Alice

Alice
Bagian 145



"Lantas apa yang bisa kita lakukan untuk mengobati Alice dok?"


Tanya Iqbal lagi.


Bapak Alice hanya mendengarkan dengan ekspresi wajah datar tidak tahu harus berkata apa dan berbuat bagaimana, baginya mendengar Alice menderita Kanker darah stadium tiga saja sudah membuatnya lemas dan lemah.


"Apa sebelumnya pasien pernah di kemoterapi?"


Tanya Dokter.


"Pak."


Panggil Iqbal pelan kepada Bapak Alice sembari menyentuh tangannya, sepertinya bapak Alice tengah melamun sehingga tidak menjawab pertanyaan Dokter.


"Iya kenapa?"


Tanya Bapak Alice.


"Apa Alice pernah di kemoterapi sebelumnya?"


Tanya Dokter lagi, mengulangi pertanyaannya.


"Tidak pernah Dok, sebenarnya Alice sering keluar masuk rumah sakit tapi kami tidak tahu bahwa Alice separah ini dok!"


Ucap Bapak Alice menjelaskan.


"Bagaimana bisa, sedangkan Pasien sudah stadium tiga, jika kita terus membiarkannya kanker darah nya akan naik ke stadium empat dan ini bisa berakibat pada kematian!"


Seru Dokter membuat Iqbal dan Bapak Alice shok.


"Astagfirullah.!"


Ucap Iqbal.


"Baiklah kita tidak bisa menunda lagi pengobatan, kita akan mulai melakukan kemoterapi hari ini juga.!"


Seru Dokter.


"Baiklah tolong dok, tolong lakukan yang terbaik bagi Alice.!"


Ucap Iqbal


Bapak Alice langsung menyentuh tangan Iqbal dan menatap matanya.


Iqbal Bingung dengan maksud Bapak Alice.


"Dok apa biayanya akan sangat mahal?"


Tanya Bapak Alice.


"Pak, bapak tidak perlu memikirkan biaya, semua biaya pengobatan Alice sudah di tanggung oleh Purnama dan keluarganya!"


Jelas Dokter.


"Pak, Purnama selalu berpesan supaya Alice mendapatkan pengobatan terbaik di sini, Alice harus sembuh pak,bapak gak perlu mikirin apa-apa lagi.!".


Ucap Iqbal


Tak terasa air mata bapak Alice berderai terharu dan bersyukur sekali mendengar semua ucapan Dokter dan Iqbal.


"Baiklah tolong anak kami dok!"


Ucap Bapak Alice sembari menangis menyentuh tangan Dokter.


"Bapak dan keluarga berdoa kepada Allah, kami hanya membantu semaksimal mungkin, tapi setiap hasil akan kembali kepada Allah.!"


Ucap Dokter sembari mengelus-elus tangan Bapak Alice.


Bapak Alice sadar betul bahwa apa yang dikatakan Dokter itu benar adanya.


"Dok Alice kan masih belum sadarkan diri, apa pengobatan masih bisa tetap dilaksanakan?"


Tanya Iqbal penasaran sekaligus memastikan.


"Untuk hal itu...!"


Ucapan Dokter terhenti karena seorang perawat tiba-tiba masuk terburu-buru kedalam ruangan dokter.


Iqbal Dan Bapak Alice pun berpaling menoleh ke arah pintu.


"Dok!, dok!"


Ucap Suster terengah-engah.


"Ada apa sus?".


Tanya Dokter


"Dok itu, pasien yang sedang koma menunjukan pergerakan dok!"


Ucap Suster.


"Pasien yang mana?"


Tanya Iqbal berharap itu Alice.


"Alice dok!"


Ucap Suster sembari menatap Wajah Dokter.


Dengan sigap Dokterpun keluar dari ruangannya dengan di ikuti oleh Bapak Alice dan Iqbal.


Setengah berlari Dokter menuju ruangan rawat Alice.


Sesampainya di depan kamar rawat Alice.


Iqbal menghampiri Desi dan bertanya-tanya.


Begitu pula dengan Bapak Alice yang langsung menghampiri istrinya.


"Ada apa ini Des?"


Tanya Iqbal pada Desi


"Tadi suster memeriksa Alice dan jari-jari tangannya mulai bergerak katanya kak!"


Ucap Desi menjelaskan.


"Alhamdulillah, semoga Alice sadar!"


Ucap Iqbal berdoa.


Dari Luar nampak Topan dengan Ibu kos Alice yang lama datang dengan niat membesuk Alice.


"Ada apa ini, kenapa pada tegang?"


Tanya Topan kepada Iqbal.


"Alice, katanya jari-jari tangannya mulai bergerak!"


Jawab Iqbal.


"Beneran?"


Tanya Topan dengan senyum senang mendengar kabar tersebut.


"Iya mudah-mudahan saja Alice sadar hari ini.!"


Ucap Iqbal.


Ucap Desi.


Semua menunggu Dokter keluar dari ruang rawat Alice dengan perasaan deg-degan.


Beberapa menit kemudian Dokter pun keluar dari ruangan Alice.


"Ada apa Dok dengan Alice?"


Tanya Bapak Alice.


"Alhamdulillah organ tubuh Alice mulai bereaksi lagi dan pupil matanya mulai merespon cahaya hanya saja kondisi tubuhnya masih lemah dan belum seratus persen sadarkan diri, kita tunggu sampai malam nanti jika malam nanti Alice sudah sepenuhnya sadar besok kita bisa langsung melakukan kemoterapi.!"


Jelas Dokter.


"Apa kami boleh menjenguknya kedalam?"


Tanya Ibu Alice.


"Sebaiknya jangan dulu biarkan saja kondisi tubuhnya pulih dulu.!"


Jawab Dokter.


"Terimakasih dok!"


Ucap Dahlan.


"Saya permisi!"


Ucap Dokter sembari pergi bersama suster, meninggalkan keluarga Alice.


"Kemoterapi?"


Tanya Ibu Alice bingung begitu juga dengan reaksi yang lainnya.


"Maksudnya apa ini Bal?, apa yang dokter katakan tadi?"


Tanya Asti shok.


Semua nampak terdiam memandang Iqbal.


Sementara Bapak Alice menunduk tak bisa berkata apa-apa.


Iqbal Pun duduk di kursi tunggu dan menghela nafas dalam.


"Tadi Dokter bilang, Alice menderita Leukimia sudah sampai stadium tiga.!"


Ucap Iqbal perlahan.


"Astagfirullah.!"


Ucap Asti dan Desi sembari menutup mulut mereka, tangisan pun tumpah, rasa tak percaya menguasai hati setiap orang.


"Bagaimana bisa, dia begitu periang seolah tak merasakan sakit apapun, apa kamu yakin Dokter tidak salah memeriksa?!"


Ucap Topan sembari meraih kerah kemeja Iqbal.


"Stop Kak, berhenti bermain kekerasan!"


Ucap Desi menghempaskan tangan Topan dari Kerah baju Iqbal.


Topan pun menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.


"Istigfar nak istigfar!"


Ucap Ibu Kos.


"Apa semua itu benar pak?"


Tanya Ibu Alice


Suaminya pun mengangguk perlahan.


"Ya Allah Astagfirullah, bagaimana bisa seperti ini!"


Ucap Ibu Alice menggoyahkan tubuh suaminya.


Suaminya hanya nampak berpasrah tanpa bereaksi sedikitpun.


"Bu sabar bu!"


Ucap Ibu kosan kepada Ibu Alice mencoba menenangkan.


"Lalu apa lagi kata Dokter?"


Tanya Dahlan kepada Iqbal


"Alice harus menjalani kemoterapi, untuk mencegah perkembangan penyakitnya, jika semua di biarkan sakit Alice akan sampai ke stadium empat, dan itu.... bisa... menyebabkan...!"


Ucapan Iqbal terhenti tak kuasa mengutarakannya melihat Topan menggelengkan kepala menatapnya.


Iqbal Pun menghentikan ucapannya, Iqbal pun merasa setiap orang telah paham maksud dan akhir dari ucapannya.


"Astagfirullah bang.!"


Ucap Asti kepada Dahlan.


"Alhamdulillahnya kita tidak perlu memikirkan masalah biaya nya, rupanya keluarga Purnama sudah menjamin biaya pengobatan Alice.!"


Ucap Iqbal


Perkataan Iqbal terang saja membuat beberapa pihak merasa ada yang tidak beres.


Dahlan, Asti, dan Iqbal serta Desi saling beradu pandang begitu juga dengan Topan dan Ibu Kosan.


Dahlan langsung keluar rumah sakit, mencoba menghubungi no telpon Purnama tapi tidak aktif.


Asti mengikuti dari belakang begitu pula dengan Iqbal dan Desi.


"Bagaimana bang?"


Tanya Asti


"Sepertinya Purnama sudah mengganti no telponnya, tapi kenapa dia belum mengabari kita soal no telponnya yang baru?!"


Ucap Dahlan heran


"Aku merasa sepertinya ada yang semakin tidak beres ini bang!"


Ucap Asti.


"Aku juga demikian kak, tapi sebaiknya kita jangan bersuudzon dulu.!"


Ucap Desi mencoba menenangkan suasana.


"Benar kata Desi namun, lebih baik jika kita mencegah hal-hal yang sekiranya akan merugikan Alice dan Kak Purnama!"


Usul Iqbal.


Dari Belakang Topan menghampiri Dahlan dan Asti, serta Iqbal dan Desi.


"Ada apa ini, bukankah keluarga Purnama, tidak merestui hubungan Alice dan Purnama?"


Tanya Topan bingung.


Semua orang terdiam dan saling menatap satu sama lain, dengan seribu pertanyaan semberawut dalam pikiran mereka.