Alice

Alice
Bagian 75



"Ya udah lah ya, yang jelas ini hari terakhir kita disini, besok kita mesti balik lagi ke rumah dan lusa mulai sekolah, gue gak mau gak lulus cuman gara-gara ngurusin hidup orang mulu.!"


Ucap Dahlan.


Purnama tidak bergeming dia tahu betul temannya Dahlan memang kerap bersikap demikian ketika kasih sayang dan kebaikkannya tidak mendapat penghargaan yang semestinya.


Purnama melanjutkan memasukan beberapa botol minuman ke dalam keranjang belanja yang dibawanya.


Purnama membawa keranjang tesebut ke kasir, dan membayar nya.


Sementara Dahlan lebih dulu keluar dan duduk di kursi depan mini market.


Usai membayar minum Purnama menghampiri Dahlan.


"Eh udah di bayar?"


Tanya Dahlan basa-basi.


"Nih.!"


Ucap Purnama seraya menyodorkan kertas dari kasir.


"Heheh, sory gue lupa maen keluar aja tadi."


Seru Dahlan.


"Udah tahu begitu mulu, kalau ngajakin aku aja udah pasti aku yang bayar.!"


Ucap Purnama sembari duduk di kursi di samping Dahlan.


Purnama menghela napas panjang.


"Kenapa elu?"


Tanya Dahlan.


"Entahlah yang jelas aku khawatir sama Alice, dia shok banget tadi pas kita tinggal.!"


Jawab Purnama.


"Gue kirain elu khawatir sama Dewi.!"


Seru Dahlan.


"Sebenarnya aku khawatir tadinya tapi sejak semalam orang tua si Juanda nelpon Asti, ya perasaan aku udah lebih tenang apalagi ngeliat mereka benar-benar datang lega banget perasaan aku.!"


Seru Purnama.


"Iya sih elu bener Pur setidaknya mereka bener-bener punya itikad baik, tadi aja gue denger ayah si Juanda panik banget sampai nyebut-nyebut bayi dalam kandungan Dewi itu cucu nya.!"


Ucap Dahlan.


"Lah itu, satu sisi aku bener-bener khawatir banget sama sikap Dewi yang nekat, tapi di sisi lain ada rasa tenang juga karena ngeliat keluarga si Juanda bener-bener ada niat bertanggung jawab Lan.!"


Jelas Purnama.


Dahlan pun mengangguk.


"Lantas apa yang elu khawatirin dari Alice?"


Tanya Dahlan.


"Ya kamu liat tadi dia gimana, shok banget Lan, terus terang aku khawatir banget sama kesehatan dia kalau dia terus menangis, aku takut dia down, dan sakit lagi.!"


Purnama menceritakan ke khawatirannya.


Dahlan mengangguk mendengar ucapan Purnama.


"Menurut gue sebaiknya kita buruan bawa Alice balik siapa tahu kalau dia sama temen-temen nya yang lain sedikit bisa lupain kodisi Dewi disini.!"


Usul Dahlan.


"Dia gak akan mau lan, dia tipe orang yang pemikir setidaknya harus ada kejelasan tentang kondisi Dewi dan keluarga si Juanda.!"


Terang Purnama.


"Ya udah coba elu bujuk dia lah, elu kan sama dia udah jadian, jadi setidaknya omongan elu bakal di denger sama dia.!"


Ucap Dahlan.


"Kamu tahu aku sama Alice udah jadian?, oh aku baru ingat, kan ada Asti yang selalu cerita sama kamu.!"


Seru Purnama.


"Kagak!, Cewek gue gak cerita apa-apa sama gue.!"


Ucap Dahlan lagi.


"Terus?"


Tanya Purnama


"Ya gue denger aja tadi beberapa kali elu sempet panggil dia sayang dan dia lebih deket ke elu dibanding hari-hari sebelumnya."


Jawab Dahlan.


Purnama hanya tersenyum.


"Ya udah deh ayo balik ke rumah sakit, gue bisa baca raut wajah elu tuh kepipiran sama Alice mulu.!"


Seru Dahlan sembari bangkit dari duduk nya.


Purnama pun tersenyum dan mengikuti Dahlan menuju ke rumah sakit.


Sementara di Rumah sakit, Doketer baru saja keluar dari dalam kamar rawat Dewi.


"Dokter bagaimana menantu dan cucu saya?"


Tanya Ibu Juanda


"Ibu keluarganya?"


Tanya Dokter.


"Iya dok Saya mertua nya.!"


Seru Ayah Juanda.


"Saya Ayah nya dok bagaimana anak saya?"


Tanya Ayah Dewi.


"Pasien sepertinya merasa tertekan dengan kondisinya sekarang, kami terpaksa harus menyuntikan pembius agar pasien tidak ngamuk lagi.!"


Jelas Dokter.


"Bagaimana dengan janin nya dok?"


Tanya Ayah Juanda.


Jawab Dokter.


"Alhamdulillah."


Ucap semua orang hampir berbarengan.


"Saya permisi.!"


Ucap Dokter sembari pergi meninggalkan kelurga Dewi.


"Terimakasih Dok.!"


Ucap Ayah Dewi.


"Alhamdulillah pak cucu kita selamat.!"


Ucap Ibu Juanda kepada suaminya.


"Saya Permisi mau menemui Anak saya dulu.!"


Ucap Ayah Dewi sembari masuk kedalam kamar rawat Dewi.


Semua orang mengangguk.


Setibanya di kamar rawat Dewi, nampak Dewi masih berada dalam pengaruh suntikan bius yang di berikan dokter.


Ayah Dewi menangis kemudian memegang tangan Dewi.


"Nak ayah mohon tetaplah bertahan hidup setidaknya sampai malaikat maut menjemput Ayah dan Ibu, jangn tinggalkan Ayah dan Ibu Nak, siapa yang akan menjaga Ayah dan Ibu jika kelak Ayah dan Ibu telah menua dan tak sanggup kemana-mana, Ayah mohon bertahanlah demi kami nak.!"


Seru Ayah Dewi sembari menangis.


"Jangan pernah mencoba pergi sebelum kami lebih dulu yang pergi, tetaplah hidup, biarkan anak ini hidup Ayah dan Ibu beserta keluarga Juanda akan merawatnya, jika kamu tidak sudi melihat anak ini kamu boleh pergi kemanapun semau kamu setelah melahirkan anak ini nak.!"


Ucap Ayah Dewi.


Ada air mata yang mengalir dari pelupuk mata Dewi yang tengah terpejam.


"Jangan menangis sayang, Ayah dan Ibu akan tetap sayang sama kamu, cepat sembuh supaya kita bisa cepat berkumpul kembali.!"


Pinta Ayah Dewi kepada anaknya.


Sementara di luar kamar rawat Dewi Dua orang Polisi mendatangi Rumah sakit berniat meminta kesaksian dari Dewi selaku korban.


"Selamat siang semuanya.!"


Ucap Seorang Polisi.


"Siang pak.!"


Jawab Ayah Juanda.


"Apa benar ini kamar saudari Dewi?"


Tanya Polisi lagi.


"Iya pak benar, tapi Dewi sedang tak sadarkan diri setelah percobaan bunuh dirinya tadi.!"


Jelas Ayah Juanda.


"Baiklah kami akan menunggu saudari Dewi sadar.!"


Ucap Polisi.


Ayah Juanda hanya mengangguk.


Dari luar terlihat Dahlan dan Purnama menghampiri kamar Dewi.


Purnama mengambil dua botol air minum kemudian memberikannya kepada Alice dan Ibu kos.


"Minum ini dulu!"


Ucap Purnama kepada Alice.


"Makasih nak Purnama."


Ucap Ibu kosan.


"Iya bu.!"


Jawab Purnama.


"Makasih kak.!"


Ucap Alice juga.


"Iya sayang sama-sama.!"


Jawab Purnama.


"Bagaimana kondisi Dewi sekarang?"


Tanya Purnama kepada Alice setengah berbisik.


"Alhamdulillah bayi nya selamat kak Dewi juga tidak apa-apa hanya sedikit tertekan kata dokter.!"


Jelas Alice.


"Alhamdulillah, syukurlah kalau memang demikian setidaknya kita akan tenang besok meninggalkan dia disini.!"


Seru Purnama.


"Apa besok kak?"


Tanya Alice kaget.


"Iya sayang, kakak akan melaksanakan ujian Praktik dan Ujian sekolah jadi kakak sama Dahlan dan Asti harus segera kembali kesekolah.!"


Jelas Purnama.


"Astagfirullah, ya sudah kakak sama yang lain sebaiknya cepat kembali kesekolah biar Alice sama Ibu disini sama yang lain."


Pinta Alice.


"Tapi sayang kakak gak akan tenang ninggalin kamu disini, sebaiknya kamu ikut kakak pulang, sama ibu juga.!"


Pinta Purnama.


Ibu kos yang mendengar hal tersebut ikut buka suara.


"Kalau memang sudah jelas bagaimana masa depan Dewi Ibu baru bisa pulang nak Pur, sebaiknya nak Pur dan yang lainnya pulanglah besok lebih dulu, Alice juga jangan terlalu lama disini, sayang sekolahnya akan tertinggal lama.!"


Jelas Ibu kos.


Mendengar perintah ibu kos Alice tidak bisa lagi mengelak hanya tertunduk kecewa.