Alice

Alice
Xander Parents



Alice yang ketiduran di depan ruang operasi terbangun ketika bunyi pintu berdecit terdengar.


"Bibi. Mana bibi?" tanya Alice.


Dokter yang berekspresi murung itu langsung berlalu meninggalkan Alice. Ada rasa bersalah terpampang di wajah dokter itu. Tak lama, tiga orang suster keluar dari ruang operasi, sambil mendorong ranjang yang tertutup kain putih di sekujur tubuh pasien.


Alice menghela napas, dadanya sesak. Tak berkutik dari tempatnya. Hanya menatap lekat-lekat orang yang terbaring di ranjang itu--yang terbawa semakin menjauh darinya.


Matanya berkaca-kaca, dadanya terasa semakin sesak.


Alice memukul- memukul dadanya. Mencoba menenangkan diri.


"Permisi, anda keluarga korban, bernama Maya Lestari? Yang kecelakaan tadi?" tanya seorang suster yang tiba-tiba datang.


Alice mengangguk menjawab pertanyaannya. Sambil menghapus air matanya yang tak hentinya turun.


"Dia masih dalam keadaan koma... Mari saya antar ke ruangan pasien" kata suster itu. Tentu Alice terkejut. Jadi, siapa yang tadi dibawa keluar dari ruang operasi.


"Apa... Maksudnya?" tanya Alice bingung.


"Maya Lestari... Anda bukan keluarganya?"


"Iya. Saya keluarganya! Tadi saya melihat dia sudah..."


"Sepertinya anda salah ruangan. Ini ruang operasi korban Andi Wahyudi!" kata suster itu.


"Lalu dimana bibi?" tanya Alice langsung.


"Mari saya antar!"


****


Alice menatap bibinya yang terbaring tak sadarkan diri di ranjang rumah sakit.


Ada sedikit kelegaan dalam dirinya. Mengetahui bahwa bibinya masih hidup.


"Bibi... Aku disini. Bertahanlah. Sebentar lagi bibi pasti sadar!" ucap Alice yang tentu tahu bahwa tidak akan ada jawaban dari bibinya.


"Lapar lagi!" gumam Alice sambil memegangi perutnya yang terasa lapar.


"Dimana pula kantin rumah sakit ini. Sudah lama aku tidak ke sini (lagi pula buat apa Alice kesini😄)... Seingatku di lantai satu..." gumam Alice lagi. "Oh, iya. Disana!" seru Alice yang sudah mengingat letak kantin.


Dia pun keluar dari ruang rawat lalu beranjak pergi ke kantin rumah sakit.


"Alice!" seru seseorang dari belakang Alice. Tak peduli, Alice melanjutkan jalannya.


"Hey, kau tidak mendengarku!" ujar seseorang yang menghampiri Alice. Dia Xander.


"Tidak!"


"Aishhh, tidak asik berbicara denganmu!" kata Xander.


"Kalau begitu tidak usah bicara... Pergi sana!" ketus Alice.


"Jangan begitu, kita kan teman!"


"Teman?" tanya Alice.


"Ya. Teman!"


"Sejak kapan?!... Aku tak pernah menjadi temanmu. Kenal saja baru satu hari!" kata Alice tanpa menatap lawan bicaranya.


"Sejak tadi pagi!" ucap Xander sambil tersenyum.


"Dengar. Aku bukan temanmu..."


"Tapi kau temanku!" potong Xander.


"Ah, terserahlah. Aku mau ke kantin rumah sakit. Kau pergi sana!" kata Alice sebal.


"Benarkah. Aku juga mau kesana!"


Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju kantin yang agak jauh memang.


Kini mereka sudah sampai. Kantin rumah sakit memang luas, dan banyak orang disana. Ramai. Membuat Alice berpikiran untuk tidak jadi makan. Tapi, mengingat perutnya yang terasa sudah sangat lapar, dia pun segera memesan makanan, bersama Xander. Setelah itu, mereka pun mencari tempat duduk yang kosong.


Tidak lama menunggu pesanan mereka datang. Alice pun melahap makanannya dengan rakus. Xander hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala menatap Alice.


"Bisakah kau makan dengan tenang. Nanti tersedak!" kata Xander.


"Tidak. Kau siapa mengaturku?" ketus Alice.


Lagi-lagi Xander menggeleng- gelengkan kepalanya. "Terserah-mu, lah! Dasar keras kepala!" gumam Xander yang mendapat cibiran dari Alice.


Setelah selesai makan, Alice pergi ke penjual tadi--meninggalkan Xander yang masih makan--sambil hendak mengambil uang dari sakunya.


'Oh, iya. Baru ingat. Aku, kan gak bawa uang. Aduh, gimana, nih' batin Alice sambil menepuk jidatnya.


"Udah. Biar aku yang bayar!" kata Xander tiba-tiba datang, layaknya bisa membaca pikiran Alice tadi.


"Ini, bu!" kata Xander sedaya memberikan uangnya kepada penjual tadi.


"Akan kuganti uangmu nanti!" kata Alice tak mau berhutang.


"Sudah-lah. Tak usah!" tolak Xander.


"Tidak. Aku tidak mau berhutang dengan seseorang!" kata Alice lagi.


"Tak perlu!" tolak Xander lagi.


"Tidak mau. Sudah kubilang aku tak mau berhutang..."


"Hmmm!" kata Xander tak mau berdebat lagi.


"Tapi... Kenapa kau ada disini?" tanya Alice.


"Kau sendiri?" tanya Xander balik.


"Apa itu penting bagimu?"


"Lalu, apa itu juga kau bertanya untuk apa aku ada disini?!" kata Xander tak mau kalah.


"Menyebalkan" gumam Alice dengan suara kecil, namun bisa didengar Xander karena suasana sepi koridor rumah sakit.


"Ayahku sedang sakit. Dia menderita penyakit. Sudah lama!" ujar Xander murung. Alice agak merasa bersalah karena menanyakan itu.


Sejenak Alice berpikir. Kenapa Alice merasa dekat dengan Xander? Untuk apa menanyakan hal tadi pada Xander? Padahal, Alice biasanya tak banyak bicara pada orang lain.


"Boleh aku bertemu dengannya?" tanya Alice dengan sendirinya. Bahkan sebelumnya, Alice tak berpikiran untuk bertemu ayahnya Xander.


"Apa itu penting bagimu?" canda Xander.


'Ishhh' cibir Alice sambil menatap sinis Xander.


"Tentu, boleh!" ujar Xander sambip tertawa kecil melihat Alice tadi.


Mereka pun berjalan menuju ruang rawat ayah Xander.


'Ciiit'


Bunyi decitan pintu terdengar jelas saat Xander membuka pintu ruangan. Ya, ruang rawat ayahnya. Dia pun masuk diikuti Alice di belakangnya.


Kedatangan Alice disambut ramah oleh ayah dan ibu Xander yang ada di ruangan itu.


"Kamu teman Xander?" tanya ibu Xander dengan senyuman.


"Ya, tante!" jawab Alice.


"Baru hari pertama sekolah, sudah dapat teman dekat!" kata ayah Xander.


Alice menatap tubuh ayah Xander. Tampak sehat. Tak seperti orang sakit kebanyakan.


Tatapan Alice berhenti saat ia melihat mata ayah Xander. Tubuhnya memaku, tak berkutik dari tempatnya.


Penglihatan apa lagi ini?