Alice

Alice
Bagian 137



"Kak kakak yang sabar kak kita berdoa yang terbaik buat Alice.!"


Seru Desi kepada Purnama.


"Makasih Des.!".


Jawab Purnama sembari duduk dan tertunduk di kursi bangsal rumah sakit.


"Bodohnya gue, semua gara-gara gue!"


Histeris Purnama.


"Pur sabar Pur, kamu gak bisa nyalahin diri sendiri !"


Ucap Asti


"Enggak As, kalau saja aku gak kasih tahu Alice semuanya tidak akan seperti sekarang ini, aku harusnya jagain dia dan tetap disini bareng sama dia.!"


Seru Purnama.


"Cukup Pur kenapa elo selalu saja menyalahkan diri elu sendiri setiap kali Hal buruk terjadi sama Alice, ini bukan waktunya buat elo menyalahkan diri elo seperti ini, ini waktunya buat elo kuat, supaya Alice bisa lebih kuat dari Elo, elo jadi cowok jangan jadi pecundang begini segala hal elo dramatisin!"


Ucap Dahlan sembari menarik kerah kemeja Purnama


"Kak udah ini di rumah sakit kita harus tenang!".


Ucap Iqbal melerai Purnama dan Dahlan.


Dahlan pun melepaskan cengkramannya kepada Purnama.


Kemudian duduk di kursi bangsal rumah sakit di sebrang Purnama.


Purnama mondar mandir di depan Pintu ICU setelah setengah jam kemudian seorang Dokter keluar dari ruang ICU.


"Dok bagaimana kondisi pacar saya?!"


Tanya Purnama panik


"Apa tidak ada keluarga pasien disini?"


Tanya Dokter balik.


"Saya calon suaminya dok katakan semuanya kepada saya besok keluarganya akan datang!"


Jawab Purnama tegas.


"Baiklah, anda ikut saya sekarang ke ruangan saya.!"


Ucap Dokter meminta Purnama mengikutinya.


Purnamapun tanpa membantah mengikuti langkah kaki Dokter menuju ruangannya.


"Silahkan duduk.!"


Ucap Dokter


"Terimakasih Dokter."


Jawab Purnama.


"Bagaimana kondisi Alice Dok.?"


Tanya Purnama.


"Kenapa kamu baru membawanya berobat, apa kamu tidak tahu calon istri kamu itu menderita penyakit kelainan darah sindrom mielodisplasia, akibat kelainan darah ini akhirnya Pasien menderita penyakit leukimia ?!"


Jelas Dokter


"Saya tahu calon istri saya sakit dok tapi setelah berobat terakhir kali dia selalu terlihat baik-baik saja, saya kira dia sudah mulai membaik dok!"


Seru Purnama


"Seperinya belakangan ini dia mengalami anemia, kulitnya mulai terlihat pucat karena efek kurang tidur dan mimisannya tadi juga menjadi salah satu gejala penyakit leukimia.!"


Jelas Dokter.


"Bodohnya saya tidak mengerti dok, padahal tadi siang dia bilang kurang tidur karena pindah kosan baru, saya pikir itu wajar dok.!"


Ucap Purnama sembari menangis.


"Kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut, kami harus melakukan tes darah dan aspirasi tulang sumsum untuk bisa memastikan seberapa parah leukimia yang di derita pasien, untuk itu kami memerlukan persetujuan dari keluarga pasien.!"


Jelas Dokter.


"Lakukan yang terbaik dok, lakukan apapun untuk kesembuhan calon istri saya dok saya mohon saya akan menanggung semua biaya pengobatannya.!"


Jelas Purnama yakin.


"Baiklah nanti akan ada suster yang meminta tanda tangan persetujuan anda. kami hanya bisa melakukan yang terbaik selebihnya kita pasrahkan kepada Allah, berdoalah demi kesembuhan calon istri kamu!"


Seru Dokter kepada Purnama


"Makasih dok, kalau begitu saya permisi.!"


Ucap Purnama kepada Dokter.


Dokterpun mengangguk


Setibanya di bangsal rumah sakit Purnama mencoba menghubungi Papah nya melalui handphonenya.


"Assalamualaikum Pah!"


Ucap Purnama


"Wa allaikumus sallam, ada apa nak malam-malam begini nelpon?"


Tanya Papah Purnama


"Pah bisa bicara hanya berdua?"


Tanya Purnama


"Bicara saja papah masih d ruang bawah mamh mu sudah tidur sejak tadi.!"


Ucap Ayah Purnama.


"Pah Alice masuk rumah sakit dan dia harus tes darah dan periksa tulang sumsum untuk bisa memastikan leukimia tahap apa yang di derita Alice pah, tolong Purnama Pah gak mungkin Purnama pergi besok lusa jika Alice masih seperti ini.!"


Ucap Purnama menangis


"Inalillahi, kamu tenang dulu biar papa pikirkan cara untuk mengatasi hal tersebut, untuk biaya rumah sakitnya bagaimana?"


Tanya Papah Purnama


"Purnama masih ada sedikit tabungan pah mudah-mudahan aja cukup.!"


Jawab Purnama


Ucap Papah Purnama


"Iya pah mkasih, pah jangan sampai mamah tahu pah!"


Ucap Purnama meminta


"Iya nak!"


Jawab Papah Purnama


"Assalamualaikum pah.!"


Seru Purnama


"Wa allaikumus sallam.!"


Jawab Papah Purnama.


Purnama termenung sejenak menatap keluar rumah sakit.


kemudian handphonenya berdering tanda pesan masuk


Purnama membuka pesan tersebut.


"Nak papah sudah transfer kamu uang, buat nambah-nambahin biaya berobat Alice, kamu jangan lupa shalat dan berdoa, jangan sampai besok gak datang ke graduasi usahakan datang meskipun hanya sebentar supaya mamah mu tak curiga.!"


Pesan dari Papah Purnama


Membuat Purnama merasa sedikit lebih baik karena ternyata papahnya benar-benar merestui dia bersama Alice.


Purnama pun berjalan ke arah ruang ICU kembali.


"Apa kata dokter Pur?"


Tanya Asti kepada Purnama.


Desi dan Iqbal yang tengah duduk di kursi bangsal rumah sakit berdiri seketika, ingin yahu kondisi Alice.


"Alice besok akan di tes darah dan pemeriksaan sumsum tulang untuk mengetahui separah apa leukimia yang di deritanya.!"


Jawab Purnama.


"Astagfirullah, selama ini kita pikir dia baik-baik saja!"


Ucap Asti.


"Maaf kak Desi gak pernah cerita sebenarnya sebelum pindah ke kosan baru pun Alice sering menangis malam dan tidak tidur memikirkan rencana kepergian kak Purnama.!"


Jelas Desi.


"Astagfirullah sayang, kenapa kamu menyiksa diri kamu.!"


Ucap Purnama kecewa.


"Ya Allah selama ini aku terlalu percaya diri dan lupa bahwa dia sedang sakit, aku terus membebani pikirannya dengan masalah yang datang bertubi-tubi dalam hubungan kami.!"


Ucap Purnama lagi.


Tak lama beberapa orang perawat membawa blangkar Alice keluar dari ICU.


"Mau di bawa kemana sus?"


Tanya Iqbal.


"Mau kami pindahkan ke ruang rawat Inap.!"


Jawab Suster.


Semua mengikuti blangkar Alice yang di dorong oleh para perawat untuk berpindah ke ruang rawat inap.


"Kak!, kak!"


Panggil Desi kepada Asti.


"Kenapa Des?,"


Tanya Asti sembari berhenti memisahkan diri dari yang lain.


"Kak apa tidak sebaiknya kita hubungi keluarga Alice?"


Tanya Desi


"Apa menurut kamu besok mereka tidak akan datang ke acara graduasi?"


Tanya Asti


"Aku gak tahu pasti sih kak, tapi yang jelas keluarga Alice hanya menjawab In shaa Allah, saat di telpon oleh Alice.!"


Seru Desi


"Ya sudah begini aja kita tunggu sampai besok, malam ini kamu sama Iqbal pulang aja ke kosan, besok kalau ada orang tua Alice tugas kamu sama Iqbal membawa mereka ke rumah sakit ini!"


Ucap Asti memberi Ide.


"Iya kak, kalau gitu ayo kita ke ruangan rawat Alice dulu.!"


Ajak Desi.


Asti mengangguk sembari kembali berjalan cepat menyusul yang lain.


Sesampainya di uang rawat suster kembali melarang siapapun untuk ikut masuk ke dalam.


"Sementara ini biarkan pasien beristirahat, dan belum boleh di jenguk!"


Seru perawat yang menutup pintu.


Purnama kembali menangis menatap Alice dari kaca di ujung pintu.


"Sayang yang kuat sayang, kakak disini gak akan ninggalin kamu, kamu gak perlu khawatir kakak akan nemenin kamu disini sampai kamu sembuh sayang.!"


Ucap Purnama sembari menatap ke dalam ruang rawat Alice.


Dahlan menghampiri Purnama dan menepuk-nepuk Pundak Purnama.


"Elo mesti kuat dan sabar, elo tahu kan elo dan Alice gak pernah sendiri ada kita yang bakal selalu nemenin elo.!"


Ucap Dahlan memberi semangat.


Purnama mengangguk perlahan.


"Makasih teman-teman!"


Ucap Purnama berterimaksih kepada teman-temannya.