
"Lama juga gak denger kabar dari Gita, kira-kira dia tahu gak ya kalau Purnama mau bikin kejutan?... Ahhhh aku tahu info ini bisa jadi sumber penghasilanku di hari ini, telpon ah...!"
Seru Irma bicara sendiri di dalam kamar nya.
Tut... tut... tut...
"Hallo.!"
Sahut Gita di balik telponnya.
"Halo kak Gita.!"
Ucap Irma.
"Ada apa lagi nelpon?"
Tanya Gita.
"Yang pasti aku ada informasi yang akurat rat rat rat...!"
Seru Gita.
"Alah paling elu mau duit doang.!"
Ucap Gita kesal.
"Owhsss ya udah sih gak papa kalau gak mau tahu, tapi yakin nih kagak bakalan nyesel?"
Tanya Irma Pada Gita.
"Ya udah tinggal kasih tahu gue aja, nanti juga gue transfer duit nya ke elu.!"
Jawab Gita Ketus.
"Hari ini Alice ulang tahun loh...!"
Seru Irma
"Hubungannya sama gue apaan, dia mau ulang tahun kek, mau nikah ke bodo amat gak ada urusannya sama gue.!"
Ucap Gita marah.
"Eh dengerin dulu dong kan aku belum kelar ngomongnya.!"
Seru Irma.
"Ya udah makanya kalau ngomong jangan setengah-setengah, buruan kasih tahu gue detail, singkat padat dan jelas.!"
Pinta Gita ketus.
"Iya deh iya maaf, Purnama hari ini mau kasih kejutan pesta ultah Alice di rumah nya, acaranya habis duhur.!"
Jawab Irma singkat.
"Apa!, yang bener loe, dapat info dari siapa?"
Tanya Gita.
"Dari Asti lah.!"
Jawab Irma.
"Makin lengket aja mereka, mana kemaren gue udah di permaluin lagi sama si Purnama, siapa aja yang di undang?"
Tanya Gita lagi.
''Aku sih gak tahu tapi yang jelas aku sama Desi di undang.!"
Jawab Irma lagi.
"Owh begitu, ok kalau begitu kita lihat saja, aku punya satu senjata pamungkas yang bakal bikin Alice Ilpil sama Purnama.!"
Seru Gita dari balik telpon.
"Senjata?"
Tanya Irma heran.
"Udahlah kagak usah ribut, elu liat aja nanti.!"
Sahut Gita sembari mematikan telponnya.
"Kebiasaan banget cewek serigalan nih, duh senjata apaan ya, jangan-jangan nanti Alice atau Purnama di tembak lagi sama si Gita terus ketangkep polisi aku juga bakal kebawa-bawa, aduh ini gawat banget ini.!"
Ucap Irma berkata-kata sendiri.
Sementara Diluar kamar Irma, Desi mendengar ucapan Irma yang terakhir.
"Astagfirullah jadi Irma yang memberikan informasi tentang hubungan Alice dan Purnama kepada Gita, jadi selama ini dalang dibalik semua ini Irma.!"
Ucap Desi berbisik kepada dirinya sendiri.
"Aku gak boleh diam aja aku harus ceritakan ini ke kak Asti."
Ucap Desi berkata-kata sendiri sembari keluar kosan berniat menghubungi Asti.
Beberapa kali Asti di hubungi oleh Desi namun tak di angkat juga, Desi langsung lari ke kamar Alice.
"Assalamualaikum.!"
Ucap Desi sembari membuka pintu kamar Alice.
"Wa allaikumus sallam.!"
Jawab Alice tersenyum.
Desi menutup pintu kamar dan duduk di samping Alice.
"Gawat Lice gawat.!"
Ucap Desi.
"Gawat kenapa?"
Tanya Alice bingung.
"Tadi aku denger Irma ngobrol soal kamu, Kak Gita dan kak Purnama.!"
Ucap Desi perlahan.
"Kalau ngomongin memangnya kenapa gitu Des?"
Tanya Alice.
"Sutsss jangan keras-keras nanti Irma denger.!"
Pinta Desi kepada Alice.
"Iya terus kenapa?"
Tanya Alice pelan.
"Tadi aku denger kalau Gita mau nembak kamu sama Purnama pake senjata hari ini.!"
Ucap Desi.
"Astagfirullah kenapa bisa, tapi aku gak ada rencana buat ke sana hari ini, ya Allah kak Purnama gimana, tapi apa alasan mereka, dan apa hubungan Irma dengan kak Gita?"
Tanya Alice pusing.
"Aku gak tahu yang pasti, intinya sekarang kita harus hati-hati sama Irma.!"
Pesan Desi
"Tapi dia baik banget ko sama aku.!"
Ucap Alice.
"Berhati-hati itu perlu, lagian kita belum punya bukti kuat untuk mengungkapkan kebenarannya.!"
Ucap Desi.
Asti menelpon Desi.
"Kak Asti.!"
Ucap Desi sembari mengangkat telpon.
Tanya Asti.
"belum sih kak, sekarang siap-siap.!"
Jawab Desi.
"Cepet ya, aku kesana sekarang sama Dahlan.!"
Seru Asti.
"Iya kak, siap.!"
Ucap Desi sembari menutup telponnya.
"Ada apa Des?"
Tanya Alice.
"Kamu cepetan ganti baju dan siap-siap, kak Purnama sakitnya parah, kita harus cepat siap-siap kak Asti sama Dahlan lagi di jalan menuju kesini.!"
Ucap Desi sembari mencari-cari baju Alice di lemari.
"Iya sudah ayo cepetan kamu ganti baju.!"
Seru Alice.
"Nanti dulu kamu pakai baju ini nah ayo cepetan pakai dan siap-siap.!"
Ujar Desi.
"Kenapa pakai baju ini segala?"
Tanya Alice.
"Udah jangan banyak tanya pakai cepet,aku mau siap-siap juga.!"
Seru Desi sembari keluar dari kamar Alice.
Meski merasa Aneh Alice bergegas memakai baju yang dipilihkan Desi.
"Ayo kamu sudah siap Lice?"
Tanya Irma yang sudah siap berangkat.
"Kamu tahu kita mau kemana?"
Tanya Alice.
"Tahu dong, kamu yakin gak mau dandan?"
Ucap Irma.
"Gak perlu Ir, aku kan mau nengokin orang sakit, bukan mau ke kondangan.!"
Jawab Alice.
Desi berlari ke arah kamar Alice
"Ngapain kamu disini?"
Tanya Desi
"Loh memangnya kenapa?"
Tanya Irma kepada Desi.
Tanpa menjawab pertanyaan Irma Desi nyelonong masuk ke dalam kamar Alice.
"Ya ampun kamu masih belum siap juga, duduk sini, duduk.!"
Seru Desi sembari meminta Alice duduk di meja rias kamar nya.
"Mau apa, aku udah siap ko tinggal berangkat.!"
Ucap Alice
"Ya ampun udah sini duduk.!"
Ucap Desi sembari menarik Tangan Alice.
Setelah Alice duduk Desi langsung merias wajah Alice.
"Aduh mau di apakan ini?"
Tanya Alice.
"Udah diam dulu aja.!"
Seru Desi.
"Keburu Kak Asti datang kesini, udah aja.!"
Seru Alice.
"Belum sebentar lagi.!"
Ucap Desi.
Irma hanya tersenyum sinis menatap Desi yang sibuk merias wajah Alice.
"Mau di dandanin segimana juga kalau emang dasarnya dari kampung ya tetep aja jelek.!"
Ucap Irma dalam hatinya.
"Kamu ngapain berdiri disitu mulu, mau ngawasin kita?"
Tanya Desi.
"Udah ah jangan segitunya.!"
Ucap Alice sembari menarik tangan Desi.
"Kenapa sih kamu Des sama aku?"
Tanya Irma.
"Udah gak papa ah, ga usah di pikirin mungkin Desi lagi PMS Ir.!"
Seru Alice kepada Irma.
Dengan kesal Irma pergi meninggalkan Alice dan Desi.
"Jangan berubah secepat Itu, bisa saja yang kamu tadi dengar itu cuman salah paham.!"
Alice menasihati Desi.
"Iya kita lihat saja nanti jadinya gimana.!"
Seru Desi.
"Nah sudah siap, cantik kan.!"
Seru Desi lagi.
"Ini sebenarnya mau ada apa sih ko sampai begini nya,padahal kan cuman mau nengokin orang sakit.!"
Seru Alice.
"Udah ayo jalan tuh kak Asti kayanya udah didepan.!"
Seru Desi menghindari pertanyaan Alice.
"Sudah pada siap?"
Tanya Asti dari dalam mobil.
"Sudah kak.!"
Jawab Desi.
"Ayo kita berangkat...!"
Ajak Asti.
Alice dan Desi mengangguk, Irma pun ikut masuk kedalam mobil dengan wajah agak ketus.