Alice

Alice
Bagian 159



Keesokan Paginya Topan sudah memarkirkan mobil nya di belakang mobil Dahlan di halaman Kosan Alice.


"Assalamuallaikum!"


Seru Topan menyapa semua orang yang ada di dalam ruangan.


"Wa allikumus sallam.!"


Jawab Semua serentak.


"Bapak sama Ibu sudah siap aja, sudah pada sarapan?"


Tanya Topan sembari mencium tangan orang tua Alice yang nampak sudah rapi memakai baju yang dibelikan Topan kemarin.


"Belum sarapan tapi gue udah pesen makanan bentar lagi nyampe kita bisa sarapan sama-sama dulu sebelum pergi!"


Ucap Dahlan.


"Jangan-jangan Gue gak kebagian?"


Tanya Topan sembari tersenyum.


"Tenang aja gue udah orderin buat elu juga ko!"


Jawab Dahlan lagi.


"Nak Topan terimakasih banyak atas baju dan oleh-oleh nya!"


Seru Ibu Alice berterimakasih.


"Sama-sama bu, saya hanya perantara saja sebenarnya semua ini Purnama yang berikan, heheh!"


Jawab Topan jujur.


Mendengar nama Purnama tak sanggup Alice mengelak, hatinya kaget dan mendadak merasa sedih, namun masih berusaha ia sembunyikan.


"Gimana kabar kamu hari ini?"


Tanya Topan lembut kepada Alice.


"Alhamdulillah baik kak!"


Jawab Alice tersenyum.


"Syukurlah heheh!"


Jawab Topan lagi sembari tersenyum pula.


"Permisi Go Food!"


Teriak seorang Ojek Online yang mengantar pesanan Dahlan.


Dahlan pun keluar bersama Asti dan Iqbal untuk membantu membawakan makanan dan minuman.


"Makasih ya mas!"


Seru Dahlan kepada ojol tersebut sembari menyodorkan uang.


"Kembaliannya Mas.!"


Ucap Ojol kepada Dahlan,sembari mengeluarkan Dompetnya dari saku untuk mengambil kembalian.


"Gak usah Mas, buat tips mas nya aja!"


Seru Asti sembari pergi meninggalkan ojol tersebut.


"Makasih Mbak, Alhamdulillah!"


Ucap Ojol sembari memasukan kembali dompetnya kedalam saku dan memarkirkan sepeda motornya.


Sementara Itu di kamar kos Alice nampak sedang sibuk membuka bungkusan makanan yang di bawa Ojol tadi, mereka langsung menikmatinya termasuk Alice yang perlahan-lahan ikut menikmati makanan yang di antar ojol.


Selesai makan Topan mengambilkan air ke dalam mangkok untuk Alice cuci tangan, supaya Alice tidak perlu turun dari tempat tidurnya.


"Ini cuci tangan disini saja!"


Ucap Topan.


"Makasih kak!"


Seru Alice.


Heeemhss!"


Jawab Topan mengangguk.


"Alhamdulillah terimakasih atas jamuan kalian semua anak-anak, Ibu dan Bapak tidak merasa khawatir Meninggalkan Alice, karena kalian bersama dia, ibu kadang bertanya-tanya dia akhir-akhir ini tidak pernah mau di kirim bekal ternyata ada kalian yang menjamin hidupnya, tapi bagaimanapun tidak baik terlalu bergantung kepada orang lain, selama kita sanggup kita harus berusaha memenuhinya sendiri!"


Ucap Ibu Alice


"Tidak bu, sebenarnya Alice bekerja juga dengan Desi mereka biasa bekerja paruh waktu, Alice juga sebenarnya salah satu anak yang paling susah menerima jika diberikan bantuan.!"


Seru Asti membela Alice.


"Syukurlah, sayang! cepat sembuh jangan terlalu banyak pikiran, sekolah yang jujur, mungpung Bapak sama Ibu masih sanggup membiayai sekolah kamu, tingkatkan terus prestasi kamu, demi meraih cita-cita kamu, jangan lagi menyembunyikan kesakitan kamu, jika kamu sakit hubungi kami, bagaimanapun kami selalu merasa khawatir tidak jelas jika kenyataanya kamu disini sakit tapi tidak memberi tahu kami.!"


Nasihat Ibu Alice kepada Alice.


"Pintar-pintar jaga diri, fokus sekolah jangan terlalu memikirkan hal yang tidak penting, tugas kamu sekolah yang benar!"


Tambah Bapak Alice.


"Iya bu, Pak, nasihat Ibu dan Bapak pasti Alice selalu ingat, bapak sama ibu juga sehat-sehat selalu ya, jaga kesehatan jangan terlalu capek kerja disawah, Hati-hati di jalannya, kak Tolong ya!"


Seru Alice terakhir menatap Topan.


"Udah kamu istirahat aja disini, baik-baik pokonya kakak Pastiin Ibu sama bapak sampai ke rumah selamat Aamiin In shaa Allah!"


Jawab Topan.


"Aku temenin lah, kasian nanti pulangnya sendiri!"


"Gak usah biar gue aja, elo disini sama cewek-cewek jagain Alice.!"


Ucap Dahlan kepada Iqbal.


"Oh ok.!"


Jawab Iqbal.


"Udah siap semua bu, pak?"


Tanya Dahlan.


"Sudah nak.!"


Jawab Ibu Alice.


"Ini barang-barang yang mau dibawa?"


Tanya Iqbal kepada orang tua Alice.


"Iya itu aja segitu!"


Jawab Bapak Alice,Iqbal dan Desi serta Asti membantu membawakan beberapa jinjingan kresek ke dalam bagasi mobil.


"Ibu sama bapak Pulang dulu ya, Assalamualaikum!"


Seru Ibu Alice berpamitan kepada Alice.


"Iya bu, hati-hati, maaf Alice gak bisa ikut antar.!"


Jawab Alice sembari mencium kedua tangan orang tuanya.


Astu dan Desi serta Iqbal mengantar sampai gerbang dan menatap kepergian keluarga Alice kemudian kembali ke kamar Alice.


"Sekarang waktunya kamu minum obat Lice!"


Seru Asti sembari membawa Gelas berisi air putih dan beberapa plastik obat.


Usai meminum obat Alice pun beristirahat.


Sementara di kediaman Rumah Purnama, Papah Purnama memutuskan pulang tanpa memberi tahu istrinya.


Sesampainya di rumah sang istri dengan kaget menyambut kedatangan suaminya.


"Papah kok gak bilang-bilang sama mamah mau pulang sih pah?"


Tanya Mamah Purnama.


Tanpa berbasa basi lagi Papah Purnama memulai actingnya di depan istrinya.


"Mah maafin papah mah!"


Ucap Papah Purnama.


"Maaf kenapa Pah?"


Tanya Mamah Purnama bingung.


"Perusahaan kita bangkrut mah, kita memiliki hutang besar pada beberapa investor perusahaan kita, Papah gak bisa mempertahankan kejayaan perusahaan kita mah!"


Ucap Papah Purnama sembari tertunduk lesu di atas sofa.


Mendengar hal tersebut mamah Purnama shok dan tak percaya.


"Gak mungkin pah, gak mungkin!"


Ucap Mamah Purnama mencoba menyangkal.


"Maafin Papah mah, semua kartu credit kita mulai hari ini di blokir, bahkan kemungkinan rumah ini pun akan disita oleh pihak investor untuk membayar lunas hutang-hutang kita, jika tidak kita bisa masuk penjara mah atas tuduhan penipuan!"


Ucap Papah Purnama mendramatisir keadaan.


"Apa!, enggak pah gak mungkin gak boleh!, kita akan tinggal dimana pah, bagaimana dengan apartemen kita di luar kota?"


Tanya Mamah Purnama berharap.


"Sudah Papah Jual mah, tidak ada lagi yang tersisa, mobil kita yang di garasi akan ikut disita juga mah!"


Seru Papah Purnama.


"Pah!, Papah Jangan bercanda Pah, jika kita bangkrut mamah Tidak bisa lagi membiayai kehidupan Topan dan gadis kampung itu, maka rumah ini pun akan menjadi milik mereka pah!"


Ucap Mamah Purnama.


"Gak mungkin mah, jika rumah ini jadi milik mereka dari mana kita bisa membayar lunas hutang-hutang kita pada investor?!"


Tanya Papah Purnama dengan nada kesal.


"Apa yang sudah mamah lakukan?, demi keserakahan mamah semuanya hancur sekarang maj, mamah pikirkan bagaimana pendidikan anak kita Purnama yang mamah Kirim keluar negeri sekarang, anak kita susah dihubungi mah, jauh dari pantauan kita sementara mamah sibuk mengurusi orang lain, ini hukuman mah karena selama ini mamah terlalu sombong dengan harta titipan ini!"


Ucap Sang suami kesal.


Mendengar ucapan Suaminya Mamah Purnama hanya termenung tak sanggup kehilangan kemewahannya selama ini.


"Jual semua perhiasan mamah, untuk melunasi hutang-hutang pada investor!"


Ucap Papah Purnama.


"Apa pah, jangan gila deh pah, mamah gak mau!"


Ucap Mamah Purnama.


"Lalu mamah lebih suka kita tinggal di kolong jembatan?!"


Tanya Papah Purnama lagi.


Mamah Purnama tertunduk mendengar bentakan suaminya tak sanggup lagi berkata-kata.