Alice

Alice
Bab 46. Tertembaknya Alice



Satu persatu para staf dan member BTS keluar dari dalam rumah untuk menaiki mobil yang telah mereka siapkan dengan berat  hati dan rasa sedih yang masih membara mereka berjalan dengan gontai dipenuhi air mata yang terus mengalir tanpa henti.


Tuar tuar suara gemuruh pistol saling berbalasan dari luar sana Terdengar dari sudut telinga Alice.


Dengan cepat dia bergegas keluar rumah untuk memeriksa keadaan dengan tangan yang menggenggam pistol.


Tatapannya langsung terarah kepada para pasukan Mafia yang telah tergeletak diatas tanah tidak bernyawa lagi dengan beberapa tentara dan polisi disamping mereka.


Satpam yang dia suruh untuk melaporkan ini tadi sore ternyata berhasil melaporkan ini dengan selamat.


Dengan pandangan yang tidak percaya dia kemudian menatap satu persatu dari polisi dan tentara dengan tatapan yang tidak bisa diartikan tatapannya berhenti ketika orang yang sedang dicarinya yaitu pimpinan polisi dengan seragam yang berbeda dari antaranya telah dia temukan dia memandangnya lekat dan tajam dengan senyuman sinisnya lalu berjalan mendekat dengan langkah yang lamban.


Tuar suara tembakan tiba tiba saja datang dari belakang Alice mengenai bahu   kirinya dan dia langsung jatuh dengan keras keatas tanah "arkhhhh" teriaknya sambil berusaha membalikan badannya untuk melihat siapa yang berani menembaknya


"Kau" kata Alice tak percaya saat melihat orang yang menembaknya.


Dia adalah Park Jimin anggota BTS


"Itu pantas untukmu" katanya dengan suara tegar dengan mata yang membelalak


Alice ditembak dengan orang yang sudah dia anggap keluarga


"Ternyata begini rasanya" lirihnya dengan tertawa keras tidak percaya.


Ditembak ditusuk atau disayat bukanlah lagi hal yang sangat menakutkan atau menyakitkan baginya tapi kini hatinya yang merasa sakit.


Alice langsung bangun berdiri dengan bahu kirinya yang berlumuran darah yang menetes perlahan keatas rerumputan diatas tanah.


Alice mendekati Jimin dengan langkah gontainya Alice melihat lelaki itu dengan air mata yang tertahan disudut matanya melihat pistol yang masih Jimin pegang dengan tangan yang bergetar kearahnya


"Kau mau apa .. jangan mendekat atau aku tembak " suara Jimin bergetar melihat Alice kini sudah berada tepat didepannya


"Lakukanlah jika itu maumu" kata Alice membentangkan kedua tangannya didepan Jimin tapi Jimin sama sekali tidak berani menembak bahkan dia hanya berdiri sambil menatap mata elang milik Alice


Member BTS serta para staf semakin bingung dan takut karna tak ada yang mau mencegah Alice bahkan para polisi dan tentara itu


"Kenapa? kau takut… bukankah kau ingin membunuhku ? " kata Alice kemudian merobek baju Jimin dengan keras.


Jimin hanya terdiam kaku di hadapan Alice, tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


Alice terus menatap Jimin tajam hingga tiba tiba saja mata Alice beralih kepria yang berdiri dibelakang Jimin berseragam hitam dengan pistol yang sedang membidik kearah Jimin dan dirinya.


Melihat hal itu Alice langsung mendorong Jimin keras hingga suara satu tembakan lagi lolos dibahu kanannya, Alice terjatuh kembali dengan keras keatas tanah dengan kedua bahu yang sudah berlumuran darah.


Melihat hal itu Jimin dan yang lainnya terkejut melihat situasi yang tidak bisa mereka artikan.


Satu persatu suara sautan tembakan dari para polisi dan tentara yang berada di antara mereka dengan sigap membidik ke arah penembak waspada.


Suara keras gemuruh senapan terus menghujani kearah pria itu hingga dia tidak bisa melarikan diri lagi karna jumlah yang dia lawan begitu besar dan berakhir tewas ditempat tanpa sempat melarikan diri.


"Aliceee dia k-kabur" kata seseorang yang muncul dari dalam rumah dan semua mata tertuju kearah suara tersebut dengan tatapan tidak tercengang dan tidak percaya dengan siapa yang mereka lihat saat ini.


Orang yang mereka lihat barusan jelas-jelas sudah mati tergeletak di atas lantai dengan lumuran darah karna tertembak oleh Alice.


Dan kini orang yang mereka lihat tadi berdiri tegap dengan tubuh yang bahkan tidak terluka sedikitpun.


"Teahyung"


"V"


Kata member satu persatu dengan wajah yang penuh tanda tanya.


Mata mereka membelalak memandang bingung V dan Alice bergantian berharap mendapat jawaban.