
"Kakak boleh kan bertanya banyak hal tentang kamu?"
Tanya Iqbal kepada Desi
"Tentu boleh kak!"
Jawab Desi.
"Terimakasih heheh!"
Seru Iqbal lagi.
Sementara itu di meja Lain Dahlan dan Asti serta Purnama sedang mengumpulkan mental yang kuat untuk bisa mengutarakan rencana kepergian mereka bertiga.
"Pur bukannya ada yang mau elo bicarakan kepada Alice?!"
Ucap Dahlan mempersingkat waktu.
"Sudah mulai larut juga malam ini, bukankah lebih cepat bicara lebih baik?"
Tanya Asti
"Ada apa kak?"
Tanya Alice kepada Purnama sembari menatap mata Purnama.
Purnama meraih tangan Alice dan menggenggamnya dengan kedua tangannya.
"Sayang, maaf karena kakak sudah berbohong sama kamu.!"
Ucap Purnama memberanikan diri
"Berbohong?, bohong apa kak?"
Tanya Alice heran
"Sayang kamu harus janji kamu tidak akan marah sama kakak.!"
Pinta Purnama.
"Kakak sebesar apapun kesalahan kakak kalau memang kakak mau mengakui dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi Alice pasti akan memaafkan kakak.!"
Ucap Alice kepada Purnama sembari masih menatap mata Purnama yang duduk disampingnya.
"Terimakasih sayang terimakasih.!"
Jawab Purnama
"Sekarang coba kakak bilang sama Alice apa kebohongan kakak?!"
Seru Alice meminta
"Alice sayang, jujur kakak sudah memegang tiket kepergian kakak keluar negeri, mamah yang memberikannya kepada kakak satu hari yang lalu, kamu ingat pertanyaan kamu tadi siang?, dan jawaban kakak?"
Tanya Purnama merasa bersalah
Alice hanya mengangguk perlahan sembari menunduk.
Dada nya mulai terasa sesak apa yang di takutinya selama ini ternyata terjadi juga malam ini, malam yang tadinya Alice pikir akan jadi malam paling membahagiakan bagi setiap orang.
"Sayang sungguh kakak minta maaf, sehari setelah hari graduasi kakak harus segera berangkat ke luar negeri ke Australi, maaf juga karena kakak baru bisa bilang sekarang bahwa kakak ternyata harus sekolah di Australi sayang.!"
Seru Purnama sembari meneteskan air matanya.
Alice memberanikan diri mengangkat kepalanya setelah mendengar suara isakan kecil dari Purnama.
Alice menarik nafas kemudian menatap Purnama.
"Tidak jangan menangis disini kak, kalau kakak menangis maka hati Alice akan terasa lebih sakit.!"
Ucap Alice sembari menyeka air mata Purnama.
Asti dan Dahlan pun menunduk tak kuasa menahan air mata.
"Kak Coba lihat kenapa kak Purnama menangis?"
Tanya Desi kepada Iqbal dan Iqbal Pun melirik ke arah Purnama.
"Gak tahu Des, coba kita samperin mereka.!"
Ajak Iqbal kepada Desi
Sesampainya di meja Purnama Iqbal langsung ikut bergabung duduk kembali di sana bersama Desi.
"Ada apa?"
Tanya Iqbal kepada Dahlan.
Dahlan tak menjawab sedikitpun.
"Satu hal Lagi Lice Gue sama Asti juga minta maaf karena ternyata Gue sama Asti juga harus melanjutkan sekolah di Jepang, ini cita-cita gue sama Asti sejak lama dan sekarang Gue sama Asti punya kesempatan itu, sory bukan maksud gue mau ninggalin elu sendiri disini, sedikitpun gue sama Asti gak pernah ada niat begitu Lice, tapi Semua ini...!"
Ucap Dahlan tertahan karena merasa sesak melihat air mata Alice mulai berlinangan dipipinya.
Asti dan Desi pun merasa suasana menjadi teramat sangat memilukan.
Alice mulai merasakan sesak di dada nya, kepalanya mulai tertunduk dalam, tanpa di sadari siapapun darah mulai menetes keluar dari hidung Alice.
"Ini terlalu sulit bagi saya...!"
Ucap Alice sembari tetap menunduk menyembunyikan tetesan darah dari hidungnya.
Desi yang merasa suara Alice tak biasanya dan duduk dekat dengan Alice memperhatikan dengan seksama ke bawah lantai.
"Astagfirullah apa itu, kenapa warnanya seperti Darah.!"
Seru Desi dalam Hatinya, kemudian Desi membalikan tubuh Alice menghadap ke arah nya.
"Astagfirullah.!"
Ucap Desi
"Ayo cepat kita ke rumah sakit!"
Ajak Desi Histeris, tak ayal Teriakan Desi membuat perhatian semua pengunjung restoran tertuju kepada Meja Alice.
"Ya Allah sayang!"
Ucap Purnama kemudian membopong Alice.
"Siapin mobil cepat!"
Teriak Dahlan kepada Iqbal.
Dengan Spontan Iqbal berlari keluar sementara Desi dan Asti mengikuti Purnama yang tengah membopong Desi sembari menangis.
Dahlan menaruh uang di atas meja makan kemudian pergi berlari keluar mengikuti yang lain.
Dahlan pun duduk di depan di samping iqbal.
"Cepat Bal kita ke rumah sakit cepat.!"
Ucap Dahlan panik.
Iqbal pun langsung tancap gas dan melajukan mobil di atas kecepatan seratus delapan puluh.
"Sayang bangun sayang, kamu kenapa maafin kakak syng!"
Ucap Purnama menangis tak sanggup lagi membendung air matanya.
"Lice sadar Lice, ini aku Desi, kamu harus bertahan lice kamu gak boleh kayak gini!"
Ucap Desi menangis sejadi-jadinya.
Asti ketakutan melihat kondisi Alice yang tak berhenti mengeluarkan darah dari hidungnya.
"Jangan...men...angis...tak...perlu ..sedih.. kak, Alice... baik...baik... saja...!"
Ucap Alice terbata dengan suara parau.
"Jangan bicara dulu sayang kamu harus bertahan.!"
Ucap Purnama sembari memeluk Kepala Alice sehingga membuat baju kemeja berwarna Putih lengan pendek yang dikenakan Purnama telah berubah warna oleh darah Alice.
"Iqbal cepet bal.!"
Teriak Asti yang kepanikan dan ketakutan sendiri di kursi belakang.
Tanpa berkata apa-apa Iqbal hanya memacu mobilnya.
Perjalanan yang lumayan jauh ke arah rumah sakit membuat Alice tak sadarkan diri di pelukan Purnama.
Tak sedetik Pun Purnama melepaskan Alice dari pelukan dan Pangkuannya.
Hijab Alice mulai basah oleh air mata Purnama yang menetes tepat di atas kepala Alice.
Sesekali Purnama menciumi kepala Alice sembari terus menangiss.
"Sayang bertahan sayang, kita punya banyak mimpi yang harus kita wujudkan, kakak pergi untuk kembali kamu udah janji bakal nungguin kakak sayang, kamu gak boleh kayak gini!"
Ucap Purnama lagi.
Setiap Ucapan Purnama membuat semua orang merasa semakin Pilu.
"Lice gue mohon elo kuat dan bertahan, gue sama Asti janji bakal sering-sering nemuin elo, asal elo sehat Lice!"
Seru Dahlan dari kursi depan sembari melirik ke belakang.
Melihat Purnama yang terus memeluk Alice dan sesekali menyeka darah yang keluar dari hidung Alice menggunakan tisu.
"Kamu harus kuat sayang, kamu kuat kamu bisa!"
Seru Purnama lagi sembari kembali mencium kepala Alice.
Sesampainya di halaman rumah sakit Dahlan langsung keluar mobil tanpa menutup Pintu.
"Suster suster tolong suster cepat tolong teman saya!"
Teriak Dahlan kepada Susuter yang tengah berjaga suster pun berlari mengambil blangkar dan membawanya ke dekat mobil Purnama langsung membopongnya kembali setelah Pintu mobil di buka oleh Iqbal.
"Kak sini Iqbal bantu!"
Ucap Iqbal kepada Purnama yang kesulitan keluar mobil sembari membopong Alice.
"Gak perlu Bal, Aku gak bisa rela satu laki-laki pun menyentuhnya selain aku dan ayahnya!"
Seru Purnama sembari keluar dari mobil dan membopong Alice lalu menaruhnya di atas blangkar.
Para suster pun membawa blangkar Alice ke ruang ICU Purnama dan Asti serta Desi dan Iqbal berlari mengikuti Blangkar yang membawa Alice.
Tak sedetikpun Purnama melepaskan tangan Alice sembari tetap menangis.
"Sayang bertahan sayang kamu kuat sayang kamu bisa.!"
Seru Purnama
Sesampainya di ICU suster melarang Purnama dan yang lainnya masuk.
"Maaf silahkan tunggu diluar!"
Ucap seorang suster sembari menutup Pintu ICU.