Alice

Alice
Bagian 143



Purnama menatap lekat wajah pak Mamat setelah melepaskan pelukan Topan.


"Sebentar pak saya mau melihat Alice dulu sebentar saja!"


Ucap Purnama sembari membuka Pintu kamar rawat Alice.


Topan yang berniat menghalangi di tahan Oleh Ibu kos yang memegang tangannya sembari menatap wajah Topan dan menggelengkan kepala.


"Biarkan sebentar!"


Ucap Ibu Kos.


Topan pun hanya menatap ke dalam melalui kaca pintu kamar rawat.


"Sayang cepat sembuh kakak sayang kamu!"


Ucap Purnama sembari mencium kening Alice.


"Kakak harus pergi sayang, sekarang sudah tiba waktunya bagi kita berpisah sementara baik-baik sayang, ingat janji kamu, kamu harus menepati janji itu, kamu akan menunggu kakak pulang, selamat tinggal sayang selamat tinggal.!"


Ucap Purnama dalam hatinya sembari menangis dan terus menciumi kening Alice beberapa kali kemudian mengelus-elus kepala Alice.


Purnama meraih tangan Alice dan menciuminya.


Bapak Alice menyusul kedalam kamar rawat kemudian meraih Pundak Purnama dan mengangguk.


Meski berat meninggalkan Alice Purnama harus tetap pergi demi kebaikan bersama.


Perlahan Purnama melepaskan tangan Alice sembari tetap menatap Wajah Alice.


Setibanya diluar Purnama masih belum mampu memalingkan wajahnya dari kamar Alice.


"Mari Den, saya bantu!"


Ucap Pak Mamat sembari menarik tangan Purnama.


Dengan Langkah yang berat Purnama pun tak mampu membendung air matanya, semua orang yang ada disana pun melepas kepergian Purnama dengan wajah yang sedih.


"Sory gue gak bisa antar elu kebandara baik-baik di sana brow.!"


Ucap Dahlan dengan tangis di balik senyum renyahnya.


Semua orang melambaikan tangan dan mencoba merubah ekspresi mereka untuk tersenyum.


"Mari Den!"


Ucap Pak Mamat lagi kepada Purnama supaya Purnama bergegas pergi dengannya.


Sesampainya di parkiran Purnama telah masuk kedalam mobil yang di bawa Pak Mamat, namun matanya masih saja menatap ke arah rumah sakit.


Di bagian lain tempat Parkir terparkir rapi di antara deretan mobil, sebuah mobil milik orang tua Purnama berwarna merah hati.


"Sekarang mamah sudah Puas?!"


Tanya Papah Purnama setelah melihat Purnama Masuk kedalam mobil pak Mamat dan mulai meninggalkan area parkir rumah sakit.


"Belum pah, kita ikuti sampai Bandara, ayo cepat jalan! malah bengong.!"


Ucap Mamah Purnama


Meskipun dengan hati kesal Papah Purnama tetap mengikuti kemauan istrinya.


Sementara itu di dalam Rumah sakit.


Dari dalam rumah sakit Asti dan Dahlan menatap kepergian mobil Purnama, Asti hanya bisa menangis di pelukan Dahlan menyaksikan kepergian Purnama.


Dahlan mengelus-elus kepala Asti mencoba menenangkannya.


"Kasian Alice bang!"


Ucap Asti


"Sabar saja kan masih ada Kita dan yang lain, sekarang sudah menjadi kewajiban kita sebagai kakak Alice untuk memastikan kesehatannya.!"


Ucap Dahlan.


"Kak Asti dan Kak Dahlan tenang saja, aku sama Desi juga ada buat Alice,seperti kata Bapak Alice kita adalah keluarga.!"


Ucap Iqbal menambahkan.


Dahlan merangkul Iqbal dan Asti pun merangkul Desi.


"Kita pasti kuat demi Alice.!"


Seru Asti sembari tersenyum meski masih berair mata.


Sementara Purnama sepanjang jalan perjalanan ke Bandara tak berhenti meneteskan air mata.


"Yang sabar Den.!"


Ucap Pak mamat yang tak tega melihat Purnama.


"Pak tolong sering-sering tengokin Alice ya ke rumah sakit, saya titip ini tolong berikan ini kepada Dahlan ya Pak!"


Ucap Purnama sembari menyodorkan kartu Credit ke supirnya.


Pak Mamat menerima kartu tersebut dan memasukannya kedalam saku.


"In shaa Allah Den saya akan sering menengok nona Alice.!"


Ucap Pak Mamat kepada Purnama.


"Panggil saja Neng Alice pak, dia tidak suka hal-hal yang berlebihan.!"


Ucap Purnama sembari memalingkan kembali wajahnya keluar kaca mobil.


"Seharusnya hari ini adalah hari perpisahan termanis bagi saya dan Alice pak.!"


"Manusia memang hanya sebatas berencana Den, Allah juga yang menentukan!"


Jawab Pak Mamat mencoba menguatkan Purnama.


"Benar Pak.!"


Ucap Purnama lagi dengan nada sedihnya.


"Alhamdulillah Den jalanan lenggang jadi kita bisa sampai tepat waktu ke bandara In shaa Allah!"


Ucap Pak Mamat.


Namun Purnama tak merespon, karena bukan ucapan itu yang Purnama harapkan keluar dari mulut Pak Mamat.


Sesekali Pak mamat melirik Purnama melalui spion.


"Pasti Den Purnama sedih banget, kalau saja mobil kita gak di ikutin Tuan dan Nyonya sudah pasti saya rela berbohong demi Den Purnama, tapi sayangnya mereka masih mengikuti sampai sekarang.!"


Seru Pak Mamat dalam hatinya sembari melirik spion di luar mobil.


Sesampainya di Bandara Pak Mamat menurunkan koper milik Purnama.


kemudian membukakan Pintu bagi Purnama.


Meski tak ingin Turun tapi Purnama harus tetap Turun.


"Ayo Den saya Antar.!"


Ucap Pak Mamat sembari menarik koper Purnama dan mengikuti Purnama dari sampingnya.


Sesekali Purnama masih menoleh kebelakang berharap Alice datang tiba-tiba mengantar kepergiannya.


"Andai saja kamu disini sayang, mungkin semua tidak akan terasa sesakit ini, cepat sembuh sayang I LoVe U.!"


Ucap Purnama dalam Hatinya.


"Den silahkan cek In.!"


Ucap Pak Mamat membuyarkan hayalan Purnama.


Pak Mamat Pun menyodorkan Selembar tiket pesawat kepada Purnama untuk dibawanya cek In.


"Maaf den saya tidak bisa ikut mengantar kedalam, hati-hati semoga selamat sampai tujuan dan cepat kembali.!"


Ucap Pak Mamat mengucap kata Perpisahan.


"Makasih Pak!"


Ucap Purnama lemah sembari menerima Tiket dan perlahan maju menuju petugas Bandara untuk melakukan Cek In.


"Silahkan masuk Pak, tolong cepat segera menuju Pesawat sebentar lagi Pesawat akan lepas landas, kami menunggu bapak sedari tadi.!"


Ucap Petugas Bandara sembari mengantar Purnama untuk memasuki pemeriksaan selanjutnya


Selesai pemeriksaan Purnama langsung di antar ke dalam Pesawat oleh petugas Bandara yang sengaja di bayar oleh mamah Purnama untuk memastikan anaknya memasuki Pesawat.


Tanpa berkata apapun Purnama hanya duduk dan menatap keluar Pesawat.


"Pak mohon maaf handphone nya apa sudah di matikan?"


Tanya seorang Pramugara kepada Purnama.


"Pak maaf, Pak!"


Ucap Pramugara kepada Purnama yang tidak merespon.


"Oh i...iya kenapa?"


Tanya Purnama kaget.


"Kita akan lepas landas tolong handphone apa sudah di matikan?"


Tanya Pramugara tersebut dengan nada tekanan.


"Oh ok. iya saya matikan!"


Ucap Purnama sembari mengeluarkan handphone nya dari dalam saku jaketnya dan mematikan nya.


"Terimakasih Pak, silahkan Pasang sabuk pengaman anda!"


Ucap Pramugara lagi Dan Purnama Pun melakukan hal yang diminta Pramugara.


Sementara Pesawat Purnama sedang siap landas Orang Tua Purnama di luar Bandara sedang mengintrogasi Petugas yang dibayarnya untuk mengantar Purnama ke dalam Pesawat.


"Kamu yakin anak saya sudah di dalam sana?!"


Tanya mamah Purnama


"Sudah Bu saya sudah mengantarnya langsung ke dalam pesawat dan ke tempat duduknya."


Jawab Petugas bandara meyakinkan.


"Bagus saya akan transfer sejumlah uang yang sudah saya janjikan ke kamu sekarang juga!"


Ucap Mamah Purnama.


"Terimakasih Bu!"


Ucap Petugas Bandara.


"Ayo Pah kita pulang, setidaknya kita sekarang bisa bernapas lega karena sudah berhasil memisahkan anak kita dari perempuan kampung itu!"


Ucap Mamah Purnama sembari tersenyum sinis.


Tanpa berkomentar Papah Purnama langsung memasuki mobil mengikuti Istrinya dan bergegas Pulang meninggalkan Bandara.