Alice

Alice
Bagian 131



Ini malam pertama bagi Alice dan Desi tidur di kontrakan baru, meskipun sempat terjadi melow drama saat perpisahan di kosan tadi siang, bahkan Topan dan Hendrik pun ikut menyaksikan kepindahan Alice dan Desi.


Topan tengah termenung di tempat biasa dia dan Hendrik nongkrong.


"Apa yang sekarang akan loe lakuin, menurut gue sekarang Alice sudah selangkah lebih jauh ninggalin elu!?"


Ucap Hendrik kepada Topan


"Kayanya gue sekarang mesti tenangin keadaan dulu Drik.!"


Jawab Topan


"Maksud elu, elu akan ngalah begitu saja?"


Tanya Hendrik lagi


"Bukan begitu, sepertinya gue emang bakal ngalah dulu aja tapi untung menang pastinya.!"


Seru Topan


"Maksud elu gimana?"


Tanya Hendrik bingung


"Gini loh kan perpisahan Alice sama Purnama sudah jelas banget bakal terjadi, setelah Purnama bener-bener pergi baru gue bakal deketin Alice lgi, gue yakin setelah Purnama jauh Alice akan nerima gue.!"


Seru Topan dengan Percaya Diri.


"Gimana menurut elo, ide gue?"


Tanya Topan lagi kepada Hendrik


"Cemerlang.!"


Jawab Hendrik tersenyum


"Terus kenapa elu merenung begitu tadi?"


Tanya Hendrik


"Ya gue mikirin cara ini lah!"


Jawab Topan lagi


"Gue pikir elu down gara-gara masalah tadi pagi di tambah lagi Alice udah pindah kosan.!"


Seru Hendrik


"Tadinya sih begitu tapi setelah gue inget-inget tadi ada omongan antara Akice dan Purnama soal pergi-pergi gitu kan, nah setelah gue tanya sama anak kos mata-mata gue ya jawabannya katanya Purnama itu ada rencana pergi ke luar negeri buat sekolah.!"


Ucap Topan menjelaskan.


"Ternyata sobat gue emang selalu selangkah lebih maju hahhha.!"


Ucap Hendrik merasa Bangga.


"Iya dong siapa dulu, gue hahahha.!"


Ucap Topan sombong.


Topan dan Hendrik tertawa Puas mengingat rencana besar mereka hanya tinggal menunggu hari saja, sementara Alice dan Desi di kosan baru masih sulit terlelap.


"Kamu ko belum tidur Lice?"


Tanya Desi


"Aku susah tidur Des, emang sih cape tapi susah banget mau pules nya.!"


Ucap Alice


"Ada pikiran kali?"


Tanya Desi lagi


"Hemmhss, itu juga ada sih Des, tapi kan sudah beberapa lama juga aku mikirin ini cuman waktunya tidur ya aku tidur aja!".


Jawab Alice


"Memangnya apa sih yang kamu pikirin, coba cerita siapa tahu aku bisa bantu.?"


Ucap Desi.


"masih Soal kak Pur ko Des, waktu ke graduasi semakin dekat itu berarti aku sama kak Purnama akan semakin cepat berpisah juga.!"


Seru Alice berat


"Oh masalah itu, aku juga kalau di posisi kamu pasti ngerasa berat banget Luce terlebih lagi kalian belum lama pacaran, tapi kalau kamu sedih kak Purnama gak akan kuat di sana, dia gak bakal tenang kalau saat kamu nganter kepergian dia mlah sedih .!"


Seru Desi


"Aku gak mungkin lah sanggup Des ngelepasin kak Purnama sembari tersenyum?"


Jawab Alice


"Setidaknya satu detik sebelum kalian berpisah tersenyumlah, selepas itu kamu bisa menangis sejadi-jadinya setelah kalian berpisah.!"


Ucap Desi.


"Aku akan berusaha Des.!"


Ucap Alice meyakinian diri melakukan hal yang tak mungkin.


"Sekarang kamu coba pejamkan mata, meski hati kamu sedih tapi tubuh kamu butuh istirahat.!"


Seru Desi sembari menarik selimut miliknya lalu memejamkan mata.


"Kebersamaan ini hanya sekejap kak, baru saja Alice mulai menyerahkan seluruh hati dan perasaan kepada kakak, tapi kini kita mesti berpisah juga.!"


Seru Alice dalam hatinya sembari meneteskan air mata.


Handphone Alice pun berbunyi tanda sebuah pesan masuk.


Alice meraih handphonenya dan membuka pesan tersebut, rupanya pesan itu dari Purnama.


"Seberat apapun ujian kita tetaplah tersenyum jangan pernah meneteskan air mata pun untuk kakak, karena sungguh kakak tidak akan bisa memaafkan diri kakak sendiri, jangan biarkan senyum itu meredup.!"


Isi pesan Purnama membuat Alice merasa semakin sedih rasanya dadanya mulai terasa semakin sesak membuatnya merasa ingin berteriak dan menangis sekencangnya.


Alice menggigit bibirnya berusaha menguasai hati dan pikirannya yang semakin terasa begitu menyesakan.


"Entah kenapa semakin berusaha untuk tegar justru semakin terasa begitu menyesakan!"


Seru Alice dalam hatinya


Alice melirik ke arah Desi yang sudah mulai lelap tertidur.


"Satu demi satu sahabatku pergi, aku takut jika pada akhirnya aku hanya akan seorang diri.!"


Ucap Alice lagi dalam hatinya.


Tanpa Alice sadari air matanya semakin membanjiri bantal yang ia gunakan untuk tidur hingga akhirnya Alicepun tertidur dengan sendirinya.


Satu hari menjelang Graduasi, semua nampak sibuk mempersiapkan segala hal yang di perlukan beberapa orang tengah sibuk melatih penampilannya untuk besok.


Alice tengah terduduk di depan kelas memperhatikan Purnama dan Dahlan serta Asti yang tengah sibuk mengatur posisi beberapa tenda untuk para tamu besok.


"Kamu kurang tidur semalam lice?".


Tanya Irma sembari duduk di samping Alice


"Eh Irma, iya kayanya aku belum terbiasa dengan kamar kos yang baru heheh.!"


Jawab Alice mencoba menyembunyikan kebenaran.


"Mata kamu sembab begitu, kamu nangis semalaman?"


Tanya Irma menodong tanpa membiarkan Alice membohonginya.


"Ah enggak ko, ini cuman gara-gara debu semalam aku mau tidur tiba-tiba ada yang masuk ke mata pedih banget makanya aku sampai ngeluarin air mata.!"


Jawab Alice lagi


"Tuh liat kak Purnama ngeliatin kamu!"


Ucap Irma sembari menunjuk menggunakan matanya.


Purnama melambaikan tangannya kepada Alice sembari tersenyum, Alice pun membalas seraya tersenyum.


"Aku tahu kamu habis nangis Lice, karena besok sudah graduasi kan?"


Ucap Irma kembali


"Kamu udah kaya detektif aja Ir heheh!"


Ucap Alice


"Percuma saja kamu menyembunyikannya Lice, semakin kamu berusaha berbohong semakin omongan kamu itu gak masuk di akal heheh.!"


Ucap Irma.


"Heheh gitu ya?"


Ucap Alice


"Senyum kamu juga terpaksa.!"


Ucap Irma lagi.


"Hemhsss, iya deh iya kamu sudah tahu aku kenapa kan?"


Tanya Alice


"Sulit ya pasti?"


Tanya Irma


"Sulit banget Ir, makanya sejak pagi aku duduk disini, buat aku sekarang-sekarang ini setiap moment berharga banget Ir, Entah Esok atau lusa aku udah gak bakalan bisa lagi ngeliat dia secara langsung seperti sekarang ini.!"


Seru Alice tanpa merubah pandangannya sedetikpun.


"Kamu sudah tahu kapan Kak Purnama berangkat?"


Tanya Irma


"Sayangnya belum Ir, yang paling aku takutin adalah, ini hari terakhir aku bisa ngeliat dia.!"


Jawab Alice


"Kenapa kamu gak coba tanya?"


Irma menyarankan.


"Aku takut Ir, takut kalau jawaban yang akan keluar dari mulut kak Purnama itu adalah kata Besok.!"


Ucap Alice lagi.


"Bukankah lebih baik tahu kapan dia akan pergi?, setidaknya kamu bisa benar-benar menghabiskan waktu bersama, meskipun sebenarnya kamu tengah mengumpulkan keberanian menyambut massa itu datang?"


Seru Irma sembari menatap ke arah Purnama pula.