
"kenapa kau menangis?" Tanya Suga tidak bisa menahan rasa penasarannya melihat dua situasi yang berbeda dengan rekaman
"Apa dia orang tuamu ?" Tanya Suga kembali menebak
Alice membalas tatapan Suga dengan menganggukan kepalanya sembari meneteskan perlahan air matanya tanpa suara, meski otak mereka dipenuhi dengan rasa ingin tau, memilih diam dan membiarkan Alice menyalurkan rasa sedihnya tanpa tanya adalah pilihan yang tepat saat ini.
"Dulu saat kau berumur delapan tahun" kata Arthfael didalam video kembalh, membuat mata mereka pokus pada rekaman dilayar
"Kau diculik bukan dibeli"
" Kau bukanlah orang miskin, dulu orang tuamu adalah orang terkaya dinegara Turki. karna kekayaannya para Mafia menculikmu untuk dijadikan sebagai alat pemerasan, setiap tahunnya para Mafia meminta uang yang cukup besar pada perusahaan ayahmu dan harus menjual narkoba diklab malam miliknya"
Arthfael mendesah pelan kemudian melanjutkan ucapannya dengan kepala yang terus tertunduk kebawah
"Jika dia tidak mau ... Mafia akan membunuhmu dan menghancurkan perusahaan milik ayahmu. Mafia mengatakan akan membebaskanmu asal menurutinya. Tetapi waktu terus berlalu sudah beberapa tahun. Tapi, Mafia tidak melepaskanmu bahkan menggunakan kau sebagai alat untuk menaklukan anggota Mafia lainnya agar berada dibawah mereka. Karna itulah ketua Mafia tidak bisa melepaskanmu dengan mudah"
Tutur Arthfael tanpa jeda.
Alice semakin tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar tadi. Mengingat betapa hangatnya perlakuan dari ketua Mafia padanya.
"Orang tuamu terus melakukan apa yang diinginkan para Mafia dan tidak melaporkamu pada polisi karna Mafia mengancam, perlahan cabang perusahaan ayahmu tiba tiba menghilang satu persatu dan itu membuat para Mafia keheranan. Setelah para Mafia mengetahui bahwa ternyata selama ini ayah dan ibumu menjual saham perusahaan mereka satu persatu hanya untuk menyuruh polisi dan detektif bahkan pasukan rahasia yang terkenal untuk membantu memecahkan masalah ini."
Mendengar banyaknya penjelasan Arthfael, Alice berhenti menangis dan fokus mendengarkan dengan seksama walau hatinya saat ini tidak karuan.
"Tapi mereka lengah dan sedikit lambat mencarimu dan akhirnya pimpinan Mafia mengadakan rapat untuk menangani masalah ini dengan mengatakan bahwa ini adalah pengkhianatan dan saat itu juga kau yang menangani masalah itu"
Kata Arthfael berhenti dan menatap ke arah kamera melanjutkan.
"Alice .... aku ingatkan lagi pimpinan mafia yang menjebakmu untuk melakukannya dan bukan kau yang membunuh orang tuamu jadi jangan salahkan dirimu atau bahkan akhiri hidupmu" Arthfael panjang lebar mengingatkan Alice.
"Tidak Al memang aku yang ingin membunuh mereka" kata Alice terus memukul dirinya keras merasa benci dan jijik atas dirinya.
Kejadian itu terus memutar isi Kepala-nya betapa dengan tega dan tanpa perasaan-nya dia menghabisi orang yang sangat ingin dia jumpai, orang yang selama ini dia rindukan, orang yang begitu keras pengorbanan-nya mencari dirinya bertahun-tahun tanpa henti, malah harus mati ditangan nya sendiri.
Alice merasa dirinya tak lagi pantas disebut manusia, sebab perlakuan binatang bahkan lebih baik dari-nya. Isak tangisnya kemudian memecahkan keheningan dipagi itu.
Member BTS yang mendengar penjelasan dari Arthfael kemudian mengerti dan ikut sedihbmerasa iba pada penderitaan Alice, tanpa sadar air mata mereka berlinang tanpa idzin dari sana, mengetahui kisah pilu dari wanita dingin ini. Kini mereka mengerti kenapa Alice berwatak seperti ini.
"Aku tau kau selama ini ingin bertemu dengan orang tuamu kau bahkan juga pernah mengatakan akan membunuh orang yang membuat orang tuamu menderita tapi bukan kau orang-nya, kah tak boleh melakukan bunuh diri karna hal itu. Sebab kau disini adalah korban, korban yang dimanfaatkan tanpa ampun... Yang bersalah disini adalah James" Ucap Arthfael.
Kata kata Arthfael membuatnya menghentikan tangisannya ketika mendengar Arthfael menyebut nama ketua Mafia, ada pesan tersirat disana, pesan yang dimana, Arthfael menyuruh dirinya untuk membunuh pimpinan tak lain adalah ayahnya sendiri tanpa ada rasa ragu diwajah Arthfael.
"Saat tau kau akan ditugaskan pergi ke Turki aku sangat khawatir, aku berusaha menghentikan agar kau tidak pergi kesana. Tapi ayah tidak mendengarkanku dan akhirnya aku hanya bisa melihat apa yang kau lakukan pada orang tuamu dengan cara memerintahkan salah satu pasukan Mafia bagian keempat memakaikan kamera kecil dibajunya untuk merekammu" Arthfael merasa bersalah atas kejadian itu sangat jelas terpancar dari wajah-nya.
"Maafkan aku .... tidak bisa berbuat lebih padamu Alice"
katanya kemudian menangis
"Belum terlambat jika kau mau membalas Alice ... Lakukan dari sekarang" kata Arthfael menyemangati dengan desak tangis yang dia tahan.
"Mulailah dengan jujur pada mereka siapa dirimu sebenarnya Alice .... agar mereka bisa membantumu" kata Arthfael dan membuat mereka menatap Alice kalimat Arthfael.
"Jangan ragu aku percaya padamu Alice" kata Arthfael kemudian rekaman itu mati
Seketika setelah rekaman itu mati, tak ada satupun suara yang tertangkap ditelinga mereka.
Satu persatu pandangan BTS tertuju pada Alice yang sudah berhenti menangis dengan mata sembamnya.
Dengan wajah yang meminta keterangan lebih lanjut tentang hal ini dan apa maksut dari Arthfael yang meminta Alice untuk jujur pada mereka.
Alice yang menyadari tatapan mereka angkat bicara
"Aku bukanlah wanita baik" Dengan tatapan datar-nya
"Jangan berkata seperti itu Angel… kami percaya kau adalah wanita yang baik " kata Jimin
"Jangan percaya dengan apa yang kalian lihat" kata Alice kemudian berdiri hendak meninggalkan mereka
"Apa kau seorang mafia?" Tanya RM menghentikan Alice yang hendak pergi meninggalkan mereka tanpa penjelasan apapun.
Alice menatap RM tajamdan berkata "Iya" lalu menatap datar kearah televisi yang ada didepannya berusaha tenang.
"A-aku seorang wakil dari pimpinan Mafia, namaku bukanlah Angel aku adalah Alice dan aku ditugaskan membunuh kalian tanpa sisa" kata Alice cepat dengan nada keras, hingga tampak-lah urat leher-nya membongkar jati dirinya kepada mereka kemudian berlalu melangkah meninggalkan mereka yang mulai takut.
"Angel... Tunggu" teriak V mengejar Alice yang berusaha menghindar
"Apa?! " Teriak Alice lantang didepan wajah V yang menarik lengannya.
V terkejut dengan reaksi Alice, terkejut dan tak bisa berkata-kata karna mendapat bentakan dari Alice.
"Aku butuh waktu untuk sendiri" Jawab Alice datar kemudian masuk kedalam kamarnya meninggalkan V yang masih berdiri kaku dihadapan-nya.