
"Assalamuallaikum Pah.!"
Sapa Purnama kepada papahnya yang masih duduk sendirian di ruang tamu sembari menikmati kopi nya.
"Wa allaikumus salkm, kamu pulang juga, papah pikir kamu akan nginep lagi d rumahnya Dahlan?"
Seru Papah Purnama.
"Enggak lah pah, lagian berapa lama pun Purnama menginap d rumah Dahlan gak akan pernah bisa ngerubah keputusan mamah.!"
Ucap Purnama sembari duduk di sofa yang saling berhadapan dengan Papah nya.
"Syukurlah kalau kamu tahu.!"
Seru Papah Purnama.
"Mamah udah tidur pah?"
Tanya Purnama.
"Sudah sejak tadi dia di kamarnya saja,mungkin tidur, kenapa?, ada yang mau kamu bicarakan sama mamah kamu?"
Tanya Papah Purnama
"Enggak juga sih pah, justru Purnama mau ngobrol sama papah.!"
Jawab Purnama to the point.
"Ada apa memangnya?"
Tanya Papah Purnama.
"Pah, apa mamah tidak akan pernah merestui hubungan Purnama sama Alice sampai kapanpun?, Purnama sayang pah sama Alice, Cuman Alice yang bisa bikin Purnama nyaman, dia itu baik, gak neko-neko seperti kebanyakan perempuan d luar sana.!"
Purnama menjelaskan kembali harapannya.
"Papah tidak bisa menjamin sesuatu, apalagi itu datangnya dari diri mamah kamu.!"
Seru Ayah Purnama.
"Pah menurut papah kalau Purnama menyetujui melanjutkan kuliah di luar negeri tapi dengan satu syarat apa mamah akan mengabulkan syarat itu?"
Tanya Purnama
"Apa syarat nya?"
Tanya Papah Purnama
"Iya, jadi gini pah, Purnama mau sekolah di luar negeri tapi mamah harus menyetujui syarat yang purnama ajukan, syaratnya Purnama mau setelah selesai Kuliah nanti, mamah merestui hubungan Alice dan Purnama, menurut papah bagaimana?"
Tanya Purnama Antusias
"Kamu coba saja bicarakan sama mamah kamu saja masalah itu, yang pasti papah mendukung apapun hal yang membuat anak papah bahagia selama itu baik.!"
Jawab Papah Purnama sembari kembali menyeruput kopinya.
"Makasih pah, papah memang selalu jadi yang terbaik. heheh!"
Puji Purnama kepada Ayahnya.
Tiba-tiba...
"Sudah Pulang kamu sayang?"
Tanya mamah Purnama sembari menuruni tangga.
"Lagi pada ngobrol apa sih ko mamah gak di ajakin?"
Seru lagi mamah Purnama sembari menghampiri Purnama dan Suaminya.
"Mamah belum tidur?"
Tanya Suaminya
"Belum pah, kan nungguin papah.!"
Jawab Mamah Purnama kemudian duduk di samping suaminya.
"Papah masih ngobrol sama anak kita mah, katanya anak kita mau ngomong sama mamah juga.!"
Ucap Papah Purnama mempermudah Purnama untuk mengutarakan keinginanya.
"Ada apa sayang?"
Tanya mamah Purnama kepada Purnama.
"Mah...!"
Ucap Purnama ragu, sembari melirik ke arah Papah nya, papahnya mengangguk meyakinkan.
"Ada apa sih ko pada main mata gitu?"
Tanya mamah Purnama.
"Mah, Purnama, mau sekolah di luar negeri sesuai keinginan mamah.!"
Ucap Purnama meski sempat terbata-bata.
"Nah bagus itu, itu baru anak kita kan pah.!"
Seru mamah Purnama.
"Tapi mah,Purnama, ada satu syarat.!"
Ucap Purnama lagi.
"Syarat?"
Tanya mamah Purnama, dan Purnama mengangguk.
"Apa syaratnya?"
Tanya mamah Purnama lagi.
"Purnama mau setelah Purnama selesai kuliah nanti, mamah merestui hubungan Alice dan Purnama.!"
Ucap Purnama.
"Lagi-lagi masalah cewek kampung itu, tapi kalau aku gak pura-pura menyetujui nanti Purnama gak mau berangkat lagi!"
Gerutu mamah Purnama dalam hatinya.
"Mah!, mamah!"
Seru Purnama.
"Emhs iya sayang.!"
Ucap mamah Purnama
Tanya Purnama lagi
"Sudah lah mah setujui saja, lagian kan itu juga bagian dari kebahagiaan anak kita, kita ini sudah tua mah, kita perlu anak kita untuk mengurus kita nantinya, kalau kita terus mendebat nanti anak kita tidak mau mengurusi kita.!"
Ucap Papah Purnama mencoba membantu.
"Ih tua?!, papah aja kali yang tua, mamah masih muda masih seger begini ko !"
Ucap Mamah Purnama.
Papah Purnama menggelengkan kepala sembari melirik Purnama.
"Kalau mamah tidak setuju Purnama gak papa gak sekolah di luar negeri juga atau mamah mau mencabut semua fasilitas yang mamah kasih ke aku, aku gak papa, aku akan belajar hidup mandiri mah.!"
Seru Purnama mengancam.
"Waduh gawat nih, ini pasti gara-gara cewek kampung itu, anak ku berani melawan sekarang.!"
Ucap mamah Purnama dalam hatinya lagi.
"Iya ok udah mamah akan menyetujui hubungan kalian nanti kalau kamu sudah selesai kuliah, dan lulus dengan nilai terbaik.!"
Ucap mamah Purnama memberatkan.
"Ok tidak masalah, tapi purnama mau mamah menandatangani surat perjanjian antara kita berdua dan papah akan menjadi saksinya.!"
Ucap Purnama.
"Surat perjanjian?"
Tanya Mamah Purnama tersentak kaget.
"Iya dong mah, Purnama gak mau nanti Purnama yang di korbankan lagi.!"
Ucap Purnama tegas.
"Ya ampun sayang mamah kan udah janji jadi gak usah lah ya pake surat-surat perjanjian seperti itu.!"
Jawab mamah Purnama.
"Gak bisa mah pokonya Purnama mau mamah tanda tangani surat ini sekarang, kalau gak mau ya sudah Purnama pergi dari rumah dan Purnama akan tinggalkan semua pasilitas dari mamah ini.!"
Ucap Purnama sembari menyimpan kunci mobilnya.
"Eh iya nak iya sayang sini mamah tanda tangan, tapi mamah juga punya syarat yang harus kamu penuhi.!"
Ucap Mamah Purnama memberi penawaran.
"Syarat apa lagi mah?"
Tanya Purnama Pusing
"Mulai sekarang kamu gak boleh bawa perempuan kampung itu ke rumah, mamah juga gak mau kamu ketemu dia lagi sejak saat ini sampai kamu lulus nanti, baru mamah akan tanda tangani surat perjanjian ini, gimana deal?"
Tanya mamah Purnama.
"Tapi mah.!"
Bantah Purnama
"Eit gak boleh ngebantah, kalau kamu membantah mamah bisa saja merubah keputusan mamah!"
Ucap Mamah Purnama.
Purnama kembali melirik Papahnya dan papahnya hanya mengedipkan mata sembari menatap anaknya.
"Ok mah ok, asal sekarang mamah tanda tangani surat ini.!"
Pinta Purnama.
"Ok mamah tanda tangani, sepakat ya kita.!"
Ucap mamah Purnama sembari menanda tangani surat bermaterai itu.
"Sudah, ini biar mamah yang simpan ya.!"
Ucap mamah Purnama sembari mengambil surat nya
Purnama melirik ke arah Papah nya, dan papah nya memberi isyarat menggelengkan kepala.
"Jangan biar aku aja.!"
Ucap Purnama sembari mengambil ujung Surat.
"Eh berhenti nanti sobek!"
Ucap Papah Purnama.
"Sudah begini saja, mamah simpan suratnya, Purnama ambil foto suratnya, jadi sama-sama punya pegangan.!"
Usul papah Purnama.
"Bener tuh mah sini aku fotoin dulu.!"
Ucap Purnama, dengan wajah kesal kepada suaminya Mamah Purnama menyimpan surat perjanjian tersebut di atas meja sembari tetap memegangi ujung suratnya.
"Ok mah beres makasih ya mamah sayang, Purnama mau istirahat dulu, Assalamualaikum.!"
Ucap Purnama sembari pergi meninggalkan Mamah dan Papahnya.
Setelah Purnama masuk kedalam kamarnya,Mamah Purnama marah terhadap suaminya.
"Papah sih, papah ko gak ngedukung mamah banget sih?"
Tanya Istrinya.
"Ya gak gitu lah mah, Purnama Anak Papah, mamah juga istri papah,Papah bingung lah kalau harus memihak salah satu di antara kalian.!"
Jelas Papah Purnama.
Dengan kesal sembari membawa kertas perjanjian itu mamah Purnama kembali menaiki tangga.
"Mah!, katanya tadi nungguin papah, ayo papah udah siap.!"
Ucap Papah Purnama berteriak sembari menyusul mamah Purnama.
"Gak jadi udah gak muts.!"
Ucap Mamah Purnama yang melihat suaminya menyusul menaiki tangga, seketika Papah Purnama terhenti langkahnya sembari menggaruk kepala.
"Yah gak dapat jatah lagi deh malam ini, nasib-nasib.!"
Ucap Papah Purnama menggerutu sembari duduk di anak tangga.