
"Aku pulang!" seru Alice sesampainya di rumah.
Dia segera membuka pintu rumah. Membawa sekantong kresek belanjaan yang dititip oleh bibinya tadi.
"Kau dari mana saja, sih? Lama banget datangnya. Udah ditungguin juga!" omel Bibi Alice. Maya namanya.
Alice hanya diam. Menatap lekat-lekat kedua manik mata Maya.
"Hey!" Alice tersadar. "Kau dari mana
saja? Kenapa lama sekali pulang?" tanya Maya lagi.
"Maaf, bi, tadi-" ucap Alice terpotong.
"Udah! Gak usah banyak alasan. Pergi ke dapur sana. Banyak kerjaan!" ujar Maya. Dia segera pergi dari hadapan Alice sambil membawa kantong kresek yang dibawa Alice tadi.
Mau tak mau, Alice harus mengerjakan seluruh pekerjaan rumah. Begitu setiap hari. Dia bekerja bagai pembantu.
Bibinya memang tak pernah memperhatikannya. Maya selalu sibuk dengan dunianya. Semua uang yang dikirim orang tua Alice, diambil semua olehnya. Hanya uang sekolah saja yang diberikannya pada Alice.
----
'Huh' dengus Alice setelah selesai membereskan pekerjaan rumah.
Dia beranjak pergi ke kamarnya. Merebahkan badan di kasur sambil merentangkan tangannya.
"Itu apa, sih, tadi?" ujar Alice bingung. "Gak mungkin, kan, bibi..." ucap Alice. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
'Gak mungkin' batinnya
Alice tadi melihat Maya tertabrak mobil sepulang arisan bersama teman-temannya--ketika Alice menatap mata Maya!
"Oh, iya. Aku harus mempersiapkan buku untuk sekolah besok!" ujar Alice.
Besok adalah tahun ajaran baru. Alice baru saja masuk di SMA terkenal di kotanya. SMA Fidelya namanya. Berharap dia mendapat teman baik disana.
Alice pun segera bangun dari kasur lalu menju meja belajarnya.
"Dimana buku sejarahku?" tanya Alice sambil mencari-cari bukunya di meja belajar.
Dia berpikir sebentar. Mencoba mengingat-ingat dimana ia menaruh bukunya. "Oh, sepertinya di ruang keluarga saat aku membersihkan meja belajarku kemarin!" gumamnya.
Alice segera beranjak dari kamarnya menuju ruang keluarga.
Tak ada orang. Biasanya anak Maya menonton televisi disana. Tapi, hanya televisinya saja yang menyala.
"Seorang anak perempuan tewas terlindas kereta api di rel Ranley." ujar seorang reporter televisi. Siaran live itu menampakkan tubuh hancur seorang anak dan sebuah boneka disebelahnya.
Alice melongo dibuatnya. Walau tubuh anak itu hancur. Alice yakin bahwa itu adalah gadis kecil yang dilihatnya tadi. Dia tambah yakin karena boneka yang ada disana, juga ada dalam penglihatannya tadi.
Ada yang mengganjal di hati Alice. Menyesal. Dia menyesal membiarkan hal itu terjadi saat dia tahu gadis itu akan tertabrak rel.
'Maaf' gumamnya.
Alice mematikan televisi. Mengambil buku sejarahnya yang memang berada di ruang keluarga. Segera menuju kamarnya. Mengurung dirinya disana.
Entah kenapa Alice merasa bersalah tidak menolong gadis kecil itu.
"Sudahlah, itu takdir Tuhan!" gumam Alice menangkan dirinya.
****
'Kring, Kring, Kring'
Bunyi jam alarm membangunkan Alice dari tidurnya.
Alice segera bangun, merapikan tempat tidurnya, lalu mandi untuk berangkat sekolah.
-
Seselesainya bersiap-siap, Alice pergi ke dapur untuk sarapan.
Setelah sarapan dia pun segera berpamitan pada bibinya sebelum berangkat sekolah.
"Bi, Alice berangkat dulu, ya!" pamit Alice. Melihat bibinya sudah berdandan pagi sekali--tak seperti biasanya--Alice bertanya, "Bibi mau kemana?" tanya Alice.
Maya yang masih sibuk berbedak menatap sekilas Alice, "Arisan!" ketusnya.
Alice teringat penglihatannya kemarin. "Bibi. Nanti jangan pulang lewat Jalan Mercure, ya!" kata Alice.
"Tapi, bi. Jangan kesana..."
"Kenapa, sih?" tanya Maya kesal.
"Karena... Yang penting jangan , bi!" ujar Alice tak bisa mengatakan alasannya.
"Udah, ah. Kamu kenapa, sih, ngatur- ngatur!" kesal Maya. Dia segera mengambil tasnya dan beranjak pergi arisan.
"Tapi, Bi!"
"Ya, udah, iya!" sebal Maya. Alice lega mendengarnya.
Aluce pun segera berangkat sekolah dengan berjalan kaki, karena jarak sekolah dengan rumahnya tidak begitu jauh.
Dia menghabiskan beberapa menit untuk sampai ke sekolah barunya yang bisa dibilang cukup megah.
'Senangnya bisa sekolah disini' batinnya sambil melangkahkan kakinya ke sekolah itu.
Ramai. Sekolah sangat ramai karena ini tahun ajaran baru. Alice benci keramaian, berisik. Oleh sebab itu, dia dengan cepat menuju mading, mencari daftar nama dan kelas.
"Oh, ini. 10.2" gumamnya.
--
"Akhirnya ketemu juga!" ujar Alice sesampainya di kelas 10.2.
Kelas sudah agak ramai diisi beberapa murid yang sudah datang.
'Berisik' batin Alice.
Alice segera mengambil headset dari tasnya. Memutar lagu sekencang- kencangnya sampai suara murid kelas tak terdengar olehnya.
Alice memang tidak suka bergaul. Dia itu introverted, sejak kecil. Jangan ditanya kenapa!
Dia menumpukan kepalanya menggunakan tangannya di atas meja. Menutup matanya.
"Hai!" Tiba-tiba seorang murid laki-laki datang menghampiri Alice.
"Ehem!" deham murid itu.
Alice yang masih sibuk mendengarkan lagu tidak menyadari laki-laki itu, Xander namanya.
"Ehem!" deham Xander lagi.
Tak ada gubrisan dari Alice, Xander jahil mematikan musik lewat tombol headset Alice. Sontak Alice bangun.
Menatap kesal Xander di depannya yang menyeringai sambil menjulurkan tangannya. "Xander! Xander Harold!" ujarnya. Alice tak menyambut juluran tangan Xander.
"Alice! Alice Christina Alexandra!" ucap Alice. Dia hendak menyalakan kembali musiknya, tapi bel terlanjur berbunyi.
"Salam kenal!" ujar Xander sebelum kembali ke tempat duduknya.
Beberapa waktu kemudian datanglah seorang guru ke kelas Alice.
Sudah dipastikan itu guru killer! Wanita berkacamata dengan ramput dicepol di bagian bawah. Bibir yang diberi warna merah pekat. Ditambah tatapan tajamnya.
"Perkenalkan saya guru kalian, Wanda Rania. Selama satu tahun, saya akan membimbing kalian!" ujar Wanda.
"Gak ada perkenalan kayak biasanya, bu?" tanya seorang murid.
"Apa itu penting?" tanya Wanda. "Ada jam istirahat nanti, kalian saling berkenalan lah satu sama lain nanti!" lanjutnya.
Hening.
"Buka buku sejarah bab pertama!" seru Wanda memulai pelajaran.
"Tapi, bu, ini kan hari pertama sekolah. Harusnya belum belajar, dong. Biasanya kan, gitu, bu!?" seru seorang murid laki-laki.
'Tak'
Sebuah bunyi keras terdengar nyaring ketika sebuah penggaris kayu panjang memukul meja guru.
Semua murid menjadi tegang dibuatnya.
"Baru hari pertama sekolah. Udah dibuat badmood sama gurunya!" gumam murid laki-laki tadi.
Untungnya Wanda tidak mendengarnya. Kalau iya, entah apa yang akan terjadi selanjutnya.