Alice

Alice
Bagian 116



Sesampainya di rumah Purnama Alice d sambut oleh papah Purnama dengan senyum ramah.


"Nah itu papah, ayo turun.!"


Ajak Purnama


"Alice malu eh kak.!"


Seru Alice.


"Gak perlu malu kan ada kakak ya.!"


Jawab Purnama.


"Ayo kita turun.!"


Ajak Purnama lagi setelah membantu melepaskan sabuk pengaman milik Alice.


Alice pun mengangguk dan turun dari mobil.


"Ayo sayang.!"


Ajak Purnama sembari meminta tangan Alice untuk di genggamnya.


"Assalamualaikum Pah, mamah mana?"


Tanya Purnama.


"Wa allaikumus sallam, mamah masih di dalam masih siap-siap.!"


Jawab Papah Purnama berbohong seraya tersenyum.


"Nah pah kenalin ini Alice pacar Purnama.!"


Ucap Purnama dengan percaya diri.


"Assalamualaikum om.!"


Seru Alice mencium tangan Ayah Purnama.


"Wa allaikumus sallam, jangan panggil om, panggil papah saja ya supaya samaan sama Purnama.!"


Pinta Papah Purnama.


"Ba... ba... baik... Pah.!"


Ucap Alice terbata.


"Cantik sekali ya pacarnya anak papah ini, memang pintar nyarinya ni anak heheh.!"


Canda Papah Purnama kepada Alice dan Purnama.


"Wishhh siapa dulu dong papah nya heheh.!"


Jawab Purnama


"Iya lah hahahah, ayo, ayo kita masuk.!"


Ucap Papah Purnama mengajak masuk Alice.


Alice berjalan bersama Purnama dibelakang Papah Purnama.


"Mah,! Mamah! Purnama udah datang.!"


Panggil Papah Purnama kepada Istrinya.


"Iya bentar.!"


Jawab Mamah Purnama dari lantai dua.


Melihat Mamah Purnama begitu cantik, muda dan rapih.


"Lumayan cantik juga anak ini, pantas Purnama sebegitunya sama anak ini.!"


Ucap Mamah Purnama dalam hatinya.


"Mah ini Alice, Alice ini mamah kakak.!"


Ucap Purnama memperkenalkan


"Assalamualaikum tanteu.!"


Ucap Alice sembari berniat bersalaman dan mencium tangan mamah Purnama namun mamah Purnama langsung melepaskan tangan Alice.


"Ayo kita makan, mamah sudah siapkan makanan super mahal untuk tamu kita hari ini.!"


Ucap Mamah Purnama menyindir.


Purnama mengelus punggung Alice perlahan sembari tersenyum.


"Astgafirullah ya Allah kayanya mamah kak Purnama sedikitpun tidak menyukai aku, atau ini hanya perasaan aku saja.!"


ucap Alice dalam hatinya.


Setelah duduk di meja makan Alice di hadapkan pada makanan yang selama ini dia hanya melihatnya saja di handphone, Alice melirik ke arah Purnama dan melirik ke arah Mamah Purnama.


Sepintas mamah Purnama menyunggingkan senyum sinis dari bibirnya membuat Alice tertunduk.


"Sayang kamu mau apa, biar kakak ambilkan.?"


Tanya Purnama berusaha mencairkan Suasana.


"Yang harusnya ngomong gitu itu ya perempuan bulan malah kamu sayang.!"


Ucap Mamah Purnama nyinyir.


"Mah.!"


Ucap Papah Purnama sembari menyentuh tangan Istrinya.


"Apa sih pah ah, kan emang bener apa yang mamah bilang.!"


Ucap mamah Purnama.


Ucap papah Purnama kepada Purnama.


"Halah paling juga dia gak bisa makan, dia kan anak kampung.!"


Ucap lagi mamah Purnama.


"Astagfirullah mah.!"


Ucap Purnama.


"Apa kamu mau melawan mamah yang sudah melahirkan kamu?, jadi ini hasil dari kamu mamah sekolahkan mahal-mahal dan ketemu sama perempuan kampungan ini, kamu sekarang pinter ngelawan mamah?!"


Ucap Mamah Purnama lantang.


"Mah, mamah kenapa sih,hargai lah pilihan anak kita jangan egois seperti ini.!"


Ucap Papah Purnama mencoba membela Alice.


"Pah, mamah sama papah itu kerja keras buat masa depan Purnama anak semata wayang kita, massa iya kita yang cape-cape anak kampung ini yang nikmatin hasilnya, paling juga cuman mau numpang tenar aja ini perempuan.!"


Ucap mamah Purnama


"Mah!"


Ucap Purnama sembari bangkit dari duduknya.


Namun Alice dengan sigap meraih tangan Purnama dan memintanya duduk.


"Maaf tante ,saya sudah merepotkan tante, terimakasih jamuan makan nya,saya cukup tahu diri, saya memang gadis miskin tapi saya masih punya harga diri, saya tidak mencintai kak Purnama karena dia dari keluarga terpandang, saya Permisi Assalamuallaikum!"


Ucap Alice sembari berdiri dan pergi meninggalkan meja makan.


"Mamah benar-benar membuat Purnama kecewa.!"


Ucap Purnama sembari berlari mengejar Alice keluar rumah.


"Apa? papah mau belain mereka juga?!"


Ucap Mamah Purnama kepada suaminya yang berdiri dan meninggalkan meja juga.


"Alice! tunggu sayang tunggu.!"


Ucap Purnama sembari mengejar Alice yang sudah keluar dari halaman rumahnya.


"Cukup kak kita tidak perlu meneruskan hubungan yang tidak direstui ini, Alice tidak mau kakak jadi anak yang durhaka, Alice akan pergi kak.!"


Ucap Alice sembari menangis


"Sayang sabar dulu, kamu denger dulu omongan kakak, kamu istigfar sayang.!"


Bujuk Purnama pada Alice.


Alice terduduk sembari menangis.


"Sayang, sayang! tunggu ya kakak ambil mobil dulu, jangan kemana-mana tunggu disini.!"


Ucap Purnama


Alice mengangguk perlahan sembari tetap menangis terisak.


Purnama berlari ke arah halaman rumahnya dan mengambil kunci mobil dari saku jaketnya.


"Liat anak kamu tuh Pah, terlalu kamu turutin kemauannya.!"


Ucap mamah Purnama sembari melihat kepergian Purnama dari pintu rumah nya.


"Sudahlah mah, mamah terlalu mengekang dia.!"


Ucap Papah Purnama yang tengah duduk di kursi tamu.


"Pokonya mamah gak mau tahu Pah, Purnama harus kuliah di luar negeri supaya jauh dari perempuan kampung itu.!"


Ucap mamah Purnama kepada suaminya sembari ikut duduk di kursi tamu.


"Tanya dulu mah anaknya mau gak jangan main mentingin perasaan sendiri.!"


Ucap Papah Purnama.


"Alah papah ini, pokonya mamah akan mendaftarkan Purnama untuk sekolah di Luar negeri.!"


Ucap Mamah Purnama sembari berdiri dari duduknya dan pergi ke lantai dua.


"Astagfirullah ya Allah, semoga engkau senantiasa memberikan hamba kesabaran menghadapi istri hamba.!"


Ucap Papah Purnama.


Sementara di tempat lain, Purnama dan Alice memilih pergi ke pinggiran kota yang tenang dan jauh dari hiruk pikuk kota.


"Sayang udah jangan nangis terus, maafin mamah kakak ya, biar kakak nanti yang bicara sama mamah, tapi kakak mohon jangan pergi kita harus laluin ini sama-sama seperti kita melalui cobaan-cobaan sebelumnya.!"


Bujuk Purnama lagi.


"Tapi kak, Alice gak mau jadi penyebab keretakan kakak dan mamah kakak, sudah terang-terangan mamah kakak gak akan meridhoi kisah kita.!"


Ucap Alice bersedih.


"Sayang percaya sama kakak, kalau kita sama-sama kuat dan tetep mau sama-sama melalui semua ini in shaa Allah akan lebih mudah di jalaninnya, kamu lihat kan tadi papah ke kamu gimana, papah itu suka sama kamu jadi jangan liat mamah aja, ya sayang ya please.!"


Ucap Purnama sembari memegang tangan Alice.


"Pelan-pelan kakak yakin mamah akan luluh kalau kita tetep bertahan dan berusaha, masih banyak waktu masih banyak hal yang bisa kita lakuin buat yakinin mamah, kamu harus janji tetap disini temenin kakak ya sayang.!"


Bujuk Purnama lagi.


Alice hanya tertegun merenungi kejadian hari ini.


"Ya Allah ujian apakah lagi ini, semoga engkau menyertakan kesabaran di dalamnya..!"


Ucap Alice sembari menyeka air matanya menggunakan tisu.