Alice

Alice
Bagian 139



Sore menjelang Purnama berlari dari parkiran menuju ke ruang rawat Alice bersama keluarga Alice.


"Assalamualaikum!"


Ucap Purnama kepada Ibu kos dan Topan.


"Wa allaikumus sallam, bapak Ibu sehat?"


Jawab Ibu kos sembari bersalaman dengan keluarga Alice.


"Baik bu Alhamdulillah, dimana Alice bu?"


Tanya Ibu Alice


"Di dalam, Alice baru saja selesai melakukan pemeriksaan lanjutan dan hsilnya akan keluar besok bu.!"


Jelas Ibu kos.


"Maaf karena sudah merepotkan semua orang, Alice memang sudah langganan keluar masuk rumah sakit, tapi baru kali ini dia separah ini,apa dia tidak pernah minum obatnya bu?"


Tanya bapak Alice ke ibu kos.


"Akhir-akhir ini Alice nampak sehat pak, dan saya juga sudah jarang melihat ada obat di kamarnya.!"


Jawab Ibu kos.


"Apa nak Purnama tahu Alice masih sering mengkonsumsi obat-obatannya?"


Tanya Ibu kos.


"Saya sering belikan persediaan obat untuk Alice bu, setiap kali di ingatkan Alice selalu menjawab sudah di minum, tapi saya sendiri tidak pernah melihat Alice meminum obatnya.!"


Jawab Purnama.


"Elo gimana sih Pur, udah tahu Alice itu sering lupa kenapa gak elo pastiin dulu dia minum obatnya!"


Ucap Topan sembari berdiri menghadap Purnama


Purnama hanya menunduk diam mendengar ucapan Topan.


"Hey sudah berhenti tidak perlu saling menyalahkan, semua itu tidak akan membuat Alice jadi lebih baik kondisinya sekarang!"


Ucap Ibu kos.


"Maaf bu pak, ini Purnama dan Topan mereka sama-sama menginginkan Alice, tapi Purnamalah yang selama ini selalu menemani dan menjaga Alice, sejujurnya ini bukan kali pertama Alice masuk rumah sakit, meskipun anak-anak ini mencoba menutupi kebenaran dari saya tapi saya tahu sebelum ini Alice pernah masuk rumah sakit, dan nak Purnama, Nak Dahlan dan Nak Asti lah yang merawat Alice.!"


Jelas Ibu kos.


Penjelasan Ibu kos membuat Purnama kaget karena ternyata Ibu kos mengetahui kebenaran yang di sembunyikannya.


Begitu pula dengan Asti dan Dahlan yang baru saja sampai Di rumah sakit, mereka saling ttap satu sama lain.


Desi dan Iqbal pun menyusul dari belakang Dahlan dan Asti.


"Maaf bu, tidak ada maksud kami membohongi ibu, tapi Alice meminta kami untuk merahasiakan semuanya karena takut bapak dan Ibu khawatir.!"


Ucap Purnama kepada keluarga Alice.


"Tidak perlu meminta maaf bapak sama ibu yang seharusnya banyak-banyak berterimakasih karena sudah menolong Alice begitu juga nak Topan terimakasih karena kalian berdua sudah menyayangi Alice meskipun tahu kondisinya seperti apa.!"


Ucap Bapak Alice.


Saat semua kondisi orang-orang tengah terdiam di bangsal rumah sakit tiba-tiba Mamah Purnama datang ke rumah sakit menghampiri Purnama.


"Mah! tunggu mah!"


Teriak papah Purnama memanggil Istrinya.


Purnama kaget melihat Mamah nya datang ke rumah sakit.


"Apa -apaan ini Purnama?!"


Tanya mamah Purnama marah.


"Maafin papah Pur, papah gak bisa ngalangin mamah kamu buat datang kesini.!"


Ucap Papah Purnama


Purnama menarik napas pelan kemudian menarik tangan mamahnya menjauh dari kamar rawat Alice.


Tanya Purnama pelan.


"Kamu yang ngapain disini, kita sudah perjanjian kenapa kamu malah melanggar?!"


Tanya mamah Purnama.


"Mah please jangan teriak-teriak ini rumah sakit!"


Ucap Purnama.


"Pokonya mamah gak mau tahu, malam ini juga kamu harus berangkat ke luar negeri.!"


Ucap mamah Purnama.


"Mah tolong mah, Alice disini lagi sakit!"


Ucap Purnama


"Benar mah setidaknya ijinkan anak kita buat nemenin Alice perempuan yang dicintainya sampai siuman.!"


Ucap Papah Purnama membela.


"Terserah kamu tinggal pilih, kamu mau mamah membiarkan kamu disini menemani perempuan kampung itu tapi tidak merestui hubungan kalian atau sebaliknya?, kamu pergi malam ini dan selesai wisuda mamah akan merestui hubungan kamu!"


Ucap Mamah Purnama memberi Penawaran.


"Mah aku gak akan perduli, mamah akan merestui atau tidak aku akan tetap disini sama Alice, selama ini aku selalu nurutin maunya mamah seperti apa tolong mah hargai juga keinginan aku, jangan selalu menuntut aku untuk nurut ke mamah, sedangkan mamah sendiri gak pernah kasih aku kesempatan buat raih apa yang aku pengen.!"


Ucap Purnama mencoba membela diri.


"Oh jadi sekarang kamu sudah pandai melawan kata mamah, ini hasil dari hubungan kamu sama perempuan kampung itu?!"


Tanya mamah Purnama memojokan Purnama.


"Mah cukup, kenapa sih mamah selaku memaksakan kehendak mamah sama anak kita, mah ingat Purnama ini satu-satunya anak kita, apa mamah lupa apa yang Purnama katakan barusan itu benar, selama ini kita terlalu memaksa anak kita untuk melakukan apa yang kita kehendaki, kita sudah terlalu banyak mencampuri urusan pribadinya sampai dia tidak tahu lagi apa yang sebenarnya dia mau.!"


Ucap Papah Purnama membela.


"Oh jadi kalian berdua sekongkol buat melawan mamah?!"


Ucap Mamah Purnama lagi.


"Mah sudah cukup, selama ini mamah sama papah selalu memfasilitasi hidup aku semewah mungkin, tapi aku sedikitpun tidak pernah diberikan kebebasan untuk memilih jalan yang aku mau, aku seperti sudah menjual kebebasan aku untuk semua fasilitas yang kalian berikan, aku ini manusia, aku ini anak kalian bukan boneka yang bisa kalian arahkan dan gerakan semau kalian, mulai sekarang aku gak akan pernah perduli kalaupun mamah mau mencabut semua fasilitas kemewahan yang selama ini mamah berikan, maaf mah aku sudah tidak akan pernah menjual lagi kebebasan hidupku untuk mamah beli dengan semua fasilitas kemewahan ini.!"


Ucap Purnama sembari menyerahkan kunci mobil ke tangan mamah nya.


"Bertahun -tahun mamah dan papah pergi hingga untuk pulang pun kalian sulit, di hari ulang tahun aku pun kalian gak pernah datang, kalian selalu sibuk bekerja, aku kalian hujani dengan kemewahan tapi di dalamnya tidak ada perhatian ataupun kasih sayang, Aku Muak dengan semua ini!"


Ucap Purnama sembari pergi meninggalkan mamah dan Papahnya.


Di belakang Purnama diam-diam Topan mendengarkan perdebatan Purnama dan Orang tuanya.


Purnama yang sadar akan hal itu langsung menghampiri Topan.


"Kenapa?, kamu puas karena merasa akan menang mendapatkan Alice? apa karena sekarang aku sudah gak punya apa-apa lagi?!"


Ucap Purnama.


"Jangan harap satu jengkal pun aku akan membiarkan kamu berada lebih dekat dengan Alice di banding aku.!"


Ucap Purnama lagi.


"Hhahah kita bersaing secara sehat!"


Ucap Topan sembari pergi lebih dulu meninggalkan Purnama.


Purnama pun mengikuti langkah Topan dari belakang, sementara di luar mamah dan Papah Purnama tengah terdiam melepas kepergian Purnama.


"Mah, mamah dengar barusan apa kata anak kita?"


Tanya Papah Purnama.


"Selama ini kita terlalu sibuk mah, sibuk bekerja mengejar dunia sampai kita lupa ada anak yang menunggu di rumah, sekarang dia pergi mah dari sisi kita semua karena keegoisan kita, karena alasan kita yang selalu bilang semua ini demi massa depan Purnama, semua ini demi kebaikan Purnama, kita lupa anak kita telah tumbuh dewasa mah dia sudah bukan anak kecil lagi.!"


Ucap Papah Purnama lagi sembari meneteskan air mata.