
Untuk menyeimbangkan diri Asti perlahan menjinjit kan kedua kakinya, tak satu detik pun Asti biarkan Dahlan terlepas dari pelukannya, napas Asti semakin terdengar Liar di balik kegelapan malam, Dahlan membelai lembut punggung Asti menggerakan tangannya ke atas dan kebawah, membuat Asti semakin Jauh tenggelam.
"Aw... aw... aw...!"
Jerit Asti lembut.
Membuat Dahlan kaget
"Kenapa?, kegigit bukan?"
Tanya Dahlan Panik.
Asti menggeleng.
"Terus?"
Tanya Dahlan lagi.
"Anu kaki aku..."
Ucap Asti ragu.
"Kenapa kaki elu, keinjek sama gue?"
Tanya Dahlan lagi
"Bukan."
"Terus kenapa Dong?"
"Kaki aku keram heheh!"
Dahlan menarik napas sembari menyentuh kening nya.
"Bikin panik aja tahu gak sih, dah sini gue gendong!"
Ucap Dahlan sembari membopong Asti.
"Heheh.!"
Ucap Asti terkekeh.
Dahlan hanya tersenyum sembari melanjutkan perjalanan ke arah penginapan.
"Kamu tampan banget bang, ko bisa ya aku baru sadar kalau di sekolah ada cowok sebaik, selucu dan setampan kamu, telat sih tapi gak papa yang penting sekarang aku punya kamu dan kamu punya aku, eh tapi kan dia belum nyatain cinta sama aku, heemhs.!"
Asti berkata-kata dalam hatinya sembari memperhatikan wajah Dahlan.
Sesampainya di penginapan, tanpa Sengaja Dahlan melihat orang tua Dewi baru saja keluar dari penginapan, spontan Dahlan menjatuhkan tubuh Asti ke tanah hingga terdengar suara Bruk.!!!
"Aw... sakit!"
Ucap Asti sembari menjerit membuat Dahlan langsung jongkok membantu Asti.
"Sory yah sorry, aku kira tadi aku gak bopong orang, heheh!"
Ucap Dahlan sembari garuk-garuk kepala.
Orang Tua Dewi berlari menghambur ke arah Asti dan Dahlan.
"Ada apa ini, kenapa sama nak Asti?"
Tanya Ibu Dewi.
"Heheh gak papa bu cuman kepeleset ko.!"
Jawab Asti tertawa terpaksa.
"Ya ampun bapak kira ada apa tadi, ayo di angkat nak Dahlan, bantu nak Asti ke kamar nya."
Seru Ayah Dewi.
"I... iya... pak.!"
Dahlan kembali membopong Asti menuju kamarnya.
"Mana kunci kamar nya nak Asti biar ibu bantu buka kamar nya.!"
Ucap Ibu Dewi.
"Ya ampun saya lupa minta kunci tadi ke Alice.!"
Jawab Asti.
"Astagfirullah jadi gimana dong ini Pah kasian nak Asti.!"
Tanya Ibu Dewi kepada Suaminya.
"Bawa aja dulu ke kamar nak Dahlan sementara nak Dahlan istirahat di kamar kami dulu.!"
Ucap Ayah Dewi.
Dahlan kembali membawa Asti dalam bopongannya menuju Pintu kamar penginapannya.
"Mana kunci nya nak Dahlan?"
Tanya Ayah Dewi.
"Maaf pak di saku celana mungkin ada tolong ambilkan maaf sekali pk.!"
Ucap Dahlan
Ayah Dewi merogoh saku celana Dahlan namun tak ada kunci di dalamnya.
"Gak ada nak Dahlan.!"
"Ya ampun sepertinya Purnama juga lupa ngasih kunci tadi.!"
Seru Dahlan
"Ya ampun ya sudah pakai kamar kami saja dulu, nanti setelah kami makan malam dan menuju ke rumah sakit, bapak suruh nak Purnama dan Alice Pulang segera."
Ayah Dewi membukakan Pintu kamar penginapan mereka.
Dahlan Pun bergegas menjatuhkan Asti di atas ranjang.
" Bagian mana yang sakit nak Asti?"
Tanya Ibu Dewi khawatir.
"Enggak papa ko pak bu Asti baik-baik aja."
"Yang bener nak Asti apa kamu tidak terkilir?"
Tanya Ayah Dewi.
"In shaa Allah enggak pak.!"
"Beneran serius nak?"
Ibu Dewi bertanya lagi.
"Iya bu Asti baik-baik aja ko jadi ibu sama bapak gak perlu khawatir ya.!"
"Alhamdulillah kalau benar demikian."
Ucap ibu Asti.
"Ya sudah kalu begitu, Ibu sama Bapak mau cari makan dulu habis itu mau langsung ke rumah sakit, Nak Dahlan Pintu kamar nya jangan ditutup ya biar tidak ada Fitnah di antara kalian berdua."
Ayah Dewi menyarankan.
"Iya pak tentu."
Seru Dahlan.
"Bapak sama Ibu pamit, Assalamualaikum."
"Wa allaikumus sallam, hati-hati pak, bu!"
Ucap Asti.
"Konyol banget sih bang kelakuan kamu, hahahah!"
"Elu tuh yang konyol, acara jerat jerit segala udah kaya kucing keinjek aja hahahah.!
Seru Dahlan.
"Gue pengen mandi tapi gak ada baju ganti udah beberapa hari lagi nih baju."
Keluh Dahlan.
"Mau pake baju aku?"
Tanya Asti.
"Ih nanti gue jadi cuco me'ong lagi.!"
Jawab Dahlan.
"Gue beli baju dulu aja deh ah keluar, mana kunci mobil elu pinjem.!"
Seru Dahlan kepada Asti.
"Ikuttttt!"
Seru Asti Manja.
"Ya udah ayo bisa jalan sendiri kan?"
Tanya Dahlan.
"uummmhhhh gendonggggg.!"
Pinta Asti lagi manja.
"Ogah berat, hahahah!"
Seru Purnama sembari mengambil kunci mobil dari tas Asti.
"Huhhh jahat.!"
"Kunci itu pintu jangan lupa nanti ada yang hilang lagi.!"
Seru Dahlan sembari berjalan menuju mobil.
Sementara Di Rumah sakit...
Purnama terlihat berjalan menghampiri Alice, nampak Alice tengah terduduk di kursi sembari merasa kedinginan.
Purnama memperhatikan dari jauh.
"Dasar gadis ceroboh yang menggemaskan!"
Ucap Purnama sembari melepas jaket nya dan berjalan ke arah Alice.
Alice tersenyum, menatap Purnama yang menghampiri nya.
"Pakai ini cuaca disini dingin kenapa gak pakai jaket?"
Tanya Purnama.
"Maafin Alice kak soal tadi, Alice tahu sebenarnya kakak hanya khawatir tentang Alice.!"
Alice meminta maaf.
"Maafin kakak juga, ke khawatiran kakak terlalu berlebihan tadi, kakak cuman gak mau hal-hal buruk terjadi sama kamu.!"
Jelas Purnama.
"Makasih kak.!"
Seru Alice sembari membetulkan jaket Purnama yang di selimutkan oleh Purnama ke tubuhnya.
"Maaf ya kalau jaket nya agak bau, maklum saja kakak gak bawa baju ganti. heheh!"
Seru Purnama sembari duduk di samping Alice.
Alice pun tersenyum tersipu.
Alice menghirup udara yang tak sengaja bercampur dengan parfum di jaket Purnama.
"Wangi sekali bahkan ketika sudah beberapa hari di gunakan."
Alice berkata dalam hatinya sembari tersenyum.
"Kamu kenapa?"
Tanya Purnama kepada Alice.
"Emhsss ems eng... enggak... memangnya kenapa kak?"
Tanya Alice yang terkaget oleh pertanyaan Purnama.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?"
Tanya Purnama lagi.
"Jangan-jangan ada yang lucu lagi sama kakak?"
seru Purnama sembari mengusap wajahnya berkali-kali.
"Engg... enggg gak kok kak.!"
Jawab Alice gugup.
"Alice cuman tidak sengaja menghirup bau wangi dari parfum kakak yang menempel di jaket.!"
Jawab Alice jujur.
"Penciuman kamu bermasalah mungkin hihih!"
Seru Purnama.
Alice hanya tersenyum mendengar ucapan Purnama
"Alice..!"
Panggil Purnama.
"Emhs iya kak?"
"Bagaimana perasaan kamu kepada kakak?"
Tanya Purnama tanpa berbasa-basi.
Alice menunduk tanpa suara.
"Masih belum ya? heheh!"
Tanya lagi Purnama kali ini dengan senyum.
"Emhsss sebenarnya tidak..."
Jawab Alice terhenti.
"Maksud kamu tidak?"
Tanya Purnama lagi namun Alice mengangguk.
"Tidak memiliki perasaan maksud Alice?"
Tanya Purnama meyakinkan.
"Bukan ka...!"
"Lalu?"...
Tanya Lagi Purnama, namun Alice tak bergeming membuat Purnama merasa tak enak hati jika harus berbicara lagi.