
"Saya sudah menunggunya selama ini om, tante, setidaknya beri saya kepastian tentang kak Purnama om, tante saya mohon, supaya saya tidak lagi hidup dalam penantian!"
Ucap Alice lagi.
"Sudah saya katakan jauhi anak saya, dia menjadikan kamu pacar saat itu hanya untuk main-main saja!"
Ucap Mamah Purnama memperkeruh keadaan.
"Mah sudah mah sudah!"
Ucap Papah Purnama.
"Gak bisa pah, biar anak ini paham kenyataan yang selama ini dia tahu tapi dia sembunyikan dari dirinya sendiri!"
Seru Mamah Purnama lagi.
"Mah!, itu bukan kenyataan tapi hanya halusinasi mamah, masih belum cukup semua yang kita alami ini memberikan mamah sebuah pelajaran?!"
Ucap Papah Purnama mulai angkat bicara.
"Puas kamu sekarang!, lihat kedatangan kamu hanya jadi alasan dari pertengkaran rumah tangga saya dan kehancuran kehidupan keluarga saya, pergi kamu dari sini dan jangan pernah kembali lagi!!!"
Ucap Mamah Purnama mengusir Alice.
Topan yang mendengar jelas perkataan itu mulai merasa geram, napsu di hatinya menggebu ingin sekali masuk kedalam dan menyelamatkan kehormatan Alice yang tengah di hina oleh Ibu Purnama, namun sekuat hati dia menahan amarahnya demi menghargai perasaan Alice.
Mamah Purnama bangkit dari duduknya berjalan meninggalkan Alice yang tadi menyentuh lututnya.
"Ingat ini, Purnama sudah bahagia dengan perempuan lain, cukup sampai disini kamu menghancurkan setiap keping kebahagiaan keluarga saya, pergi dan jangan pernah kembali apalagi membawa harapan, birkan anak saya bahagia dengan pilihannya.!"
Seru Mamah Purnama sembari membelakangi Alice kemudian masuk kedalam kamar dan membanting pintu.
"Astagfirullah... Om, apa benar apa yang dikatakan tante?"
Tanya Alice merengek kepada Papah Purnama.
Papah Purnama tak memberi kepastian.
"Om tolong jawab saya, dimana Kak Purnama sekarang, jika memang benar apa yang tante ucapkan saya janji ini terakhir kalinya saya datang kesini!"
Ucap Alice memaksa.
"Lanjutkan saja hidup kamu, saya sudah pernah mengatakan itu, jangan mengharapkan sesuatu yang tidak pasti, kamu juga berhak bahagia!"
Ucap Papah Purnama.
"Apa om, jadi benar apa yang dikatakan tante tadi?!"
Tanya Alice lagi.
"Pergi segera kamu!"
Teriak mamah Purnama dari dalam kamar.
Papah Purnama membantu Alice berdiri dan membawanya keluar dari rumah.
"Nak, berhentilah menunggu, lanjutkan hidup kamu!"
Ucap Papah Purnama lagi.
Alice dengan air matanya yang ta dapat di bendung berjalan perlahan keluar dari rumah Purnama.
Tangisnya pecah saat sampai di halaman rumah Purnama, Papah Purnama pun menutup pintu rumahnya setelah memastikan Alice keluar dari rumahnya.
"Maafkan saya nak, jangankan kamu saya pun sebagai orang tuanya tidak tahu anak saya dimana, tapi sungguh akan jadi lebih baik jika kamu melanjutkan hidup kamu tanpa menunggu-nunggu kedatangan Purnama, setidaknya rasa bersalah saya terhadap kamu bisa sedikit berkurang.!"
Seru Papah Purnama dalam hatinya sembari mengintip Alice dari balik hordeng.
Diluar hujan mulai turun gemericik, Topan tak kuasa melihat pemandangan yang memilukan tersebut, Topan mendatangi Alice dengan menggunakan jas sebagai penutup kepala, Topan berlari dan memayungi Alice menggunakan jas nya.
Setelah di dalam mobil tanpa bertanya-tanya Topan hanya mulai menyalakan mesin mobilnya, sementara Alice masih dalam tangisannya.
"Tak perlu sungkan, menangis saja sepuasnya, luapkan semua kekecewaan kamu saat ini!"
Ucap Topan kepada Alice, Topan sengaja menyimpan tisu di dashboar mobilnya dekat Alice.
Alice menangis tersendu-sendu, tak sanggup lagi membendung air matanya Alice mulai histeris membuang lukanya.
"Kenapa kak, kenapa!, kenapa di saat disini saya setia menanti kepulangan kamu, justru kamu malah memilih pergi dan menghilang bagaikan di telan bumi,, kenapa kak Kenapa!"
Seru Alice sembari menangis.
Tanpa disadari Topan pun menitikan air mata di barengi oleh gemericik hujan yang mulai lebat jatuh membasahi mobil.
"Untuk apa semua janji-janji itu, jika pada akhirnya kamu yang pergi dari saya dan lebih dulu mengingkarinya!"
Ucap Alice lagi.
Topan menghapus air matanya, hatinya terasa sakit ketika melihat Alice orang yang paling di kasihinya terluka oleh orang lain.
Topan mengelus kepala Alice kemudian membuat Alice bersandar di pundaknya, kemudian mengelusnya lembut.
"Sabar mungkin ini ujian dari Allah, sabar ikhlas jangan berontak cukup syukuri in shaa Allah hikmahnya besar."
Ucap Topan mencoba menghibur.
"Sudah malam sebaiknya aku antar kamu pulang ya.!"
Seru Topan kepada Alice.
Topan mulai melajukan mobilnya menuju kosan Alice, meski hatinya ingin kembali ke rumah orang tua Purnama dan menghakimi mereka namun Topan tak akan kuasa menerima akibat dari perbuatannya jika sampai semua benar terjadi.
Sesampainya di kosan Alice, Topan membukakan pintu mobil untuk Alice.
"Kamu istirahat ya, jangan terlalu banyak pikiran, aku antar kamu sampai disini saja, lagian ini sudah malam!"
Seru Topan kemudian membiarkan Alice pergi tanpa berkata sepatah katapun.
Topan memandang Alice yang perlahan mulai menjauh dari dirinya, setelah Alice hilang dari pandangan matanya Topan masuk kembali ke dalam mobil untuk bergegas pulang.
Sepanjang perjalanan pulang Topan mengepalkan tangannya beberapa kali masih merasa dongkol karena perlakuan keluarga Purnama terhadap Alice, sementara Alice hanya melemparkan tas nya ke arah tak beraturan kemudian menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur dan kembali menangis sejadi-jadinya.
Sampai Akhirnya Alice tertidur namun kembali terjaga di tengah malam.
Alice memutuskan untuk shalat tahajud, saat dikamar mandi Alice menatap wajahnya di kaca,matanya mulai sembab.
"Berapa banyak lgi air mata yang harus aku tumpahkan kak, dulu setetes saja air mataku keluar kamu langsung menghapusnya tapi sekarang meskipun air mataku tumpah kamu tak lagi ada untuk menyekanya, malah saat ini kamu adalah alasan dari air mataku ini kak!"
Seru Alice di dalam hatinya sembari membasuh wajahnya.
Alice menjalankan shalat tahajud memohon ketenangan dan jalan keluar yang terbaik dari Allah bagi hidupnya.
entah kenapa usai shalat Alice justru mengenang semua kebaikan Topan terhadapnya selama ini.
"Ya Allah apa benar aku harus mulai melanjutkan hidup dan membuka hati untuk orang lain, tapi bagaimana jika akhir kisahnya justru akan seperti ini lagi, bukankah itu berarti aku akan terluka lagi?"
Ucap Alice kepada dirinya sendiri.
Alice berjalan kearah jendela menatap keluar jendela di luar nampak sudah tak ada hujan yang turun yang tersisa hanya dedaunan yang basah sisa percikan air hujan tadi.
"Haruskah?!"
Ucap Alice lagi.
"Semua ini terlalu membingungkan bagi saya kak, tapi apa selamanya saya juga harus tetap hidup dalam penantian jika faktanya keluarga kakak tidak pernah menyetujui hubungan kita.!"
Ucap Alice sembari masih menatap keluar jendela...