Alice

Alice
Bagian 142



"Dokter!, suster!, Dokter!,Suster!"


Teriak Purnama sekeras mungkin.


Semua orang Panik dan menarik Purnama.


"Ada apa ini?!"


Tanya Bapak Alice.


"Cepat panggilkan Dokter atau suster!, Detak jantung Alice melemah!"


Ucap Purnama sembari menangis.


"Apa?!"


Ucap Topan kaget.


Dahlan dan Iqbal Berlari mencari Dokter dan suster.


Sementara Topan menarik kerah baju Purnama.


"Apa yang udah loe omongin sama Alice sampai akhirnya sekarang Alice detak jantungnya melemah!"


Ucap Topan emosi.


"Kurang semua penderitaan yang udah elo kasih buat dia sampai akhirnya elo mau bikin dia pergi dari sisi kami?!"


Ucap Topan lagi.


Purnama hanya menangis tak mampu berkata apa-apa.


"Sudah Cukup hentikan, apa-apaan kalian ini sekarang kalian berdua keluar dari rumah sakit ini!"


Ucap Bapak Alice menjadi sangat emosi dengan kelakuan Topan dan Purnama di tengah-tengah Kondisi Alice.


"Pak udah pak jangan begitu!"


Ucap Mamah Alice


Asti dan Desi beserta Ibu kos mencoba memisahkan Purnama dan Dahlan.


"Sialan Loe Pur brengsek!"


Ucap Topan sembari mendaratkan satu pukulan tepat di pipi kiri Purnama, Purnama Pun tersungkur dan bangkit di bantu oleh Desi dan Asti sementara Topan yang sedang di pegangi Ibu kosan Menonjok tembok beberapa Kali.


Disisi lain Dokter dan Perawat berlari ke arah ruang rawat Alice.


"Dok tolong selamatkan anak saya Dok!"


Ucap Bapak dan Ibu Alice


Tanpa menjawab Dokter dan Perawat pun memasuki kamar rawat Alice.


Semua orang menunggu di luar dengan panik sembari sesekali menatap apa yang dilakukan dokter di dalam sana.


Tiga Puluh menit berlalu Dokterpun keluar dari dalam kamar Alice.


"Dok bagaimana anak saya Dok?!"


Tanya Bapak Alice.


"Alhamdulillah Alice sudah bisa melewati massa kritisnya, inilah alasan saya sebenarnya melarang kalian semua menjenguk Alice terlebih dahulu, karena meskipun Pasien tidak bisa membuka matanya tapi dia bisa mendengar apapun yang kita bicarakan, ketika tekanan dari luar itu datang, hal itu bisa membuat Pasien memikirkan hal yang belum saatnya dia pikirkan.!"


Ucap Dokter


Penjelasan Dokter membuat Purnama semakin merasa bersalah.


"Terimakasih Dokter!"


Jawab Mama Alice.


"Saya Permisi!"


Ucap Dokter


"Silahkan Dok!"


Ucap Ibu kosan.


Tak ada lagi suara perdebatan di bangsal Rumah sakit semua nampak tenang, Asti duduk di samping Dahlan dan Purnama sementara Desi duduk di kursi di samping Iqbal yang berdiri di sebelahnya.


Adzan maghrib berkumandang.


"Mah ayo kita solat!"


Ajak bapak Alice kepada Istrinya.


"Saya juga Ikut!"


Ucap Purnama.


"Biar saya sama Iqbal yang jaga Alice disini, nanti kita gantian shalatnya!"


Ucap Desi.


Semua orang kecuali Desi dan Iqbal, pergi ke mushola.


Iqbal pun duduk disamping Desi.


"Kamu cape?"


Tanya Iqbal


"Enggak kak, Alice biasanya yang selalu nemenin aku kalau aku lagi sakit atau lagi sedih, dia selalu ada buat aku kak, bahkan meskipun dia tengah sakit dia selalu berpura-pura baik-baik saja.!"


Ucap Desi bercerita.


Iqbal mengelus kepala Desi dan menyandarkannya di Pundak Iqbal.


"Semua orang tau bagaimana Alice, kita hanya perlu berdoa, selepas kak Purnama pergi maka kak Asti dan Kak Dahlan yang akan pergi, tugas kita buat bikin Alice tidak memiliki waktu untuk merasakan kehilangan.!"


Ucap Iqbal.


Desi mengangguk sembari menyeka air matanya.


"Desi.!"


"Irma!"


Ucap Desi sembari berdiri dan memeluk Irma.


"Bagaimana kondisi Alice?!"


Tanya Irma


"Alice baru saja melewati massa kritisnya Ir, dia sekarang masih terbaring di dalam sana.!"


Ucap Desi menjelaskan.


Irma pun melepaskan pelukan Desi dan menghampiri Pintu kamar rawat Alice.


"Astagfirullah Lice.!"


Ucap Irma sembari meneteskan air mata tak tega melihat Alice yang sudah di pasangi beberapa alat bantu di tubuhnya.


Irma menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya berusaha meredam tangisannya.


Desi menghampiri Irma dan memeluknya lagi.


"Ya Allah Des kasian Alice.!"


Ucap Irma sembari meredam tangisannya.


"Apa aku boleh masuk?"


Tanya Irma kepada Desi.


"Tidak Ir, siapapun belum boleh ada yang masuk ke dalam.!"


Jawab Desi.


"Sebaiknya kita duduk dulu disni nanti setelah yang lain kembali kita ke mushola dan berdoa bersama.!"


Ajak Desi kepada Irma.


Seorang laki-laki dengan seragam hitam-hitamnya berjalan menghampiri Desi, Irma dan Iqbal.


"Permisi apa ada Den Purnama?"


Tanya Pak Mamat supir keluarga Purnama


"Purnama masih solat di mushola pak, tunggu saja disini, apa bapak akan menjemput Purnama?"


Tanya Iqbal


"Iya saya di tugaskan mengantar Den Purnama sampai bandara, penerbangannya tinggal satu jam lagi seharusnya Den Purnama sudah cekin sekarang.!"


Jawab Pak Mamat.


Tidak ada yang menjawab lagi ucapan pak Mamat semua tertunduk membayangkan kepergian Purnama di tengah kondisi Alice yang sewaktu-waktu bisa saja memburuk lagi.


sepuluh menit kemudian Purnama dan yang lain menghampiri kamar Alice.


"Pak mamat!"


Ucap Purnama kepada Sopir keluarganya.


"Den mari kita segera ke bandara penerbangan Aden sudah kurang dari satu jam, barang-barang Aden sudah ada di mobil.!"


Ucap Pak Mamat tanpa berbasa-basi.


"Bagaimana mungkin bisa pk, bapak tahu sendiri di dalam sana ada orang yang paling saya cintai masih terbaring lemah!"


Seru Purnama mencoba membantah.


"Den saya paham betul maksud dan perasaan aden, tapi saya juga minta tolong sama aden, tolong jangan persulit pekerjaan saya, bagaimana nasib anak istri saya di kampung kalau saya sampai di pecat karena tidak bisa membawa aden pergi dari sini.!"


Jawab Pak Mamat memelas.


Purnama menunduk dan menghela napas dalam-dalam.


"Nak Pur, Pergilah jangan membuat orang lain kesulitan atas ego kita, percaya sama bapak kita ini hanya wayang di dunia ini semua skenario itu sudah Allah catat, ajal, jodoh dan kebahagiaan semuanya juga sudah tertulis, tidak ada yang perlu kita khawatirkan sebagai umatnya, pergilah kami disini akan selalu bersama Alice.!"


Ucap Bapak Alice


Purnama pun merangkul Bapak Alice dan menciumi tangannya.


"Tolong pak maafkan saya karena tidak bisa menjaga anak bapak, terlebih sekarang saya harus pergi di saat yang tidak tepat, sampaikan kepada Alice saya akan tetap mencintai dia apapun dan bagaimanapun kondisinya.!"


Ucap Purnama.


Bapak Alice hanya menepuk-nepuk punggung Purnama dan menyeka air mata yang mencoba menetes keluar.


"Pergilah nak!"


Ucap Bapak Alice lagi.


Purnama kemudian menatap satu demi satu wajah orang-orang yang menatap ke arahnya.


Purnama merangkul Dahlan kemudian.


"Bang aku titip Alice.!"


Ucap Purnama Kepada Dahlan.


"Jangan khawatir gue sama Asti bisa pergi setelah Alice baik-baik saja, percaya sama gue, bagi gue Alice udah kayak ade gue sendiri, jangan banyak pikiran berjuang disana demi massa depan elo sama Alice.!"


Jawab Purnama berusaha bersikap tegar.


Purnama memeluk satu demi satu sahabat-sahabatnya dan setiap orang yang ada di sana untuk berpamitan.


Tibalah saatnya Purnama berhadapan dengan Topan.


"Sory kalau aku udah bikin kamu kecewa, aku janji ini kali terakhir aku lalai menjaga Alice.!"


Ucap Purnama


Topan tanpa menjawab hanya mengangguk kemudian memeluk Purnama


"Den Mari!"


Ucap Pak Mamat sembari mendekati Purnama.