Alice

Alice
Bab 38 Pelarian Alice.



"Bagaimana jika dia benar benar ingin membunuh kita ???" kata Jimin setelah Alice masuk kekamarnya


"Dia tidak akan membunuh kita" kata Suga


"Kenapa kau bisa seyakin itu?" J-Hope berdiri dari duduknya dengan wajah yang sedikit khawatir.


"Iya sekarang hanya ada kita dan dirinya disini sekarang" tambah Jin


"Hyung kita harus cepat melaporkan ini pada manager" Ucap Jungkook


"Iya kau benar tunggu sebentar" kata Rm sambil mengambil hand phone miliknya dari kantong.


"Jangan ditelpon dulu" Suga mencegah Rm


"Kenapa?...kau ingin mati ?"tambah Rm


"Dia tidak akan membunuh kita" kata Suga sedikit berteriak kemudian memandang para member satu persatu


"Dia yang akan melindungi kita bukan membunuh kita" kata Suga.


"Itu benar Hyung dia juga menangis keras saat dia tau ternyata dia dijebak sendiri untuk membunuh orang tuanya… dia dijebak dan dia akan membunuh orang yang menjebaknya dan tak ada kaitannya sama sekali dengan kita" kata V setengah berteriak


"Laki laki didalam rekaman itu juga meminta Angel untuk berterus terang pada kita… dia meminta kita untuk melindungi Angel mana mungkin dia meminta kita untuk melindungi orang yang ingin membunuh kita" jelas V antusias dengan mata lebarnya meyakinkan para member


"Kau benar" kata mereka membenarkan perkataan V


"Kita tunggu saja sampai dia yang menceritakannya pada kita" sambung Rm kemudian memasukkan kembali hand phonenya kedalam kantong celana sesaat setelah mendengar penjelasan para member.


Ditengah pembicaraan mereka, Alice kemudian keluar dari kamarnya dengan menggunakan baju Jersey Top W sleepes berwarna hitam hingga menampakan kedua lengan putih dan perut cantiknya dengan memakai celana pendek hitam dengan sebuah tas kecil dipaha kanannya untuk menyimpan peluru sebuah pistol.


Alice membawa sebuah pistol dan pisau dipinggangnya dia mengikat rambutnya kucur kuda lalu berjalan dari kamarnya dengan tatapan tajam terus melangkah lebar khas diri mafianya kembali tanpa melihat para member yang sedang melihat kearahnya dengan tatapan bingung.


"Angel kau mau kemana ?" Tanya Rm sang ketua dari grup member angkat suara.


Alice tidak menjawab dan terus melangkah keluar.


"Jangan gegabah Angel" V menarik lengan Angel tanpa ada rasa takut pada dirinya.


Alice melihat V dan mendekatinya dengan tatapan tajam


"Apa kau tidak takut denganku ha?" Alice menepis tangan V keras.


"Tidak… aku tidak melihat aura jahat pada dirimu, aku hanya melihat kau wanita yang tersesat. Kami akan membantumu untuk keluar dari situasi ini" kata V tanpa jeda meyakinkan Alice.


"Jangan ikut campur urusanku jika kau masih ingin hidup" Ucap Alice sembari menunjuk-nunjuk dada V sampai dia terdorong kebelakang dan berlalu meninggal-kan V.


"Apa kau benar benar ingin menjadi wanita seperti iblis dan terus membunuh manusia tanpa ampun?" teriak V dan berhasil membuat langkah Alice terhenti


"Kami akan membantu mu dan kau akan membantu kami, jangan lagi melangkah kearah yang salah" tambah V


"Aku pergi untuk menenangkan diriku. Aku perlu waktu untuk berpikir" kata Alice tanpa membalikan tubuhnya menghadap mereka dan terus keluar dengan langkah lebarnya meninggalkan rumah member BTS dengan mata yang sama sekali hampir tidak berkedip karna kemarahannya.


Alice berlalu dengan sebuah mobil yang memang disiapkan untuknya oleh perusahaan Big Hit.


Alice terus menancapkan gas dengan kecepatan tinggi tak tentu arah.


Air matanya terus mengalir deras tanpa henti mengingat bagaimana dirinya menghabisi ibunya tanpa ampun dan mengangkat kepala ayahnya dengan ujung kakinya, suara tembakan dan kutukan dari orang tuanya terus terngiang berkali-kali ditelinganya.


Bahkan, saat ini orang yang satu satunya dia cintai kini harus mati ditangannya sendiri hanya karna dia ingin menunjukan sebuah kebenaran pada dirinya. Kini dia tau meskipun Arthfarl anak dari sang ketua, dia tidak pernah mau terlibat dalam segala urusan dalam kerja Mafia dan kenapa dia harus dimusnahkan.


Kini dia tau... Bahwa Arthfael memilih bertaruh nyawa agar Alice tau atas segala kebenaran yang sudah dari dahulu ditutup-tutupi.


James ketua mafia Deep Black yang dari dahulu telah dia anggap sebagai seorang ayah satu-satunya ternyata adalah biang keladi dari semua ini yang membuatnya menderita seperti ini.


Dia terus menangis tanpa henti dan membuat pandangannya kabur dengan tangan yang sesekali menghapus air matanya keras.


Beberapa kali dia melewati lampu merah dan hampir menabrak orang yang sedang berjalan dan kendaraan lainnya.


Suara klekson mobil terus bersaut-sautan tapi dia abaikan begitu saja.


Dunia seolah olah hanya diam menyaksikan bagaimana dia menjalani hidupnya tanpa ada yang perduli dengan derita yang di hadapi sejak lama.


Setelah sekian lama menunggu, akhirnya dia bertemu dengan orang tuanya yang sangat dia rindukan sejak dulu, tetapi malah dengan tanpa ampun dia merenggut nyawa orang-tuanya.


Menjadi bagian mafia tidak begitu mudah, dia harus berapa kali menghindari kejaran polisi, melawan para musuh yang beberapa kali menginginkan kematiannya.


Seorang mafia adalah orang yang benar benar harus siap untuk mati walau disiksa beberapa kali dan tetap berjanji untuk tidak membocorkan sedikitpun rahasia dari kehidupan mafia.


Alice saat ini bukanlah lari dari pakta atau mengindari kejaran perusahaan Big Hit. Tapi...dia berusaha untuk menenangkan hidupnya dengan cara melajukan mobil berkecepatan tinggi dan tetap harus menghindari kematian untuk membalaskan penderitaan orang tuanya dia berjanji harus melakukan nya.


Dia teringat dengan seberkas kata kata yang pernah dia katakan pada Arthfael bahwa dia akan membunuh orang yang membuat orang tuanya menderita. Tangis air matanya kemudian berhenti seketika berganti dengan senyuman sinisnya


"Baik sekarang aku yang akan mengambil alih permainanmu" Alice tersenyum licik dan menepis air matanya kasar


"Akan aku mandikan rambutku dengan darahmu" Ucap Alice dengan smirk-nya


Alice semakin mengencangkan gas mobilnya, melihat ada anak kecil yang sedang mengambil bola dijalan berniat menabraknya, kini darahnya sudah membara kembali, seolah mendapat semangat ntah dari mana datangnya.


"Angel awassssss" Teriak seseorang dari bangku belakang tiba tiba muncul menyingkirkan tangan Alice dari setir mobil dengan keras berpindah arah kedepan pohon dan menabrak pohon itu sampai mengeluarkan asap dari hoods depan mobil.


Alice bergegas keluar dari mobil memegang Kepala yang masih merintih kesakitan.


"V!?" kata Alice saat melihat V yang keluar dari mobil dengan memegang kepalanya


"Arkkhhhh" Keluh V kesakitan sembari memegang kepalanya


"Kenapa kau mengikutiku ?" Alice mendekat heran dengan kemunculan pria yang ada didepannya saat ini.


"Angel hidungku berdarah" katanya sambil menunjuk tangannya yang penuh darah pada Alice


Alice terdiam melihat pria miliadar didepannya dengan muka dingin


Alice kemudian berlalu berjalan meninggalkan V kearah Hoods mobil


"Angel bantu aku" katanya sambil memegang hidungnya yang masih mengeluarkan darah dengan muka paniknya


"Ahhh Dasar" kata Alice kemudian menghadap pada V


"Lakukan seperti ini" kata Alice menarik keras rambutnya kebelakang hingga mukanya menengadah keatas langit


"Kenapa seperti ini ??? bukankah seharusnya diobati " kata V kemudian mengembalikan kepalanya pada posisi semula dan darah itu kembali keluar


"Lakukan apa yang kukatakan" Alice menatap tajam


"Ahh aku mengerti" kata V takut kemudian kembali menengadah kelangit


Alice yang melihat itu tersenyum tipis melihat tingkah lelaki manja itu dengan aura yang sama sekali tidak menunjukan kejantanan pada dirinya.


Alice kemudian berjalan untuk memeriksa hoods mobil yang sudah mengeluarkan asap dari sana.


"Sampai kapan aku seperti ini ?"Tanya nya pada Alice


"Tunggu saja sebentar lagi" kata Alice sambil berlalu hendak memeriksa mobil yang rusak.