Alice

Alice
25. Shop



Pukul 9 malam para member sudah siap latihan dan memutuskan untuk kembali kerumah untuk beristirahat. Alice pulang bersama Jin dan Jimin, Alice duduk disamping Jin yang sedang pokus mengemudi dan jimin duduk dibelakang dengan tenang sambil memainkan hand phone miliknya. 


"Aku ingin membeli sesuatu sebentar di Super Market, apa kau ingin membeli sesuatu Angel? " Tanya Jin memarkirkan mobil didepan Super market.


Alice menggeleng dengan tatapan datarnya mengadap jendela.


"Baiklah kalau begitu kau tunggu sebentar disini, aku akan pergi bersama Jimin" kata Jin 


Alice mengangguk tanda mengerti 


"Ayo Jimin" ajak Jin 


"Ayo" jawab Jimin sambil keluar dari mobil 


Jin dan Jimin pergi meninggalkan Alice berlalu pergi mendekati Super Market.  Belum lama mereka pergi kemudian terdengar suara deringan ponsel milik Alice dari tas kecilnya dia pun dengan cepat menatap nama yang menelponnya 'ayah' dan segera mengangkatnya.  


"Halo" kata orang dari seberang sana 


Alice seketika teringat sesuatu sebelum menjawab telpon dari seberang. Mobil para member BTS semua dilengkapi dengan alat perekam dengan langkah cepat Alice keluar dari mobil dan pergi agak jauh dari mobil untuk menelpon.


"Halo" kata orang dari seberang telepon lagi 


"Iya ayah" jawab Alice 


"Apa kemarin Arthfael datang kesana? " Tanya pimpinan mafia ayahnya itu 


"Iya " jawab Alice singkat 


"Jika dia datang sekali lagi kesana maka tangkap dia, aku sangat geram padanya, tangkap dia aku akan menyiksanya dengan tanpa ampun jangan sampai dia menggagalkan rencana kita" kata pimpinan Mafia  geram seolah olah Arthfael seperti bukan anaknya.  


 Mendengar hal itu Alice tentu terkejut, belum lama ini dia baru mulai menyadari bahwa dirinya mempunyai perasaan terhadap Arthfael bagaimana bisa dia menyerahkan orang yang dia cinta untuk disiksa.


Disisi lain dia sejenak berpikir bukankan Arthfael anak kandung dari pimpinan apakah tidak ada keringanan meski hanya sekedar mengurangi hukuman-nya saja, terlebih Arthfael sedang mengalami gangguan jantung, apa salahnya membiarkan kesalahan kali ini bukan?.


Dia terdiam sekejap  memikirkan banyaknya kemungkinan yang bisa dijadikan alasan untuk membantu menyelamatkan Arthfael tapi dia belum bisa menemukan titik terang dari masalah ini, hingga lamunannya buyar ketika ada seorang pria mabuk entah dari mana datangnya mendekati dirinya dengan langkah gontai.


"Apa kau mendengarku? " Tanya ayahnya kembali.


"Baik ayah" kata Alice dan menutup teleponnya tanpa basa-basi.


Alice masih hanyut dalam lamunan dia belum bisa terima dengan apa yang barusan didengarnya. Tanpa dia sadari seorang pria yang mabuk tadi sudah berada tepat berdiri dihadapannya.


Semerbak bau alkohol tercium dari tubuh pria itu, sungguh sangat menyayat hidung.


Dengan langkah gontai pria itu perlahan mendekati Alice dengan tatapan mesum-nya melirik Alice dari atas ke bawah tanpa henti, melihat Alice hanya terdiam dan tidak menghindar darinya. Membuat dirinya semakin berani untuk berbuat jauh.


"Lepaskan tanganmu" kata Alice datar dengan tatapan elang nya  setelah tersadar dari lamunannya karna pria mabuk yang berdiri tepat dihadapannya, tanpa menepis sama sekali tangan pemabuk itu dari paha-nya cantiknya.


"Kau sangat cantik…"  Dengan tangannya yang terus menelusuri paha Alice yang semakin kedalam sana


"Apa kau mau bermain denganku? " Tanya nya dengan suara menderu karna nafsu


"Pergi" Ucap Alice sekali lagi


"Aku akan membayarmu dengan bayaran yang tinggg" katanya terputus 


Terdengar suara rintihan kesakitan dari pria itu yang menahan sakit sambil memegang tekuk kepalanya


"Kau tidak mendengarkan ku" kata Alice


"kurasa ini yang kau inginkan" menatap pria itu dan Alice langsung menginjak dada lelaki itu dengan kakinya kemudian menendang-nendang kepala pria itu tanpa ampun hingga mengeluarkan darah segar dari hidung dan mulutnya.


"Akhhhh M-maaf" Rintih-nya sambil memegang kaki Alice didadanya 


"Maaf?" Alice memandang rendah ke pria yang masih tergeletak diatas tanah sembari menekan dengan keras dada pria itu dengan kaki-nya.


"I-iya ampun" kata pria itu dengan napas yang tidak peraturan menahan sakit


"Tentu" kata Alice tersenyum sinis dan mengeluarkan sebuah pistol dari dalam bajunya mengarahkan kekepala pria itu.  


Lelaki itu semakin menatap Alice takut karna pistol yang diarahkan padanya. 


"Angellll" suara Jimin berteriak dari depan market bergegas mendekati Alice dengan dua bungkus kantong plastic yang masih berada  dikedua tangannya.


Alice menatap Jimin dengan kaki yang masih berada didada pria itu dan pistol yang masih dia sodorkan ke-kepala pria itu.


"Apa yang kau lakukan " kata Jimin mendekati Alice dengan perasaan terkejut.


"Ini" kata Alice menginjak kembali lebih keras dada pria itu dan menendangnya beberapa kali dihadapan Jimin tanpa ampun.


"Lepaskan dia" kata Jimin melihat apa yang dilakukan oleh Angel yang terus menerus menendang- nendang wajah pria itu tanpa ampun, darah segar semakin deras bercucuran dari wajahnya hingga mengenai sepatu putih Alice.


 Jimin menjatuhkan kedua plastic yang ada ditangannya dengan segera dia menarik Alice agar mundur dengan sekuat tenaga-nya Alice memandang Jimin geram.


"Kemarikan" kata Alice memandang tajam Jimin ketika jimin mengambil paksa pistol dari tangannya


"Kau tidak seharusnya melakukan itu. Kita bisa mendapat masalah lagi" jelas Jimin tanpa memberikan pistol milik Alice 


"Pikirkan juga reputasi kami" tambahnya berusaha menyadarkan Alice yang masih dikuasai rasa amarah yang membara.


Alice menutup matanya kesal tidak percaya dengan situasi ini dimana dia harus menahan dan tetap menjaga reputasi BTS, Alice menghembuskan napasnya berat dan kembali memandang lelaki yang masih terlentang dibawah kakinya.


Dengan tatapan amarahnya Alice langsung menendang keras kepala pria itu sampai berdarah sebagai tanda, kamu aman sekarang, dia berlalu meninggalakan Jimin dan pria itu dengan tatapan kesal dan segera kembali kedalam mobil.


Jin yang baru saja keluar dari market bergegas mendekati Jimin yang sedang sibuk membantu seorang pria untuk berdiri. 


"Apa kau tidak apa apa ahjussi? "  Tanya Jimin membantu berdiri 


"Tidak apa-apa" kata pria itu berusaha menopang tubuhnya


"Terima kasih" katanya membungkuk dan berlalu perlahan sambil menyeret tubuhnya paksa agar segera pergi dari tempat itu.


"Apa yang sedang kau lakukan? " Tanya Jin mendekat


"Dia kenapa? " Tanya Jin dengan muka yang penuh tanda tanya menunjuk pria yang susah payah berjalan itu.


Jimin menceritakan kejadian tadi dengan seksama pada Jin. Jin memasang muka kaget nya  tanda tidak percaya.


Setelah bercerita panjang lebar mereka memutuskan untuk pulang dan tidak memulai percakapan dengan Alice selama dalam perjalanan pulang didalam mobil. Hingga, sampai dirumah karna mereka khawatir Alice masih emosi dan melampiaskan amarahnya pada mereka.