Alice

Alice
Bab 53. Army



Alice kemudian teringat dengan beberapa Mafia yang juga ditugaskan untuk pergi bersamanya ke Korea dan membuatnya sedikit berpikir keras sebelum berbicara


"Iya saat aku menyamar menjadi detektif ada beberapa Mafia yang ditugaskan untuk ikut bersamaku kesini. Mereka tinggal disalah satu apartement tidak jauh dari sini untuk memudahkanku saat aku memerlukan bantuan tapi aku rasa mereka pasti sudah tidak lagi ada disana" menatap detektif dengan tenang tak berlangsung lama kemudian matanya melebar dan membuat mereka terbingung bingung


"Apa kalian sudah memberi penjagaan ketat juga pada keluarga mereka " Tanya Alice seketika pada polisi sambil menunjuk nunjuk member BTS


 


Member BTS yang melihat mata Alice membulat dengan ekspresi terkejut hampir tertawa begitu juga yang lainnya


"Kau tidak perlu cemaskan itu, kami sudah memberi pengawasan ketat pada mereka" kata pemimpin tentara dengan senyuman


"Kami juga menyuruh mereka tidak keluar untuk sementara waktu" sambungnya dan Alice membalas senyuman mereka dengan mengangguk angguk tanpa tersenyum sedikitpun membuat ruangan itu kembali sunyi.


    


Alice yang mendengar suara teriakan fans BTS dari luar sana berjalan mendekati jendela kaca yang tembus keluar ruangan dan menyibak jendela dengan lembut untuk melihat mereka yang berteriak memanggil BTS dengan perasaan khawatir terpancar jelas dimata mereka sebagian besar dari mereka perempuan dan sebagian kecil laki laki


Mereka terus mendorong dorong pagar mendesak para satpam dan penjaga untuk membuka gerbangnya dengan teriakan yang kuat.


Mereka hanya duduk terdiam melihat Alice yang mengamati fans BTS dari luar.


"Kita bisa gunakan mereka" kata Alice sambil memandang keluar dan suaranya masih Terdengar  jelas


"ARMY ???" kata BTS cepat


"Hmmm" kata Alice mengangguk dan mendekati member BTS dan menjelaskan maksutnya


"Jumlah para ARMY begitu banyak bahkan mereka ada diseluruh dunia dengan jumlah mereka yang begitu banyak kita dapat mengalahkan para Mafia dengan cepat"


"Bagaimana bisa ? mereka semua adalah wanita" kata Jin menyahut


"Kami tidak mau membuat para ARMY kami dalam bahaya" kata V dengan suara basnya


"Cukup kami yang menjadi sasaran mereka tapi ARMY tidak boleh sampai terluka" kata Jimin dengan mulut bulat dan tangan yang menunjuk nunjuk kearah army


"Iya jangan kaitkan ini dengan ARMY kami sangat mencintainya" tambah J-Hope sambil menarik tangan Jimin yang menghalangi pandangannya


"Iya lebih baik kami mati dari pada harus melihat ARMY kami terluka" kata sitermuda Jungkook antusias


"Iya itu benar " kata mereka sambil membenarkan perkataan Jungkook


   


"Hei"


"Kenapa kau melemparnya?"


"Kenapa?" Tanya mereka terkejut


"Silahkan Bangtan bunuh diri kalian sendiri jika kalian memang ingin mati" kata Alice datar


"Silahkan" kata Alice sambil mempersilahkan dengan tangannya dan mereka semua terdiam Alice kemudian memandang mereka satu persatu


" Min Yoongi" menatap kearahnya


"Kim Namjoon" berganti menatap Rm


"Apa kalian tidak ingin berkata sesuatu" Alice sedikit heran saat melihat mereka berdua tidak ikut berbicara sama sekali


"Tidak ada" kata mereka bersautan dengan menggeleng pelan


"Kenapa ?" Tanya Alice penasaran dan kembali duduk


"Mmm aku rasa kita memang memerlukan bantuan pada ARMY " kata Rm tegas


"Hyung" kata mereka bersautan melihat Rm


"Percayakan saja pada Alice " tambahnya


"Lalu kau ??? " Tanya Aluce pada Suga


"Aku rasa lebih baik mempercayaimu walau kurasa sangat sulit dipahami"  kata Suga percaya diri


"Bagus" kata Alice


"Aku adalah wanita tapi aku jauh lebih kuat dan pintar dari kalian jadi jangan sebut fansgirl kalian tidak bisa"menatap satu persatu member BTS


"Kita akan memulai wawancara sore ini silahkan undang yang dapat kita percaya" kata Alice pada Bang dan mereka lebih memilih mengangguk dengan perintah Alice dari pada kembali bertanya.


    Rapat singkat tapi sangat beresiko besar itu kini usai dengan sangat cepat. satu persatu dari mereka berlalu meninggalkan ruang tamu berpencar ketempat tujuan mereka masing masing dengan perasaan yang masih was was.