
Purnama dan Dahlan memasuki sebuah mini market, kemudian Purnama mengambil keranjang.
"Mau borong?, bawa keranjang segala?"
Tanya Dahlan kepada Purnama.
"Sengaja aja, aku gak bawa apa-apa kan dari luar negeri ya itung-itung oleh-oleh buat orang rumah aja!"
Jawab Purnama simple.
"Kalau mau apa-apa ambil aja, biar nanti aku bayar, sekalian buat Asti juga beliin apa gitu!"
Ucap Purnama lagi.
"Thanks bro, masih sebaik dulu ya elo hahha!"
Jawab Dahlan tertawa, Purnama hanya menggelengkan kepala sembari tersenyum, Usai berbelanjan Purnama dan Dahlan menuju meja kasir.
"Mas tolong hitungkan!
Pinta Purnama kepada seorang laki-laki yang berdiri di meja kasir.
"Sebentar ya pak, saya panggilkan kasirnya dulu!"
Ucap laki-laki tersebut, sembari jalan menuju sebuah pintu sepertinya di dalam sana adalah penyimpanan stok barang.
"Lice!, kasir!"
Panggil laki-laki tersebut, hati Purnama tersentak ketika mendengar kata Lice, namun mencoba menepiskan.
"Ah tidak mungkin, pasti cuman sama namanya saja!"
Seru Purnama dalam hatinya.
"Iya pak!"
Jawab seorang perempuan dari dalam sana, hati Purnama semakin bergejolak tak karuan setelah mendengar suara tersebut, kemudian Purnama menatap wajah Dahlan, tapi Dahlan masih belum mengerti apa arti dari tatapan Purnama. Seorang Perempuan keluar dari dalam ruangan itu menuju meja kasir, Dahlan yang tengah menghadap ke arah perempuan itu pun kaget melihat yang keluar dari sana adalah Alice, Purnama melihat ekspresi wajah Dahlan yang berubah.
"Loh kak Dahlan ternyata!"
Sapa Perempuan itu kepada Dahlan, Purnama semakin deg-degan mendengar perempuan itu menyapa Dahlan.
"Alice!"
Ucap Dahlan sembari masih melotot ke arah Alice, Alice yang masih belum sadar siapa orang di hadapan Dahlan yang tengah membelakanginya tanpa segan menuju meja kasir dan berdiri di hadapan Dahlan.
Perlahan Purnama berbalik badan dan memberanikan diri menatap perempuan yang tak Asing nama dan suaranya, Saat Purnama menatap tepat ke wajah Alice, senyum Alice Perlahan memudar dan berubah menjadi tatapan penuh kebingungan dan rasa kaget, Alice menutup mulutnya yang ingin berteriak, kemudian keluar dari meja kasir berlari menghampiri Purnama tanpa segan Alice menubrukan tubuhnya ke tubuh Purnama, memeluk Purnama erat sembari menangis, Dahlan dan laki-laki yang bersama Alice di meja kasir hanya memandang kaget tanpa berkata apa-apa. Alice masih menangis dalam tubuh Purnama, namun tangan Purnama tak bergerak sedikitpun, ada rasa sungkan saat Purnama mengingat Alice kini sudah tunangan orang, Purnama melepaskan Alice dari memeluk Tubuhnya.
"Kak kakak kemana aja, kenapa baru sekarang kakak kembali?"
Tanya Alice sembari masih menangis.
"Maaf, tapi selamat ya sekarang kamu sudah tunangan, jangan lupa undangannya.!"
Ucap Purnama sembari mencoba tersenyum.
"Apa maksud kakak?"
Tanya Alice.
"Kakak tidak rindu sama saya?"
Tanya Alice lagi.
"Lan kayanya aku udah gak perlu barang-barang ini lagi, aku duluan, kamu bayar aja barang-barang kamu, ini dompet ku!"
Ucap Purnama sembari memberikan dompetnya kepada Dahlan dan bergegas keluar dari mini market memasuki mobil Dahlan.
"Kak!"
Seru Alice berniat mengejar Purnama, namun Dahlan menghalanginya.
"Kenapa kak?"
Tanya Alice kepada Dahlan.
"Jangan sekarang, Purnama tahu kamu sekarang Milik orang lain!"
Ucap Dahlan kepada Alice.
"Apa?!, milik orang lain?!"
Tanya Alice kesal.
Tanya Alice lagi.
"Purnama tahu Kamu tunangan sama Topan!"
Jawab Dahlan tegas, Alice tercengang dan tertegun kemudian menunduk.
"Semua itu salah paham kak!"
Ucap Alice lemas.
"Apa maksud kamu?"
Tanya Dahlan.
"Ceritanya Panjang kak!"
Jawab Alice.
"Kamu harus menjelaskan semuanya sekarang juga!"
Seru Dahlan lagi, sembari menarik tangan Alice keluar mini market menuju mobil.
"Sekarang kamu ikut kami, kamu ceritakan semuanya supaya tidak akan ada lagi kesalah pahaman.!"
Ucap Dahlan sembari membukakan pintu mobil.
"Apa-apaan ini?"
Tanya Purnama saat Dahlan memasuki mobil.
"Ada yang harus kita luruskan disini, yang jelas gue gak faham masalahnya dimana tapi kita harus menyelesaikannya hari ini juga;"
Ucap Dahlan sembari tancap gas kembali ke rumah nya, selama dalam perjalanan Purnama yang duduk di kursi depan di samping Dahlan dan Alice di belakang, tak sedikitpun Purnama berkata-kata, begitu juga dengan Alice hanya menunduk kaku, seakan-akan semua berubah total.
Sesampainya di halaman rumah, Astu datang keluar menyambut kepulangan suaminya, namun justru tertegun ketika melihat Alice dan Purnama ikut turun dari mobil yang di bawa suaminya.
"Ayo masuk!"
Ajak Dahlan kepada Purnama sembari menggandeng Purnama, Dahlan memberikan kode kepada Istrinya supaya membawa Alice masuk juga, Astipun mengangguk kemudian menghampiri Alice.
"Ada apa ini?, ayo kita masuk!"
Seru Asti sembari menarik tangan Alice, Alice tanpa menjawab pertanyaan Asti mengikuti tarikan tangan Asti memasuki rumah Dahlan dan Asti, sesampainya di dalam ruang tamu, Asti mengajak Alice duduk di sampingnya berhadapan dengan Purnama dan Dahlan, sedikitpun Purnama tak mampu mengangkat kepalanya karena merasa sangat kecewa namun berusaha tetap mampu mengendalikan suasana.
Semua Terdiam, sampai akhirnya Purnama bertanya kepada Alice.
"Kamu apa kabar?"
Tanya Purnama.
Alice menatap dalam kepada Purnama, air matanya kembali berlinang kemudian tersenyum dan mengangguk.
"Ba... ba... baik kak.!"
Jawab Alice terbata.
"Syukurlah, maaf ya aku pergi tanpa pesan dan datang tanpa memberi kesan heheh!"
Ucap Purnama lagi mencoba tersenyum. Alice menggelengkan kepala sembari terus menyeka air mata yang mulai bercucuran. Dahlan menyentuh Pundak Purnama, mendapat sentuhan dari sahabatnya Purnama justru tak mampu lagi berpura-pura tegar, disisi lain ia sangat bahagia melihat orang yang paling dicintainya kini ada di hadapanya, namun disaat yang sama pula ia harus merasakan kekecewaan yang mendalam karena kini Alice telah menjadi milik pria lain. Air mata purnama mulai menetes ke lantai wajahnya ia tundukkan sedalam mungkin.
"Alice!, bicaralah apa maksud kamu dengan salah paham, bukankah kamu memang telah bersama Topan?"
Tanya Dahlan mencoba membantu sepasang kekasih ini. Alice menggeleng tak mampu berkata, Asti mencoba menenangkan Alice dengan mengelus-elus punggung Alice.
"Ini ada apa, coba ceritakan Lice, aku sungguh tak memahami apa yang sebenarnya tengah terjadi!"
Seru Asti kepada Alice.
"Kamu minum dulu, ini diminum dulu, supaya bisa lebih tenang!"
Seru Asti sembari menyodorkan segelas air putih kepada Alice, Alice menerimanya dengan tangan gemetar kemudian meminumnya perlahan.
"Sekarang coba kamu tarik napas perlahan kemudian hembuskan perlahan pula!"
Seru Asti kepada Alice, sembari mengambil gelas dari tangan Alice dan menyimpannya kembali ke meja. Alice mengikuti saran Asti perlahan dia menarik napas dan menghembuskan nya, kemudian Asti memberikan tisu kepada Alice untuk menyeka air matanya
"Bagaimana sudah lebih baik?"
Tanya Asti kepada Alice. Alice mengangguk perlahan.