Alice

Alice
Bagian 72



Asti menangis berlomba dengan suara air keran yang di nyalakan sengaja.


"Apa aku sudah keterlaluan bicara sekasar tadi kepada Alice?"


Asti bertanya-tanya dalam hati nya.


"Ya Allah ini mulut kenapa gak bisa di jaga sih.!"


Asti memukul bibir nya.


Asti kemudian menghapus air matanya.


"Aku harus minta maaf sama Alice, eh tapi dia sedang menangis sebaiknya aku beri dia waktu untuk memikirkan apa yang telah aku ucapkan.!"


Ucap Asti berkata-kata sendiri.


Beberapa saat kemudian Asti keluar dari kamar mandi menggunakan baju mandi dan handuk di kepalanya.


Asti berniat meminta maaf kepada Alice, namun Alice telah terlelap tidur.


"Ya udah tidur, ya udah lah besok pagi aja.!"


Seru Asti setelah melihat Alice yang tertidur, Asti mengganti baju nya dan mengeringkan rambutnya kemudian pergi tidur.


Ke esokan paginya saat Asti terbangun dari tidurnya Alice baru saja selesai mandi.


"Kamu udah bangun Lice?"


Tanya Asti.


"Udah kak.!"


Jawab Alice.


"Jam berapa ini?"


Tanya Asti sembari bermalas-malasan.


"Setengah tujuh kak.!"


Jawab Alice lagi


"Apa.!!! Astagfirullah aku gak shalat subuh, kenapa kamu gak bangunin aku sih Lice?!"


Seru Asti sembari berdiri spontan.


"Loh buknnya kakak lagi datang bulan ya?"


Tanya Alice.


"Astagfirullah,,, oh iya aku lupa, hhemhss syukurlah.!"


Ucap Asti sembari kembali berbaring di tempat tidur nya.


"Mandi sana kak biar segar,kita kan harus ke rumah sakit gantiin Ayah sama Ibu Dewi jaga, sekalian liat hasil dari periksa kandungan Dewi kemarin."


Tutur Alice.


"Oh iya ya ampun kenapa aku jadi pelupa gini ya, kayanya gara-gara semalem aku ngomelin kamu deh Lice.!"


"Kakak ini ada-ada saja, itu karena nyawa kakak masih belum kumpul semua hahahah.!"


Canda Alice.


"Kamu ini lice, kakak minta maaf ya semalam udah ngomelin kamu.!"


Asti meminta maaf kepada Alice.


"Gak papa Kak, Alice sadar ko Alice salah justru kakak ngomelin Alice karena sayang kan ke Alice, sedikitpun Alice gak marah ko di omelin kakak semalam justru omelan kakak udah bikin Alice menyadari sesuatu, yaitu kesalahan Alice selama ini."!


Jawab Alice sembari tersenyum.


"Kesalahan?"


Tanya Asti bingung.


"Iya kak, udah ah sana mandi dulu nanti kak Dahlan keburu kesini loh masa calon istrinya masih kaya gini baru bangun tidur.!"


"Iya deh iya aku mandi nanti habis mandi awas ya kalau gak cerita, jangan lupa baju sama pentopel di pakai.!"


Ucap Asti sembari memasuki kamar mandi.


Alice menatap cincin dan Bross yang di berikan Purnama tadi malam.


"Mungkin emang udah saat nya kak, maaf selama ini sudah membuat kakak menderita, kakak juga berhak bahagia, selama ini kakak sudah bersusah payah membahagiakan aku, saat ini waktunya kakak memikirkan kebahagiaan kakak juga, maaf selama ini saya egois kak.!"


Seru Alice berka-kata sendiri sembari menatap barang-barang dari Purnama.


Alice bangkit kemudian mengambil gamis yang semalam diberikan Asti, Alice memutuskan untuk menggunakannya sesuai permintaan Asti.


Selesai merias wajah nya menggunakan pelembab dan lipblam Alice memakai kerudung nya kemudian menggunakan Bros pemberian Purnama.


Alice pun menggunakan cincin dari Purnama namu menutupi nya dengan sambungan tangan yang menempel di jari tengahnya.


Usai Asti mandi dan keluar kamar mandi.


"Subhanallah cantik banget kan kamu, bener pas banget baju nya, gimana sepatu pentopel nya kekecilan gak?"


Tanya Asti.


"Enggak ko kak pas kayanya,!"


"Ko kayanya sih belum d coba memang nya?"


Tanya Asti


"Belum heheheh.!"


"Cobain dong.!"


Pinta Asti


Alice pun mencoba memakai pentopel dari Asti dan ternyata memang pas sekali.


"Sempurna.!"


Seru Asti.


"Makasih kak.!"


Ucap Alice.


"Kamu memakain cincin dan bross yang dari Purnama?"


Tanya Asti agak ragu


"Itu artinya kamu...?"


Tanya Asti meyakinkan.


"Iya kak, Alice akan coba membuka hati dan menjalani nya dengan baik.!"


Asti seketika memeluk Alice dan tersenyum bahagia.


"Akhirnya...selamat ya.!"


Ucap Asti


"Semua karena kakak, Alice sadar setelah kakak bicara semalam, terimakasih ya kak.!"


Ucap Alice.


"Aku pokonya seneng banget, tapi kenapa kamu menutupi bros dan cincin nya.?"


Tanya Asti.


"Cuman mau kasih kejutan aja heheh.!"


"Ohhhh ok, kalau gitu aku siap-siap dulu ya setelah itu kita ke rumah sakit.!"


Alice pun mengangguk.


Beberapa saat setelah Asti hampir selesai bersiap...


Tok...


tok...


tok...


"As elu udah siap belum?"


Dahlan memanggil Asti.


"Kak itu kayanya kak Dahlan yang di luar."


Alice memberi tahu Asti.


"Iya aku sebentar lagi keluar!"


Seru Asti berteriak kepada Dahlan.


"Ok gue sama Purnama nungguin nih sama Ibu juga.!"


"Ok lima menit lagi ya.!"


Seru Asti kembali sembari terkekeh, Asti bergegas mengambil baju gantinya yang semalam baru saja dibeli dipilihkan Dahlan.


Alice memperhatikan Asti sedari tadi hingga selesai memakai baju.


"Ada yang aneh ya sama aku?"


Tanya Asti.


"Enggak ko ka, memangnya kenapa?"


"Ko kamu ngeliatin aku begitu banget aku jadi mikir ada yang aneh kan sama aku."


Jelas Asti.


"Ohw maaf kak, Alice cuman senang ngeliatin orang dandan, heheh!"


Jawab Alice


"Tapi beneran gak ada yang aneh kan dari aku?"


Tanya Asti lagi.


"enggak ko kak, kakak cantik pake baju itu bersinar.!"


"Kamu berlebihan ah, dikira lampu kali bersinar ah hhahah.!"


seru Asti sembari tertawa.


"Ya udah yu kita keluar.!"


Ajak Asti kepada Alice.


Asti lebih dulu keluar,Dahlan tersenyum menatap Asti yang menggunakan baju pilihannya semalam, sementara Purnama yang tengah merasa deg-degan hatinya menunggu Alice keluar kamar, Purnama tampak lebih tampan dengan kacamata minus nya dan Kemeja berwarna Hitam yang di lipat beberapa lipatan bagian tangannya.


Alice keluar kemudian mengunci pintu kamar penginapannya, Purnama menatap tanpa berkedip.


"Subhanallah sempurna...!"


Tanpa Purnama sadari, Purnama berkata demikian.


"Udah ah elu ngedip entar batu pasir nyangkut tuh di mata hahhaha.!"


Usil Dahlan membuat Asti, Ibu kos dan Alice tersenyum lucu.


Purnama menatap ke arah kerudung Alice tak nampak Bros yang dibeli nya semalam terpasang, kemudian Purnama melirik jari-jari Alice namun jari jemari Alice di simpan di balik baju oleh Alice.


"Harapan ku terlalu berlebihan rupanya...!"


Ucap Purnama dalam hatinya.


Namun Purnama mencoba menyembunyikan kekecewaanya sembari tetap mencoba tersenyum.


"Ayo kita ke rumah sakit sekarang,?"


Tanya Ibu kos.


"Ayo bu, ksian juga orang tua Dewi sudah menunggu apalagi hari ini orang tua Juanda akan datang menjenguk Dewi, biar orang tua Dewi bisa istirahat dulu sebelum Orang tua Juanda datang.!"


Jelas Asti.


"Ok ayo kita jalan.!"


Seru Ibu kos.


Ibu kos berjalan sendiri di depan, di ikuti Asti dan Dahlan baru kemudian Alice yang berdiri di samping Purnama.


"Ayo kak.!"


Ajak Alice...


Purnama mengangguk sembari tersenyum...