
Hanya sedikit penjelasan dan sedikit bantuan yang diperintahkan Alice untuk rencana ini pada Army.
Bahkan, Lebih tepatnya seperti sebuah permintaan yang sangat tidak dibutuhkan, tapi semua para staf baik staf Bts dan seluruh tentara mematuhi aturan yang telah di perintahkan Alice.
Live streaming yang dilakukan oleh para Bts dan Army hanya dilakukan dalam jangka waktu kurang lebih 20 menit.
Setengah jam 11.00 malam hari setelah live streaming berakhir semua Army akan diantar satu persatu ke tempat tinggal mereka masing-masing.
Live streaming berjalan dengan lancar tak ada hambatan sama sekali, hingga semua staf yang ada diruangan itu bubar satu persatu begitu juga dengan para member.
Para member tidak melihat dimana Alice berada. Padahal baru saja saat live streaming berlangsung Alice juga berada diantara mereka memperhatikan para Army, mereka tak ambil pusing mungkin mereka mengira Alice ntah kekemar untuk beristirahat mengingat dirinya sedang sakit.
Para member perlahan satu persatu masuk ke kamar masing-masing begitu juga dengan para staf yang mulai berhilangan satu persatu dari ruangan megah itu.
Sementara Alice kini duduk di sebuah ruangan dengan pencahayaan yang remang diatas kursi yang empuk dalam diam, ntah apa yang sedang dia pikirkan dalam ruangan remang itu dalam diam sendirian.
Sekitar satu jam setengah dia masih duduk tanpa terusik didalam ruangan itu tanpa suara sama sekali.
Dia hanya diam seribu kata sendirian dan sibuk dengan isi pikiran-nya.
Hentakan langkah kaki perlahan terdengar sayup-sayup di gendang telinga Alice pelan, tapi Alice tidak menghiraukan-nya dan tetap masih dengan posisinya yang santai diatas kursi.
Tiba-tiba terdengar suara seseorang memegang gagang pintu dan muncul cahaya dari balik pintu bayangan seorang pria kekar terlihat dari sudut mata Alice.
Alice hanya tetap diam ditempat. Hingga, matanya di silaukan karna lampu yang menyala begitu terang telah memenuhi ruangan putih besar tempat dia berada saat ini.
"Sudah kuduga... Kau memang pintar" Ujar Alice pada seseorang tersebut tanpa menoleh kearah nya, seakan tau siapa yang akan datang ke ruangan itu untuk menemuinya.
"Iya... Seperti yang kau duga" Ucapnya sedikit tertawa dan berjalan perlahan kearah Alice dengan santai.
Alice membuka matanya perlahan memandang seseorang pria yang kini sudah berada di depannya berdiri tegap sedang memandangnya tajam.
"Bagaimana kabarmu? " Tanya nya pada Alice sembari menekan keras bekas jahitan dibahu Alice yang masih terbungkus perban putih.
Iya, dia adalah John, pria terpintar didunia Mafia Deep Black dalam segala hal retas meretas segala data yang diperlukan.
Melihat ekpresi Alice yang datar, John kembali menekan -nekan bekas luka Alice semakin dalam dan menatap matanya
"Bagaimana ha? " Tanya nya sampai Alice tidak bisa lagi menyembunyikan rasa perih yang dia rasakan di bahunya.
"Sungguh... Sangat baik" Ucap Alice dengan sedikit menekan suaranya dan menepis lengan John keras dari bahunya.
John hanya tertawa kecil dengan senyuman menyepelekan terukir jelas dibibirnya melihat kelakuan Alice yang menahan kesakitan.
"Ohh... Hai" Sapa seseorang dari balik pintu
Alice melihat kearah sumber suara dari arah pintu masuk seseorang yang sangat dia kenal.
James... Ayah angkat Alice, sekaligus seorang pria paruh baya yang kejam, tanpa henti memperdaya keluarga Alice tanpa henti.
Seketika darah Alice mendidih begitu saja saat melihat pria yang sangat dia benci itu kini berdiri tepat dihadapan-nya dengan bugar dan sehat.
Alice hanya diam dengan aura panas yang sudah menyelimuti dirinya. Rasa haus ingin menerkam orang itu sudah memenuhi jiwanya. Tapi Alice hanya diam sembari memegang kuat-kuat ujung bajunya hingga tampaklah urat lehernya dari sana sebab menahan diri agar tidak keluar batas.
"Kode-kode mu itu sangat murahan... Aku tidak menyangka kau sampai-sampai menggunakan trik itu" Ucap James sembari bersender ke ujung meja lebar yang berada di ruangan itu, hingga tampaklah kaki jenjang dari pria baruh baya itu.
"Padahal kami sudah melatihmu dengan sangat hati-hati sampai-sampai kau sangat istimewa... Tapi trik mu ini sangat murahan... Aku tidak tau kau begitu payah" Ucap James sembari memantikkan sebuah mantikan ke rokok yang sudah berada di bibirnya.
"Sangat payah" Ucapnya kembali diiringi kepulan asap yang keluar dari mulutnya.
Alice tertawa sangat keras mendengar ucapan James yang menyepelekan dirinya hingga suaranya menggema diruangan besar dan putih itu.
"Kita lihat saja nanti" Ucap Alice seketika berubah ekspresi menatap tajam ke arah James.
James hanya diam menatap balik kearah Alice tanpa kata.