Alice

Alice
Bagian 67



Setelah beberapa lama mereka saling berdiam-diaman Alice mulai berkata-kata.


"Sejujurnya Alice... Alice..."


Ucap Alice terbata.


Di saat yang bersamaan Orang tua Dewi datang menghampiri Purnama dan Alice.


"Assalamualaikum!"


Seru Ibu Dewi.


"Wa allaikumus sallam!"


Jawab Alice dan Purnama.


"Maaf lama ya nunggu nya?"


Seru Ibu Dewi.


"Enggak ko bu belum lama.!"


Jawab Purnama


"Tadi Asti sama Dahlan, nyariin kunci mereka jadi gak bisa masuk kamar penginapan.!"


Jelas Ayah Dewi.


"Astagfirullah Alice lupa ngasih kunci ke kak Asti.!"


Seru Alice.


Purnama merogoh saku nya.


"Ya ampun benar saja ini kunci penginapan, kakak juga lupa memberikannya kepada Dahlan.!"


Seru Purnama.


"Sebaiknya kalian segera Pulang.!"


Seru Ibu Dewi.


"Kalau begitu kami pamit ya bu,pak Assalamualikum!"


Seru Purnama.


"Wa allikumus sallam, hati-hati ya.!"


"In shaa Allah.!"


Jawab Alice.


Alice dan Purnama berjalan keluar dari rumah sakit.


Purnama mencoba menghubungi Dahlan untuk memastikan keberadaan mereka.


"Assalmaualikum!"


Seru Purnama.


"Wa allaikumus sallam.!"


Jawab Dahlan.


"Bang kamu di mana sama Asti, sorry ya aku lupa ngasih kunci tadi.!"


Seru Purnama.


"Emang dasar loe ya, gue sama Asti lagi shooping nih.!"


Jawab Dahlan.


"Aku pikir lagi di luar kedinginan taunya lagi pada belanja, sekalian ya cariin baju buat aku nanti aku bayar di penginapan."


Titip Purnama


"Ok tenang aja selama ada gue semua aman terkendali hahahh!"


Seru Dahlan seraya menutup telponnya.


"Gimana kak?"


Tanya Alice.


"Di matiin telponnya, mereka lagi pada belanja katanya.!"


"Syukurlah Alice kira mereka lagi pada nungguin kita.!"


"Enggak kamu tenang aja, gimana kalau kita ngobrol dulu sambil cari makanan?"


"Ngobrol di mana kak?"


"Gimana kalau kita jalan aja dulu ikutin jalan ini?"


Alice mengangguk, mereka pun berjalan menyusuri jalan, hingga akhirnya mereka sampai di sebuah tanah lapang.


"Ih ada pasar malam kak?"


Seru Alice.


"Mana?"


Tanya Purnama.


"Itu loh kak itu...!"


Seru Asti sembari menunjuk.


"Kamu mau kita kesana?"


Tanya Purnama.


"Mau kak mau.!"


Melihat Alice yang begitu antusias membuat Purnama merasa senang.


"Ayo kita pergi kesana!"


Ajak Purnama sembari tersenyum.


"Boleh kakak pegang tangan kamu?"


Tanya Purnama.


"Emhsss."


Jawab Alice tertunduk.


"Ya udah gak papa ayo, maaf ya.!"


Seru Purnama.


Alice mengangguk dan berjalan di samping Purnama.


"Kamu pernah ke tempat seperti ini sebelumnya?"


Tanya Purnama.


"Tentu dulu waktu masih kecil kak."


"kamu mau naik wahana yang mana?"


Tanya Purnama.


"Kakak mau nemenin?"


Tanya Alice lagi.


"Tentu kenapa tidak, selama kamu senang.!"


"Alice mau naik kora-kora kak."


"Kora-kora?"


Tanya Purnama heran.


"Itu loh kak wahana yang itu, yang mirip perahu itu.!"


Alice menunjuk salah satu wahana di pasar malam.


"Boleh Ayo."


Alice dan Purnama berjalan menuju wahana yang di maksud Alice tadi.


"Apa yang harus pertama kita lakukan?"


Tanya Purnama.


"Beli dulu tiket nya kak.!"


"Dimana kita bisa beli tiket?"


Tanya Purnama.


"Itu kak...!"


Tunjuk Alice.


"Disini?"


tanya Purnama heran.


"Beli tiket nya dua.!"


Seru Purnama dan benar saja separuh lengan keluar dengan dua buah tiket, Purnama sempat merasa kaget, karena lengan itu muncul tiba-tiba, tak ayal kejadian tersebut membuat Alice tertawa lucu.


"Kakak kaget banget loh seriusan.!"


Ucap Purnama.


"Itu kan orang kak yang di dalam bukan hantu."


Jelas Alice.


"Ohwww, jadi sekarang kita ngapain?"


Tanya Lagi Purnama.


"Ayo naik.!"


Seru Alice sembari menaiki anak tangga.


"Eh awas jatuh hati-hati loh itu baju nya takut kesangkut.!"


Seru Purnama dari bawah.


"Ayo kak naik!"


Teriak Alice.


Purnama pun dengan takut-takut menaiki tangga dan duduk di samping Alice.


"Ini aman?"


Tanya Purnama khawatir.


"Aman kak in shaa Allah.!"


Jawab Alice.


"Kamu yakin?"


Tanya lagi Purnama.


"Udah coba dulu aja nanti kkak pasti ketagihan.


Wahana kora-kora pun semakin penuh oleh para peminat nya setelah semua kursi penuh Wahana tersebut mulai berayun perlahan, semakin lama semakin tinggi dan semakin cepat, Purnama dengan spontan menggenggam tangan Alice sembari terpejam.


"Astagfirullah."


Alice hanya tertawa melihat Purnama yang merasa takut.


"Buka mata kakak!"


Purnama menggeleng.


"Buka kak!"


Seru Alice lagi.


Purnama Pun perlahan membuka matanya.


"Kakak takut jatuh.!"


Ucap Purnama.


"Kakak kalau takut teriak saja, pasti takutnya hilang.!"


Teriak Alice.


"Coba kak ayo.!"


Seru Alice lagi.


Purnama pun berteriak sekeras mungkin namun dengan tangan masih menggenggam tangan Alice, perlahan wahana itu pun mulai melambat dan berhenti.


"Ayo kak turun!"


Ajak Alice.


"Udah nih, gak akan bergerak lagi?"


Tanya Purnama.


"Udah kak, in shaa Allah."


Jawab Alice


"Bener ya serius?"


Alice mengangguk sembari tersenyum lucu.


Purnama pun berdiri di saat Purnama telah berdiri bersama Alice, dan mereka hendak melangkahkan kakinya namun ternyata wahana tersebut sedikit bergerak membuat Purnama seketika memeluk tubuh Alice dan memejamkan matanya.


Alice tersentak kaget saat dia membuka matanya bersamaan bersama Purnama, mereka tengah berpelukan.


"Astagfirullah kak!"


Seru Alice, Purnama melepaskan pelukannya seketika.


"Maaf, maafin kakak, tadi kakak hanya ketakutan!"


Jawab Purnama


"Ayo kak turun.!"


Seru Alice sembari lebih dulu turun dari wahana.


Saat di bawah Alice mengajak Purnama untuk minum terlebih dahulu.


"Maafin kakak, sungguh kakak tidak ada maksud apapun.!"


Seru Purnama.


"Iya kak, Alice juga ko yang salah karena mengajak kakak naik wahana itu.!"


"Maaf ya kakak gak berani bilang kalau sebenarnya kakak takut ketinggian.!"


"Astagfirullah kak maafin Alice ya udah maksain kakak naik wahana itu.!"


Seru Alice tidak enak hati.


"Iya sudah gak papa, lagian kan Alice juga gak tahu, mau berkeliling lagi?"


Tanya Purnama.


"Kakak udah baikan?"


Tanya Alice, Purnama mengangguk


Alice dan Purnama pun kembali berjalan hingga sampai di sebuah toko aksesoris, Purnama melihat ada sepasang cincin titanium yang bisa di ukir nama.


Purnama melewatinya sekejap namun kemudian berhenti di ujung pasar.


"Alice, emhsss Alice kakak mau ada perlu sebentar ya, Alice tunggu disini sambil pilih-pilih barang kalau ada yang cocok ambil aja nanti kakak yang bayar.!"


Seru Purnama.


Tanpa sempat Alice berkata-kata Purnama sudah melesat jauh berlari meninggalkan Alice.


Purnama kembali ke toko aksesoris tadi.


"Mbak saya mau cincinnya satu pasang yang ini, tolong di ukir nama ya, yang laki-laki pake tulisan Alice dan yang Perempuan kasih tulisan Purnama.!"


Seru Purnama.


"Ukuran cincin nya kak?"


Tanya Mbak Penjual.


"Saya gak tahu, heheh sepertinya seukuran jari mbak karena tinggi kalian sama dan badannya pun tidak jauh beda."


Purnama menjelaskan.


"Baik kak silahkan tunggu.!"


Seru mbak penjual.


Purnama melihat sebuah bross kerudung berbentuk mawar yang indah Purnama mengambil bros tersebut.


"Sudah jadi kak!"


Seru mbak penjual.


"Saya ambil ini juga ya mbak, sekalian tolong sama kotak cincin nya ya yang bentuk hati warna merah.!"


"Silahkan kak!"


Seru mbaknya sembari menyodorkan hand bag kecil terbuat dari kertas kardus.


"Berapa mbak semuanya?"


"Seratus lima puluh ribu kak.!"


"Ini uang nya mbak terimakasih.!"


"sama-sama!"


Purnama kembali berlari menuju tempat dimana dia meninggalkan Alice tadi...