
Asti keluar dari dalam kelas berniat menghirup udara segar Alangkah terkejutnya Asti melihat Purnama tengah menggenggam tangan Gita dan memegangi pinggang Gita oleh sebelah tangannya lagi, mereka beradu pandang tanpa sedikit pun bicara.
Asti kembali ke dalam kelas menarik Dahlan.
"Apaan sih As.!"
Tanya Dahlan namun Asti tak memberi Jawaban hanya menarik Dahlan keluar dari kelas kemudian menunjuk ke arah Purnama dan Gita yang masih belum merubah posisi.
"Apa-apaan tuh anak.!"
Seru Dahlan
kemudian Dahlan melirik ke arah kelas Alice.
"Astagfirullah As, kenapa ruh sana si Alice, ayo kita kesana.!"
Ajak Dahlan kepada Asti dan Asti bersama Dahlan berlari melewati lapangan basket menuju Alice
Sementara Purnama dikagetkan oleh suara anak-anak lain yang berniat lewat di tangga namun terhalang oleh Purnama dan Gita.
"Ehem, sory ya gue ganggu tapi gue mau lewat nih.!"
Ucap anak kelas tiga jurusan lain.
"Astagfirullah, Git kamu gak papa?, maaf ya ngalangin jalan.!"
Seru Purnama sembari Melepaskan genggamannya setelah Gita kembali berdiri.
"Aku gak papa ko Pur makasih ya udah nolongin aku.!"
Ucap Gita berterimakasih.
"Iya, ayo ke kelas.!"
Seru Purnama, sedikitpun Purnama tidak melirik ke arah kelas Alice hanya mencoba bersikap biasa kepada Gita setelah kejadian di tangga tadi..
Sementara Itu setelah Gita dan Purnama di dalam kelas, di luar Asti tengah memeluk Alice.
"Ada apa ini Des?"
Tanya Dahlan.
"Alice melihat kak Purnama dan kak Gita.!"
Jawab Desi"Alice tahu soal massa lalu mereka?"
Tanya Dahlan lagi.
Desi mengangguk.
"Dari mana dia tahu?"
Tanya lagi Dahlan.
"Dari kak Purnama lasngsung.!"
Jawab Desi lagi.
"Sialan tuh anak.!"
Ucap Dahlan
"Lice elu gak papa kan?"
Tanya Dahlan khawatir.
"Alice ga papa kak, Alice mohon jangan kasih tahu kak Purnama tentang kejadian ini.!"
Pinta Alice.
"Loh gak bisa gitu dong Lice, dia harus tahu supaya bisa lebih jagain perasaan kamu!"
Seru Asti.
Tiba-tiba guru datang memasuki kelas Alice.
"Ayo Lice udah ada bu guru.!"
Ajak Desi.
"Titip ka jangan kasih tahu dia.!"
Seru Alice sembari menghapus air mata nya Dan pergi meninggalkan Asti dan Dahlan.
"Sialan tuh anak, gue udah relain si Alice sama dia tapi dia malah dengan sengaja nyakitin Alice di hadapan gue.!"
Seru Dahlan.
Asti yang mendengar hal tersebut merasa kaget karena ternyata Dahlan masih amat sangat Perduli terhadap Alice.
"Mungkinkah kamu masih memiliki perasaan terhadap Alice bang, begitu marahnya kamu melihat dia tersakiti.!"
Asti berkata dalam hatinya, meski ada rasa cemburu dan kecewa kepada Dahlan kekasihnya Asti mencoba tetap bersikap normal.
"Ayo bang balik ke kelas.!"
Ajak Asti.
Dahlan mengangguk dan berjalan lebih dulu meninggalkan Asti.
Asti menatap Dahlan yang melangkah meninggalkannya.
Asti berlari kecil menyusul Dahlan.
"Bang tahan emosi jangan lupa pesan Alice."
Asti mengingatkan Dahlan.
"Iya elu tenang aja, meski sebenernya tangan gue udah gatal pengen bikin bonyok tuh muka si Purnama, tapi demi perasaan si Alice gue rela tahan.!"
Ucap Dahlan lagi.
Asti semakin merasa kecewa mendengar penuturan Dahlan.
Asti dan Dahlan masuk ke kelas.
Di dalam Gita duduk di samping Purnama Dahlan dengan sengaja menghampiri Purnama.
Asti yang khawatir, takut Dahlan nekat langsung ikut menghampiri Purnama.
"Git sorry ya, ada perlu gue sama Purnama.!".
Ucap Dahlan kepada Gita.
Tanya Purnama.
Dahlan terdiam karena Gita masih ada di sekitar nya.
"Git bisa tinggalin kita sebentar!?"
Pinta Purnama kepada Gita.
"Oh ok.!
Ucap Gita kecewa dan kembali duduk di kursinya.
"Ada apa?"
Tanya Purnama lagi
"Gak papa, gue cuma mau tanya aja ada apa antara elu sama si Gita, gue sama Asti perhatiin dari pagivelu sama dia Lengket banget.!"
Ucap Dahlan.
"Ada apa apanya maksud kamu Lan, aku sama dia cuman temen biasa gak lebih kita cuman ngobrolin hal-hal soal sekolah dan sedikit membahas massa lalu.!"
Jelas Purnama jujur
"Hati-hati loe yah, gue sama Asti ngawasin elu.!"
Seru Dahlan sembari bangkit dari duduknya dan Pergi,Asti pun hanya menatap Purnama kemudian kembali duduk di samping Dahlan.
Purnama merasa kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi,namun tidak terlalu memikirkan nya.
"Pur nanti makan siang bareng ya di kantin.!"
Ajak Gita sembari kembali menghampiri Purnama dan membawa tas nya.
"In shaa Allah Ya!"
Jawab Purnama enggan
"Eh aku duduk disini ya sama kamu, gak papa kan?"
Tanya Gita.
"Terserah kamu aja Git.!"
Ucap Purnama tersenyum.
Seorang Guru datang ke dalam kelas untuk memulai pembelajaran, dan proses belajar Pun berjalan dengan kondusif seperti biasa Dahlan, Purnama dan Asti yang sering mengajukan pertanyaan, tak heran dalam pelajaran mereka bertiga selalu saling kejar untuk menjadi yang no satu di kelas.
Bell tanda istirahat pun telah berbunyi.
"Baiklah anak-anak pembelajaran dari ibu untuk pertemuan kali ini di cukupkan sekian, terimakasih atas kerjasama dan timbal balik kalian sampai jumpa di pertemuan berikutnya, Assalamuallaikum...!"
Seru seorang guru perempuan berusia hampir empat puluh tahun.
"Sama-sama bu, Wa allaikumus salla bu...!"
Jawab semua Anak-anak di dalam kelas serentak.
Setelah Guru keluar dari kelas, anak-anak dalam kelas Purnama pun berhambur keluar kelas ada yang ke kantin dan ada yang main basket.
Purnama berdiri di luar kelas menatap ke kelas Alice.
Asti baru saja keluar dari kelas.
"As, sini deh!"
Seru Purnama.
"Apa?"
Tanya Asti masih agak kesal.
"Aku ko seharian ini gak liat Alice, dia sekolah?"
Tanya Purnama.
"Kamu gak liat dia, tapi dia bisa lihat kamu dimanapun dan dengan siapapun kamu berbicara.!"
Asti memberi kode kepada Purnama.
"Maksud kamu?, emangnya dia mahkluk tak kasat mata apa?"
Tanya Purnama datar.
"Hahaha lucu ya.!"
Ucap Asti tertawa terpaksa kemudian pergi meninggalkan Purnama.
Gita menghampiri Purnama, berbarengan dengan Irma yang baru saja keluar dari kelas.
"Pur ayo katanya mau makan bareng aku.!"
Ajak Gita sembari menarik tangan Purnama.
Irma yang melihat itu langsung mengeluarkan handphone nya dan memotret Purnama bersama Gita seolah tengah berpegangan tangan.
"Wah berita terbaru nih hahah.!"
Seru Irma sembari lanjut ke kantin.
"Gak perlu kaya gini Gir, aku udah punya pacar.!"
Seru Purnama sembari melepaskan pegangan Gita.
"Opsss sorry ya, emang pacar kamu disini juga?"
Tanya Gita.
"Iya anak kelas sepuluh.!"
Jawab Purnama.
"Ihhh kamu pacarannya sama anak kecil.!"
Seru Gita sembari tertawa.
"Dia itu usianya memang masih kecil tapi pemikiran dsn sikap nya Dewasa, dia juga sederhana gak neko-neko, jangankan di kasih uang di kasih barang aja susahnya minta ampun mau nerima nya juga.!"
Ucap Purnama menyindir Gita yang begitu matre dan jadi parasit saat mereka pacaran dulu...