Bapak, dan untuk kak Topan, kembalilah kepada Kak Akila, dia gadis yang baik dan periang, maaf karena aku sudah menjadi penyebab keretakan hubungan kalian, Aku mohon lupakan bahwa aku pernah jadi orang yang kalian inginkan dalam hidup kalian, karena sejujurnya bagaimanapun Aku masih mencintai kak Purnama, selamat tinggal semoga kita bisa bertemu lagi.!"
Akila selesai membacakan pesan yang dikirim Alice.
Andri dan Topan terdiam, kemudian Andri beranjak dari duduknya dan pergi tanpa pesan ataupun kesan, Akila menatap kepergian Andri kemudian melihat Topan yang masih menunduk di hadapannya.
"Sekarang, aku tidak berharap kamu kembali kepadaku, kamu boleh mengecualikan pesan Alice untuk kembali kepadaku, tapi tolong dengarkan yang lainnya, aku selalu mendoakan kebaikan untuk kamu, lanjutkan saja kehidupan kamu, aku juga akan berusaha lebih keras untuk melupakan kamu dan melanjutkan kehidupanku, sampai jumpa lagi!"
Ucap Akila sembari mengikuti jejak Andri yang pergi meninggalkan mereka.
Seminggu berlalu semenjak kehilangan Alice, Alice sudah di terima bekerja di sebuah minimarket dan sedang sibuk-sibuknya menikmati kehidupannya sekarang, Alice selalu menghabiskan waktunya untuk bekerja dan di akhir pekan Alice akan libur bekerja dan pergi untuk kuliah, Sementara Andri masih secara diam-diam mencari Alice di sela-sela kesibukannya. Di jam Istirahat kerjanya Alice melihat ada pengingat yang berdering di handphonennya, Alice melihat pengingat tersebut, ternyata hari ini adalah hari jadiannya dengan Purnama dulu, Alice hanya tersenyum kemudian mematikan pengingatnya, dan kembali untuk bekerja.
Tok...!
tok...!
Tok...!
"Assalamualaikum!"
Ucap seseorang mengetuk pintu rumah Asti.
"Siapa yang?"
Tanya Dahlan kepada Asti.
"Gak tahu bang, aku gak ada janjian sama siapa-siapa ko hari ini, temen abang kali?"
Tanya Asti kepada Dahlan
"Sama aku juga gak janjian, gak pesen paket juga, ya udah aku buka dulu deh yah!"
Ucap Dahlan kepada Asti istrinya.
"Iya udah sana!"
Jawab Asti.
"Assalamualaikum!"
Ucap lagi seseorang di luar rumah.
"Iya...iya... bentar...!"
Jawab Dahlan sembari menghampiri pintu dan membuka Kunci.
"Wa allaikumus sallam!"
Jawab Dahlan seraya membuka pintu, Dahlan melihat seorang lelaki, menggunakan kemeja membawa tas gendong yang di selempangkan membelakangi Dahlan.
"Mau cari siapa mas?"
Tanya Dahlan kepada orang tersebut, lelaki tersebut membalik badan kemudian membuka kacamata hitamnya sembari tersenyum kepada Dahlan.
Betapa terkejutnya Dahlan melihat siapa yang datang, Dahlan tanpa aba-aba menghambur memeluk laki-laki tersebut dengan erat seraya menangis terisak-isak. Asti yang mendengar suara tangisan suaminya bergegas keluar.
"Siapa bang?, ada apa?!"
Teriak Asti dari dalam rumah sembari keluar menghampiri Dahlan, melihat Dahlan dan laki-laki misterius tersebut tengah berpelukan Asti menatap heran.
"Bang!, itu siapa?!"
Tanya Asti kepada Suaminya.
"Sayang sini, lihat siapa yang datang!"
Ucap Dahlan sembari meminta istrinya menghampiri, Asti dengan segan menghampiri laki-laki tersebut, setelah melihat laki-laki itu menoleh ke arahnya Asti pun berteriak seraya menghamburkan tubuhnya kepada laki-laki tersebut.
"Purnama!"
Teriak Asti memeluk erat.
"Ya Allah Pur, kemana aja kamu selama ini, gimana kabar kamu sehat?, ya Allah Pur, Bang ini mimpi apa nyata bang?!"
Tanya Asti kepada suaminya.
"Hahahah ayo kita masuk dulu kedalam kita ngobrol sambil kangen-kangenannya di dalam ayo Pur!"
Ajak Dahlan sembari merangkul Pundak Purnama dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Asti membawa nampan minum dan beberapa toples cemilan kemudian menaruhnya di meja.
"Ya Ampun Pur kamu gimana kabarnya?"
Tanya Asti tak sabar mendengar cerita Purnama.
"Baik ko Alhamdulillah aku baik-baik aja, gimana kabar kalian, kangen aku sama kalian semua!"
Jawab Purnama tersenyum senang karena bisa bertemu sahabat-sahabat lamanya.
"Kami juga baik Alhamdulillah, kamu kemana aja selama ini?"
Tanya Asti lagi.
"Ceritanya panjang As.!"
Jawab Purnama.
"Ceritalah gue penasaran sebenarnya elo kemana selama ini, sampai-sampai keluarga elo aja gak tahu elo dimana, kasian Alice gue kadang kesel sama loe tapi jujur gue seneng banget akhirnya elo datang dalam kondisi yang baik-baik saja!"
Ucap Dahlan kepada Purnama.
"Iya, aku juga kangen banget sama Alice, tadi aku ke kosannya yang dulu bareng sama Desi ternyata ibu kosnya bilang sejak lulus mereka udah pindah, aku juga balik ke rumah tapi aku lihat disana ada plang rumah disita, aku juga gak tahu keluargaku sekarang d mana rumahnya!"
Ucap Purnama agak murung.
Dahlan dan Asti saling bertatap ketika Purnama menyebut nama Alice, itu karena sepengetahuan Dahlan dan Asti, Alice telah dilamar oleh Topan.
"Masalah Keluarga elo sebenarnya rumah elo gak di sita, sengaja emang bokap elo yang pasang, niatnya sih mau bikin nyokap elo sadar bahwa harta bukan segalanya dan berharap nyokap elo bakal ngerestuin elo sama Alice, gue tahu ko alamat rumah elo yang sekarang, nanti biar gue sama Asti antar elo kesana.!"
Ucap Dahlan kepada Purnama.
"Iya makasih Lan, aku denger-denger kalian sudah menikah, selamat ya semoga jadi keluarga yang samawa Aamiin!"
Ucap Purnama.
"Tahu dari siapa loe?"
Tanya Dahlan heran.
"Tuh aku liat poto pernikahan kalian hahaha!"
Seru Purnama sembari menunjuk poto pernikahan Asti dan Dahlan yang di pajang di dinding ruang Tamu.
"Hahahah gue kirain elo tahu dari mana, jadi gimana ceritalah!"
Ucap Dahlan memaksa Purnama untuk bercerita.
"Ok aku cerita, semua berawal saat aku pulang dari kampus aku pakai bis transportasi umum, nah setibanya di halte bis tempat aku turun entah gimana ceritanya aku juga gak sadar tepatnya di mana kejadiannya, yang bikin aku sadar itu ya pas aku jalan kaki dari halte niat hati mau beli makanan, malangnya di tas aku udah kosong udah bolong, dompet handphone segala udah ilang aja, aku gak tahu mesti ngehubungi siapa karena aku gak hapal satu kontakpun dari handphone ku yang hilang, aku juga ga bisa pulang karena paspor aku ikut hilang, untungnya Aku ketemu sama Om Hendra di sana, dia baik banget sampai mau bikinin aku paspor baru, bantu ngurus semuanya dan akhirnya aku bisa pulang sekarang...!"
Jelas Purnama tersenyum