Alice

Alice
Accident



Maya yang sedang arisan tampak bercanda tawa bersama teman- temannya.


'Drrrt, drrrt'


Bunyi ponsel Maya membuatnya berhenti berbincang.


"Sebentar, ya!" ujarnya lalu berjalan agak jauh dari temannya untuk mengangkat telepon.


Dari Rani.


"Halo!"


"Apa kau jadi datang ke rumahku nanti? Buat ambil tasnya?"


"Hmmm... Gak tau nih! Kayaknya gak jadi, deh!"


"Jadi mau kapan? Sebulan ini aku mau liburan ke Korea. Mau ambil bulan depan tasnya?"


"Bulan depan?... Gimana, ya?!... Ya udah ,deh, pulang arisan aku langsung ke rumah kamu!"


"Ya, udah, oke!"


***


"Mau diantar kemana, bu?" tanya supir taksi yang dinaiki Maya sepulang arisan.


"Ke Jalan Mercure, rumah no. 11!" ujar Maya sambil memainkan ponselnya.


Supir itu mengangguk. Lalu melajukan mobilnya ke arah tujuan.


Tak butuh waktu lama, mereka sudah berada di dekat Jalan Mercure. Maya ohn memasukkan ponselnya ke tas lalu mengambil uangnya.


'Boom, Darr, Ciit'


Berbagai bunyi terdengar atas bertabrakannya sebuah truk dan taksi yang dinaiki Maya. Truk itu melaju dengan kencang dari arah yang berlawanan!


Apa Alice bilang! Maya terlalu keras kepala! Dia sudah tau Alice bisa melihat masa depan, tapi dia tetap pergi ke Jalan Mercure.


Percikan api ada dimana-mana. Taksi yang dinaiki Maya hancur dalam keadaan terbalik. Sedangkan truk jaruh dalam keadaan miring, tidak terlalu parah memang kondisi truk itu.


Orang-orang disekitar tampak sangat panik. Ada yang sibuk menelpon ambulance dan polisi. Ada yang menatapi kedua kendaraan yang bertabrakan itu. Dan ada juga yang membantu korban keluar dari kendaraan.


Sekrang pria dengan luka di beberapa bagian tubuhnya keluar dari truk dengan langkah tertatih-tatih. Melihat itu, beberapa orang langsung membantu pria itu.


"Cepat bawa dia ke rumah sakit!" pinta salah seorang dari mereka.


Bagaimana dengan Maya? Dan juga supir taksi tadi?


Mereka masih di dalam taksi, terkurung disana dalam keadaan tak sadarkan diri. Banyak serpihan kaca disana, membuat orang-orang tak berani mengeluarkan Maya dan supir taksi itu dari dalam mobil, ditambah api yang menyala di beberapa sisi mobil.


Tak lama polisi datang, disusul mobil ambupance di belakangnya.


Dengan segera polisi menuju ke arah lokasi.


"Masih ada korban di dalam taksi itu, pak!" seru seorang pria sambil menunjuk taksi.


Dengan segera polisi dan rekannya menuju taksi itu. Melakukan semua yang mereka bisa untuk mengeluarkan korban darisana.


***


"Apa?" terkejut Alice di tengah jam istirahat sekolahnya dan mendapat telepon dari rumah sakit yang mengabarkan bibinya kecelakaan.


"..."


"Ya, saya segera kesana!" ujarnya lalu mematikan telepon. Alice memasukkan asal bukunya ke dalam tas, lalu bergegas keluar kelas, menuju ruang guru untuk meinta izin pada wali kelasnya.


Di tengah kecemasannya, Alice bergumam, "Bibi, sudah ku peringatkan."


Menyadari kedatangan Alice, dia bertanya, "Kau muridku?"


Alice mengangguk.


"Mau kemana? Ini masih jam sekolah!" serunya.


"Saya mau izin, bu!" kata Alice. "Bibi saya... Kecelakaan..." sambung Alice dengan wajah murung.


"Sudah ditangani medis?" tanya Wanda.


"Sudah, bu!" jawab Alice.


"Maka pergilah..." ujar Wanda. Alice lega mendengarnya, tapi terkejut lagi mendengar Wanda berkata, "...Nanti, sehabis jam pelajaran usai!" lanjutnya lalu kembali membaca buku.


Guru-guru lain yang berada disana dibuat kaget ileh jawaban Wanda.


"Tapi, bu, dia harus pergi!" ujar seorang guru perempuan yang tampak masih muda.


Wanda menolehkan pandangannya pada guru tadi dengan tajam. "Dia muridku, aku yang berhak memberinya izin!" ketus Wanda.


Memang Wanda sangat disegani oleh para guru SMA Fidelya. Sudah 10 tahun dia mengajar di SMA ini. Dia dikenal terlalu disiplin dan arogan, serta keras kepala dengan keputusannya. Maka tak aneh banyak siswa/siswi yang takut padanya.


"Tapi, bu!" isak Alice.


"Kembali ke kelas!" ujar Wanda.


Alice mengatur napasnya karena sempat menangis tadi.


"Tidak mau. Aku sudah izin pada ibu. Jadi, aku akan pergi sekarang!" seru Alice.


Dua orang murid laki-laki yang sedang dihukum tampak terkejut menatap apa yang mereka lihat. Belum pernah ada yang berani melawan guru arogan itu.


"Terserah. Tapi lihat konsekuensinya nanti." gumam Wanda dengan suara yang agak kecil.


***


"Taksi!" ujar Alice memberhentikan taksi untuk ditumpanginya.


Setelah taksi itu berhenti tepat didepannya, barulah Alice masuk.


"Ke Rumah Sakit Decintly!" kata Alice.


Sepanjang perjalanan yang agak macet membuat Alice berdecak sebal sembari menggigiti kuku jari tangannya.


'Ciit'


Bunyi rem mobil taksi membuat Alice buru-buru turun dan tentunya tidak lupa membayar ongkosnya.


Segera Alice masuk ke rumah sakit dan menuju resepsionis.


"Korban kecelakaan di Jalan Mercure... Dimana sekarang?" tanya Alice gelisah.


"Sepertinya masih di ruang operasi!" jawab resepsionis itu.


"Dimana ruang operasinya?" tanya Alice.


"Adik lurus saja lewat sini, nanti belok lagi ke lorong kanan. Ruang operasinya di ujung!" kata resepsionis itu memberi arah.


Alice pun segera pergi ke arah yang ditujukan resepsionis itu.


Dan benar saja. Operasi masih tengah dilakukan.


"Bibi..." lirih Alice.


Memang bibinya tak pernah memperlakukan Alice dengan baik, tapi, Alice tetap menyayanginya. Bagaimanapun, dia yang mengurus Alice selama orangtuanya bekerja di luar negeri--yang entah kapan pulang.