Alice

Alice
Bagian 147



"Gue gak yakin kalau gue bisa kaya elu!"


Ucap Topan kepada Dahlan.


"Jalani aja, jangan dipaksakan ini hanya masalah waktu, buka hati elu buat orang lain jangan terpaku pada orang yang jelas-jelas sudah bahagia dengan orang lain.!"


Ucap Dahlan mencoba menasihati Topan.


"Thank!"


Seru Topan.


"Sekarang lebih baik kita pastiin ke bagian administrasi masalah biaya pengobatan Alice.!"


Ucap Asti mengusulkan.


"Lebih baik biar Gue, Dahlan sama Iqbal yang kesana, kalian balik ke kamar Alice, lama-lama kita pergi yang ada mereka nyariin kita nanti, usahakan jangan sampai ada yang tahu masalah kedatangan tante-tante tadi!"


Ucap Topan kepada Desi dan Asti.


"Ya udah nanti kalau udah beres cepet balik!"


Pinta Asti kepada Dahlan.


"Iya.!"


Jawab Dahlan.


Asti dan Desi pun berjalan menuju ruang rawat Alice. Dan Iqbal, Topan serta Dahlan menuju bagian administrasi.


Dalam perjalanan menuju kamar rawat Alice, Desi dan Asti melihat seorang suster yang berjalan agak cepat ke arah yang sama, dengan rasa curiga Asti dan Desi mengikuti dari belakang, kemudian memanggil suster tersebut.


"Permisi sus, apa suster sedang terburu-buru?"


Tanya Asti.


"Saya di minta memanggil keluarga pasien untuk datang ke ruangan dokter.!"


Jawab Suster yang berhenti sejenak.


"Pasien siapa Sus?"


Tanya Desi.


"Alice, maaf ada perlu apa kalian memanggil saya?!"


Suster balik bertanya.


"Kami juga keluarga Alice sus, ada apa dengan Alice?!"


Tanya Asti merasa panik.


"Tidak ada apa-apa dengan pasien hanya saja biaya pengobatan untuk pasien atas nama Alice sudah di tarik seratus persen oleh keluarga Purnama, Dokter meminta saya memanggil keluarga Alice untuk membicarakan masalah ini!"


Ucap Suster menjelaskan.


"Oh masalah itu, kami sudah tahu sus, dan baru saja tiga orang laki-laki kesana menuju ruang administrasi untuk membayar kembali biaya pengobatan Alice sus.!"


Seru Asti


"Syukurlah kalau pihak keluarga tahu, kalau begitu saya akan mengabarkan ini kepada dokter.!"


Ucap Suster


"Silahkan sus, eh sus!"


Ucap Asti sembari memanggil kembali suster yang baru saja akan pergi.


"Sus maaf tapi tolong ya kalau untuk masalah biaya suster bisa langsung ke kami intinya jangan ke orang tuanya Pasien karena kami yang akan bertanggung jawab penuh untuk pengobatan Alice.!".


Seru Asti lagi.


"Oh baiklah kalau begitu, saya permisi!"


Ucap Suster sembari meninggalkan Asti dan Desi.


"Huwwwwhhh hampir saja!"


Ucap Asti sembari menghela napas.


"Untung di panggil tadi ka!"


Ucap Desi.


"Iya, ayo kita kembali!"


Ucap Asti kepada Desi.


Sesampainya di kolidor ruang rawat Alice Desi dan Asti duduk di kursi tunggu berhadap-hadapan dengan Ibu kos dan Keluarga Alice.


"Loh neng Asti gak pulang?"


Tanya Ibu Alice


"Belum bu, nunggu dulu bang Dahlan!"


Jawab Asti sembari tersenyum.


"Memangnya kemana A Dahlan?"


Tanya lagi Ibu Alice


"Tadi cowok-cowok keluar sebentar bu, mungkin mau pada ngopi!"


Desi membantu menjawab pertanyaan Ibu Alice yang membuat Asti sempat bengong.


"Oh begitu, nanti kalau A Dahlan sudah kembali, Neng Asti sama A Dahlan Pulang saja dulu, istirahat di rumah ya!"


Ucap Ibu Alice.


"Iya Bu In shaa Allah!"


Jawab Asti tersenyum lagi.


Asti mengambil handphonenya dari dalam tas, kemudian mencoba mengirim pesan kepada Purnama, tapi masih belum di baca oleh Purnama.


Asti juga mencoba menelpon namun no handphone Purnama masih tidak aktif.


Melihat raut wajah Asti yang agak cemas Ibu Kos mendekati Asti.


"Ada apa nak Asti?"


Tanya Ibu Kos.


"Eh ibu, enggak papa ko bu, ini temen dari tadi susah sekali di hubungi nya!"


Jawab Asti tersenyum.


Seru Ibu Kos lagi.


Ibu Kos pun kembali ke tempat duduknya, tak berapa lama kemudian Dahlan, dan Iqbal serta Topan pun datang.


"Habis pada dari mana?"


Tanya Ibu Kos.


Asti dan Desi deg-degan mendengar pertanyaan yang di lontarkan Ibu kos kepada mereka, Asti dan Desi khawatir jika jawaban yang di ucapkan para laki-laki itu tidak sama dengan jawabannya tadi.


"Iya nih, padahal tadi bilangnya mau pada ngopi tapi ko pada lama banget ya ka!"


Ucap Desi mencoba mengendalikan keadaan.


"Ah iya, tadi kami habis ngopi bu, tapi malah keterusan ngobrol lama deh jadinya hehe!"


Ucap Iqbal menimpali pernyataan Desi.


"A Dahlan sama Neng Asti kan sudah jaga semalaman, sebaiknya pada pulang dulu aja, istrirahat dulu di rumah nya nanti malah ikutan sakit loh!"


Ucap Ibu Alice lagi.


Dahlan melirik Asti.


"Iya bu kami memang berniat Pulang dulu untuk mandi dan ganti baju nanti kami kesini lagi.!"


Ucap Dahlan.


"Ya sudah sok pulang dulu aja!"


Ucap Ibu Alice.


Asti dan Dahlan pun berpamitan untuk pulang dulu, selama di perjalanan Asti dan Dahlan terus mencoba menghubungi Purnama namun belum juga ada kabar.


"Gimana tadi bang?"


Tanya Asti kepada Dahlan.


"Iya lancar alhamdulillah, kalau cuma buat bayar beberapa kemo aja tadi udah di uang mukain.!"


Ucap Dahlan mengabarkan kepada Asti


"Syukurlah bang, setidaknya kita masih ada waktu buat bernapas sebelum mengumpulkan uang!"


Ucap Asti


"Iya, elu pasti cape banget kan?"


Tanya Dahlan.


"Lumayan Bang!"


Jawab Asti.


"Elo tidur aja, nanti pas sampai rumah gue bangunin!"


Ucap Dahlan


"maunya gitu bang, tapi hati dan pikiran lagi gak sinkron, Purnama masih belum bisa di hubungi bang aku ko ya cemas banget aja!"


Ucap Asti sembari bersandar di kursi duduknya.


"Gak usah terlalu dipikirin barangkali aja di sana masih malam hari kan dia masih tidur paling gara-gara kecapean.!"


Ucap Dahlan.


Tidak mendengar respon dari Asti, Dahlan melirik ke arah Asti, ternyata Asti sudah tertidur.


Dahlan tersenyum


"Dasar ya, tadi aja bilangnya gak bakal bisa tidur eh sekarang udah lelap aja, hehe!"


Seru Dahlan sembari mengusap kepala Asti dan kembali menyetir.


Sore menjelang Asti dan Dahlan masih terlelap tidur di rumah Asti.


Handphone Dahlan berbunyi.


Dengan mata yang masih terpejam Dahlan meraba-raba handphone di tempat tidurnya.


"Halo..."


Ucap Dahlan sembari masih memejamkan matanya.


"Alice sudah sadar.!"


Ucap Suara dari seberang telepon.


Dahlan langsung terperanjat duduk di tempat tidurnya, Dahlan menatap layar handphone nya melihat siapa yang menghubunginya.


"Siapa ini?!"


Tanya Dahlan


"Ini Gue Topan!"


Jawab laki-laki dari sebrang telepon.


"Serius Alice udah siuman?"


Tanya Dahlan meyakinkan.


"Kalau bisa kalian cepet balik ke rumah sakit, gue bingung gimana caranya ngomong ke Alice, soal Purnama.!"


Ucap Topan.


"Sebaiknya jangan di kasih tahu dulu!"


Ucap Dahlan kepada Topan.


"Sayangnya Alice udah nanyain lebih dulu ketika siuman!"


Ucap Topan Menyesal.


"Jadi dia udah tahu soal kepergian Purnama?"


Tanya Dahlan


"Gue gak tahu pasti sebaiknya kalian berdua cepat datang ke rumah sakit, sekarang Alice lagi di temani sama orang tuanya di dalam.!"


Ucap Topan


"Ok gue kesana sekarang!"


Ucap Dahlan Sembari menutup teleponnya.