
Para pimpinan polisi dan tentara yang tadi duduk disopa ikut berdiri karna melihat Alice wanita tangguh ini berdiri dan mendekati salah satu pasukan Mafia berseragam hitam yang masih pingsan ditengah tengah mereka.
Alice berjongkok didekat pasukan itu kemudian membuka mulutnya untuk memastikan sesuatu disana ternyata dugaanya sama sekali tidak meleset.
Dengan cepat dia mengambil pisau tajam dipinggangnya lalu mulai menyayat jahitan yang ada dilangit langit mulut pasukan Mafia itu yang masih terbaring tak sadarkan diri diatas lantai itu.
Jahitan didalam mulut pasukan itu adalah sebuah racun yang digunakan untuk para Mafia jika terancam saat dikepung musuh.
Mereka akan membuka jahitan itu dan meminum racunnya dengan mudah.
Karna bagi para Mafia mati lebih baik dari pada membocorkan rahasia pada musuh dan sebelum itu terjadi Alice langsung bertindak mengeluarkan racun itu dari mulutnya agar ketika dia bangun dari pingsannya dia bisa mendapatkan bocoran rahasia tentang Mafia Deep Black.
"Apa yang kau lakukan" pimpinan tentara mencegah tangan Alice
"Jika kau bunuh dia... kita tidak akan bisa mendapat berita apapun " katanya tegas
"Aku tidak suka ada yang ikut campur dengan urusanku" kata Alice berbicara menatap tajam pimpinan itu
"Jangan berani berani memerintah ku" tatapnya dengan mata elangnya
"Baiklah" katanya menunduk
Alice tersenyum puas melihat wajah takut mereka dan mulai menyayat kembali langit langit mulut pasukan Mafia itu lalu mengeluarkan racun bercampur darah yang sudah berwarna hitam dari sana.
Dan itu berhasil membuat mereka semakin bingung hingga orang orang yang berada disana semakin penasaran dengan siapa sebenarnya wanita yang satu ini
"Ambilkan air " perintah Alice lalu berdiri.
Salah satu tentara yang ada disitu langsung berdiri bergegas untuk mengambil air didalam timba yang dia sudah mengerti air itu untuk apa.
"Ini" katanya menyerahkan pada Alice
Alice mengambil air itu tanpa melirik tentara yang membawakannya dia langsung menyiramkan air itu dengan kasar kepasukan Mafia yang masih tergeletak tak sadarkan diri didepannya.
Segera dia bangun terbatuk batuk dengan tatapan takut yang sudah terpancar dimatanya ketika melihat Alice yang berdiri didepannya.
Dia mencoba menjauh dari Alice menyeret nyeret tubuhnya dengan tangan dan kaki yang terikat.
"Katakan apa yang akan dia lakukan setelah ini" Tanya Alice dengan bahasa inggris mendekatinya perlahan
"Aku tidak tau" katanya gugup dan ketakutan
"Ahh aku sudah menduga" kata Alice tersenyum
"Pegang dia" kata Alice pada dua tentara yang berada disampingnya.
Segera mereka menariknya dan membuatnya berdiri ketembok putih diruangan itu.
Member BTS dan yang lainnya hanya melihat pemandangan didepannya dengan tatapan penuh tanda Tanya karna ketidak tahuan.
"Aku sungguh tidak tau wakil pimpinan… aku tidak tau" katanya menolak nolak keras sebisanya pegangan kuat dari kedua tentara itu.
Alice tersenyum licik saat dirinya akan menyiksa pria yang satu ini.
"Akhirnya" smirknya mendekati pria itu dengan sebuah pralon karet ditangannya yang telah dia siapkan untuk memukuli pria yang ada didepannya ini.
Dia tidak sama sekali kasihan saat melihat muka pria yang ada didepannya ini memohon untuk tidak memukulnya kembali.
"Aku tidak tau hentikan kumohon" katanya dengan darah yang sudah mengalir dari tubuh dan mulutnya akibat pukulan itu
"Katakan" kata Alice menghentikan pukulannya
"Aku tidak tau" katanya kembali, dengan sangat geram Alice langsung meluncurkan satu pukulan lagi yang sangat keras kekakinya hingga dia hampir jatuh dari dipegangan kedua tentara itu.
Semua diruangan itu termasuk tentara dan polisi yang melihat prilaku Alice padanya merasa takut dan ngeri atas siksaan yang dia berikan pada pria itu, tak ada yang berani menghentikannya. Hanya suara tangis dari staf wanita dengan suara terkejut saja yang bisa mereka berikan.
"Alice" cegah V tidak tahan dengan apa yang dia lihat
"Hentikan apa kau tidak kasihan " katanya melihat sekilas pada lelaki itu dan mengambil pralon itu dari tangan Alice
"Kenapa ? bukankah mereka yang ingin membunuhmu " Tanya Alice heran
"Aku tau tapi ini terlalu kejam" tambah V tidak takut pada Alice
"Perlu kau tau aku bukanlah manusia yang punya kasih sayang sepertimu dan aku tidak punya hati" katanya menatap V
"Tidak…" Katanya menggelengkan kepalanya dan memegang kedua lengan Alice
"Semua manusia punya hati tapi kau hanya tidak menyadarinya" tambah V
"Minggirlah akan kuberi tau bagaimana caraku hidup" kata Alice melepaskan tangan V lalu mendekati pria yang sudah hampir pincang itu
"Apa kau sungguh tidak tau ?" tanyanya menjambak rambut pria itu agar menghadap padanya
"Aku tidak tau" katanya lagi
"Kau tidak bisa membodohiku ... pimpinan mengirim jumlah pasukan yang sangat sedikit. dia memilihmu tentu karna kau pasukan terlatih" kata Alice geram dengan menjambak rambutnya
Pria itu tertawa keras mengejutkan seisi ruangan dan menatap dirinya
"Kau memang sangat pintar wakil pimpinan" katanya mengejek
"Tapi pimpinan jauh lebih pintar" katanya dengan tertawa dan senyum yang meremehkan Alice
Alice semakin memanas dan geram mendengar penuturan pria yang ada didepannya itu sedang mengejek dirinya.
Emosi nya semakin melunjak keubunnya meronta ronta meminta untuk dilampiaskan ketika mendengar kata pimpinan.
Dengan cepat dia kembali mengambil pralon karet dari tangan V dan memukulnya dengan semangat melampiaskan amarahnya dengan senyuman puas terlukis diwajahnya.
Merasa cukup dengan pralon dia segera melepas baju pria itu kasar menggunakan pisau nya kemudian merobek robek kulitnya dengan sayatan kecil dan besar disekucur badannya hingga darahnya memenuhi tangan Alice dan menetes keatas lantai.
Hanya jeritan tangis yang dia dengar dari orang yang berada diruangan itu dengan suara perintah berhenti dari polisi dan tentara memenuhi ruangan itu.
Tuar suara tembakan peringatan dari pimpinan polisi dan berhasil membuat Alice berhenti dengan aksinya.
Dia kemudian membalikan tubuhnya menghadap mereka semua dengan darah yang sudah bercipratan keseluruh tubuh dan wajahnya dia menjauh dari pria itu duduk keatas sopa untuk menenangkan hati dan pikirannnya.
"Kau pasti akan mati" kata pria itu kembali dengan suara lemas diiringi suara tertawa meremehkan darinya.
Dengan segera Alice langsung mengambil pistolnya dan menembak pria itu berkali kali tanpa henti sampai dia tak lagi bisa berkata-kata.
"Alice hentikan" kata V langsung mengambil alih pistolnya.
Alice hanya menatap V dan berlalu keatas sopa dengan memegang wajah dan kepalanya bergantian.