Alice

Alice
Bagian 148



Dua jam kemudian, Dahlan dan Asti sampai di rumah sakit.


"Gimana Alice sekarang?"


Tanya Dahlan.


"Kalian coba masuk ke dalam!"


Jawab Topan.


Dahlan dan Asti masuk kedalam.


"Assalamuallaikum, Alhamdulillah Alice sudah sadar?"


Tanya Asti berbasa basi.


"Wa allaikumus sallam, eh ada Neng Asti sama Aa Dahlan, Iya Alhamdulillah Neng sudah sadar sekarang mah.!"


Jawab Ibu Alice.


"Ayo Bu kita keluar dulu, kalau banyakan di dalam takutnya Alice merasa sumpek, kami keluar dulu ya Neng, Aa.!"


Ucap Bapak Alice sembari keluar dari kamar rawat Alice.


Setelah orang tua Alice keluar, Dahlan dan Asti duduk di kursi di samping tempat tidur Alice.


"Gimana sekarang perasaan kamu Lice?"


Tanya Asti.


"Alhamdulillah, maaf sudah membuat kalian semua cemas kak!"


Ucap Alice.


"Gak boleh ngomong gitu elu itu adiknya kita berdua wajar jika gue sama Asti ngurusin elo karena udah jadi kewajiban seorang kakak ngerawat adiknya yang sakit, begitu juga sebaliknya.!"


Ucap Dahlan memotong pembicaraan Asti dan Alice.


"Makasih banyak kak!"


Jawab Alice tersenyum.


"Kamu sudah merasa lebih baik?"


Tanya Asti lagi


Alice mengangguk perlahan.


"Kak.!"


Ucap Alice perlahan.


"Kenapa, kamu mau sesuatu?"


Taya Asti kepada Alice.


Alice menggeleng perlahan.


"Lalu ada apa?"


Tanya Asti lagi.


"Kemana kak Purnama?"


Tanya Alice.


Asti menghela napas kemudian menatap Dahlan.


"Purnama terpaksa harus pergi lebih cepat, semua demi kebaikan elo juga Lice, gue yakin elo percaya setiap yang Purnama selalu lakuin sejauh ini adalah yang terbaik buat elo.!"


Ucap Dahlan dengan gamblang.


Alice terdiam tanpa ekspresi.


"Kamu jangan terlalu memikirkan Purnama, ingat janji kalian, kamu juga harus cepat sembuh supaya bisa melanjutkan sekolah lagi.!"


Seru Asti menyemangati Alice.


"Alice bermimpi kak Purnama berpamitan sembari menangis, di dalam mimpi itu Alice pun ikut menangis, sesak rasanya semua seolah-olah nyata, sampai saat Alice bangun Alice masih berharap semua itu hanya sebatas mimpi.!"


Ucap Alice kepada Asti dan Dahlan.


"Itu kenyataan, dan itu mesti loe terima Lice, kalian berpisah bukan buat selamanya, sementara saja, tugas kamu sekarang harus cepat sembuh kembali ceria gak perlu mikir yang macam-macam, Purnama di sana lagi berjuang demi hubungan kalian, gue harap elu juga disini melakukan hal yang sama bukan malah menyerah pada keadaan.!"


Ucap Dahlan tegas.


"Lice besok kamu sudah akan kemoterapi, kamu harus fokus untuk sembuh.!"


Ucap Asti kepada Alice.


"Bagaimana bisa saya kemo kak, memangnya kenapa sama saya sampai saya harus kemo?"


Tanya Alice


Dahlan dan Asti kaget mendengar pertanyaan Alice, Dahlan dan Asti berpikir jika Alice sudah tahu kondisinya dari orang tuanya, tapi ternyata belum.


"Apa orang tua elo gak cerita?"


Tanya Dahlan kepada Alice.


Tiba-tiba Topan masuk membawakan parsel buah-buahan ke ruangan Alice.


"Assalamualaikum.!"


Ucap Topan sembari tersenyum menatap Alice.


"Wa allaikumus sallam.!"


Jawab Asti dan Dahlan.


"Wa allikumus sallam..."


Jawab Alice Pelan.


"Ini kakak bawain kamu buah-buahan siapa tahu kamu pengen makan yang seger-seger, kamu mau yang mana biar kakak kupasin."


Ucap Topan menawarkan kepada Alice.


"Enggak dulu kak makasih!"


Seru Alice perlahan


"Kakak disini juga?"


Tanya Alice kepada Topan pelan.


"Iya dia disini sejak kamu masuk rumah sakit Lice!"


Jawab Asti tanpa memberi Topan kesempatan untuk menjawab.


"Makasih kak!"


Ucap Alice.


"Sama-sama.!"


Jawab Topan cepat.


"Kenapa aku harus kemo?"


Tanya Alice lagi


Topan langsung bengong mendengar pertanyaan Alice.


"Jadi gini, untuk menghentikan penyebaran leukimia kamu, salah satu caranya adalah dengan kemo.!"


Ucap Asti mencoba menjelaskan namun dengan bahasa yang halus.


"Apa separah itu kak?"


Tanya Alice lagi pelan.


Astu tertegun.


"Alice, setiap umat yang sakit maka Allah sertakan pula obat nya, tapi kita sebagai umatnya juga harus berusaha dan berikhtiar untuk mendapatkan obat tersebut, nah sakitnya kamu ini, salah satu jalan penyembuhannya adalah dengan Kemo, jadi kamu harus menjalaninya ya.!"


Ucap Topan mencoba menjelaskan dengan kata-kata yang bisa membuat Alice lebih tenang.


Asti dan Dahlan tersenyum mendengar ucapan Topan.


"Gue gak nyangka di balik kekerasan kepala elo, tapi elo memiliki sipat yang hampir sama dengan Purnama."


Ucap Dahlan dalam hatinya sembari menatap Topan.


"Kamu mau kan?"


Tanya Asti kepada Alice.


Alice mengangguk perlahan.


"Alhamdulillah.!"


Ucap Topan, Asti dan Dahlan bersamaan.


"Nah sekarang kamu makan buah dulu ya, biar besok seger badannya!"


Ucap Topan sembari mengambilkan Jeruk dan mengupas kulitnya, sementara Asti dan Dahlan membantu Alice untuk sedikit bersandar di ranjang rawatnya.


Sementara di tempat lain,Mamah Purnama tengah sibuk memikirkan cara untuk membuat Alice dan Purnama benar-benar berpisah.


"Aaaa aku baru ingat, Pak Mamat!"


Panggil mamah Purnama kepada Supirnya.


"Iya nyonya, ada yang harus saya lakukan?"


Tanya Pak Mamat kepada majikannya.


"Culik anak laki-laki yang mengaku pacarnya Alice di rumah sakit tadi!"


Ucap Mamah Purnama kepada sopirnya.


Pak Mamat terhenyak kaget mendengar perintah dari majikannya, melihat reaksi supirnya yang hanya terdiam Mamah Purnama langsung kesal.


"Denger gak apa yang saya katakan!"


Ucap Mamah Purnama sembari menatap ke arah Pak Mamat.


"I...iya nya, ta.. tapi... bagaimana bisa.!"


Seru Pak Mamat penuh keragu-raguan.


Ayah Purnama yang baru saja berniat turun tangga, mendengar ucapan Istrinya langsung mengehentikan langkahnya.


"Kalau kamu tidak bersedia, silahkan pergi dan keluar dari rumah ini, dan jangan pernah kembali, tapi ingat bayar lunas semua hutang-hutang kamu hari ini juga!"


Ancam mamah Purnama.


"Bagaimana bisa saya membayar hutang-hutang saya nya, sedangkan sudah hampir satu tahun ini gaji saya tidak pernah nyonya berikan."


Keluh Pak Mamat.


"Oh kamu lupa atau pura-pura lupa, berapa hutang kamu ke saya bekas pengobatan istri kamu yang sakit itu, gajih kamu selama satu tahun itu gak ada apa-apanya!"


Ucap Mamah Purnama murka.


"Astagfirullah.!"


Ucap Pak Mamat sembari mengelus dada dan menunduk.


"kenapa kamu tidak bisa kan membayar lunas hutang-hutang kamu!"


Ucap Mamah Purnama.


"Tidak ada tawar menawar lagi, pergi dan lakukan malam ini juga, bawa anak laki-laki itu ketemu saya malam ini, saya tidak mau tahu!"


Ucap Mamah Purnama tegas.


Kemudian pergi meninggalkan pak Mamat dengan menaiki tangga.


Papah Purnama yang melihat istrinya menaiki tangga terburu-buru pergi dari tangga dan pura-pura tidak mendengar apa-apa.


"Siapa anak laki-laki yang mengaku pacar Alice itu?, tapi siapapun anak itu, yang jelas dia pasti dalam bahaya, apa yang harus aku lakukan sekarang?"


Ucap Papah Purnama didalam hatinya.


Papah Purnama pura-pura keluar kamar saat mendengar langkah kaki istrinya mulai mendekati kamar.


Saat Papah Purnama membuka Pintu benar saya di balik pintu istrinya baru saja akan menyentuh handle pintu.