
Pagi itu dengan sangat menyesal dan enggan melangkahkan kakinya keluar rumah, mamah Purnama tidak melepaskan pandangannya dari rumah mewah miliknya yang telah terpasang papan pengumuman bahwa rumah tersebut resmi disita.
"Ayo mah!"
Ajak Papah Purnama.
Ojeg yang sebelumnya di pesan papah Purnama sudah menunggu.
Melihat Ojeg yang sudah menunggu mamah Purnama menatap wajah suaminya.
"Ayo mah, bang tolong ini barang-barangnya .!"
Ucap Papah Purnama sembari memberikan koper berisi barang-barangnya.
"Pah massa naik ojeg?!"
Ucap Mamah Purnama ragu.
"Lantas mau naik apa mah?"
Tanya Papah Purnama.
"Naik mobil lah pah, kalau naik ojeg panas kepanasan, udah gitu debu polusi segala macam, gak mau ah.!"
Seru Mamah Purnama.
"Mah kita ini sudah bangkrut, apalagi yang mamah harapkan mobil kita semuanya sudah disita, papah mohon lah mengerti, ayo cepat naik!"
Seru Papah Purnama kepada istrinya
Meskipun dengan terpaksa mamah Purnama tetap mengikuti perkataan suaminya.
satu jam kemudian Papah Purnama sampai di sebuah pemukiman perumahan,kemudian mengajak istrinya untuk masuk kesebuah rumah permanen namun berukuran kecil.
"Mah uang sisa penjualan perhiasan mamah cuman cukup untuk sewa rumah ini selama beberapa bulan kedepan saja maaf Papah cuman bisa ngasih ini ke mamah untuk saat ini!"
Seru Papah Purnama.
"Bagaimana mungkin pah, kan perhiasan mamah itu mahal-mahal berlian asli semua, massa cuman cukup buat sewa rumah udah gitu kecil lingkungannya juga kumuh ih.!"
Seru Mamah Purnama.
"Mah yang terpenting sekarang ini hutang-hutang kita lunas, dan kita bisa melanjutkan hidup meskipun harus hidup sederhana mamah sabar lah dulu, kan papah juga sedang berusaha untuk mencari pekerjaan,tapi papah minta tolong supaya mamah bisa lebih berhemat kita sudah tidak punya tabungan lagi mah.!"
Jelas Papah Purnama.
Mamah Purnama menangis mendengar penjelasan Suaminya.
"Sudah mah ayo kita masuk!"
Ajak Papah Purnama.
Sesampainya di dalam rumah sudah terpasang satu set kursi dan terdapat dua kamar yang sederhana.
"Ya ampun pah, gak ada Ac gak ada pembantu?"
Tanya Mamah Purnama mengeluh.
Papah Purnama hanya terdiam tak menjawab apa-apa.
"Pah, mamah lapar!"
Seru Mamah Purnama.
"Mamah masak aja sendiri, di dapur udah papah sediain bahan makanan untuk di masak.!"
Seru Papah Purnama.
"Apa pah masak sendiri?!"
Tanya Mamah Purnama
"Iya mah, sudahlah mah berhenti mengeluh, papah mau keluar cari kerjaan sekitar sini, mamah tunggi di rumah, kalau perlu mamah pikirin juga usaha apa yang sekiranya bisa kita buka disini untuk menyambung hidup, papah pergi dulu mah, Assalamualaikum!"
Ucap Papah Purnama sembari keluar rumah.
Mamah Purnama hanya termenung di rumah masih tidak percaya atas apa yang menimpanya saat ini.
Sementara Mamah Purnama tengah meratapi nasibnya saat ini, Alice tetap menjalani kehidupannya seperti biasa.
Alice enggan menempati rumah Purnama, meskipun yang lain bersikukuh meminta Alice menempatinya.
Tibalah saatnya Alice mengantar kepergian Dahlan dan Asti ke Bandara.
Alice tidak ingin hal yang sama terulang kembali, saat Purnama pergi Alice tidak bisa mengantarnya hingga akhirnya sampai saat ini Purnama tidak ada kabar berita membuat Alice semakin menyesali kondisinya.
Saat di Bandara Dahlan dan Asti tengah bersiap untuk cek in.
"Kamu jaga diri baik-baik, jangan lupa terus berkabar aku sayang sama kamu!"
Ucap Asti kepada Alice.
"Makasih kak, jaga diri kakak, dan tetaplah menjadi kakak-kakak terbaik bagi kami!"
Ucap Alice.
"Ingat elo harus janji sampai waktunya tiba kita bertemu lagi elo harus tetap sehat, semakin sehat dan semakin kuat, gue sayang sama Loe, bagi gue elo sekarang adalah ade kesayangan gue, jadi jaga diri elo buat gue kakak elo!"
Pesan Dahlan sembari memeluk Alice yang masih duduk di kursi roda.
"In shaa Allah kak.!"
Jawab Alice.
"Jagain ade gue ya, apapun yang terjadi kabarin gue!"
Ucap Dahlan kepada Iqbal.
"Sebisa mungkin pasti!"
Seru Iqbal.
Ucap Dahlan lagi sembari bersalaman kepada Desi.
Kemudian Asti dan Dahlan berjalan menjauhi Desi dan Iqbal serta Alice.
Sedih melihat Asti dan Dahlan yang perlahan-lahan menjauh dari mereka, mereka hanya saling melambaikan tangan sebagai pengganti kata perpisahan yang menyakitkan.
Meski sulit namun Asti mencoba tetap Tersenyum meninggalkan Alice, sampai akhirnya mereka sudah memasuki ruangan cek in, meski Alice berusaha melihat namun karena terlalu banyak orang berlalu lalang, Alice tak dapat lagi melihat Dahlan dan Asti.
Handphone Alice tiba-tiba berbunyi.
"Kak Asti.!"
Seru Alice sembari mengangkat telponnya.
"Assalamualaikum kak!"
Seru Alice.
"Wa allaikumus sallam, udah buruan sana pulang kakak udah mau masuk ruangan tunggu ini, kamu hati-hati ya di jalan, jaga diri baik-baik!"
Ucap Asti sembari duduk di samping Dahlan.
Dahlan mengelus-elus punggung Asti mencoba menenangkan.
"Iya kak, kakak juga baik-baik disana, jangan khawatir sama aku terus, fokus kejar impian kakak biar cepat sukses heheh!"
Seru Alice.
"Ya udah kamu pulang gih, pesawat kakak masih lama masih sekitar 20 menitan lagi.!"
Ucap Asti.
"Iya kak, kalau gitu Alice pulang dulu, jangan lupa kabari Alice kalau sudah sampai ya kak!"
Pinta Alice kepada Asti.
"Tentu, aku pasti langsung kabarin kamu begitu sampai di lokasi.!"
Jawab Asti menjanjikan.
"Assalamualaikum kak!"
Seru Alice.
"Wa allaikumus sallam!"
Jawab Asti sembari menutup teleponnya.
Desi menyentuh Pundak Asti dan mengangguk.
Alice pun tersenyum sebisanya dan duduk dengan tenang di kursi rodanya.
"Ayo kita pulang!"
Ajak Topan sembari mendorong kursi roda Alice menuju mobil.
"Sebelum pulang ada yang mau kalian beli dulu gak?"
Tanya Topan.
"Gak usah sok-soan masih jadi orang kaya deh, kan kartu credit milik tante itu udah d blokir hahhah!"
Seru Iqbal.
"Sialan, kesannya gue bergantung banget sama tu tante, ngomong-ngomong gimana ya kehidupannya itu tante sekarang, gak nyangka ternyata suaminya niat banget ngasih pelajaran ke istrinya.!"
Seru Topan
"Mau bagaimanapun, udah jadi tanggung jawab suami mendidik istrinya, jika istri melakukan kesalahan itu sebab dari suami pula.!"
Ucap Iqbal
"Udah kolot banget ini topik pembicaraan hahah!"
Seru Desi
Iqbal dan Topan saling tatap kemudian ikut tertawa.
"Ambil hikmahnya saja, semoga Tante bisa berubah dengan adanya ujian ini!"
Seru Alice.
"Sebenarnya aku pribadi merasa gak enak hati, karena semua berhubungan dengan aku.!"
Ucap Alice lagi.
"Bukan karena kamu kok, hanya saja jalannya memang ada pada kamu, bersyukur saja semua juga demi kebaikan mereka.!"
Seru Topan kepada Alice.
"Ok, sekarang gimana kalau kita berburu makanan dulu?"
Ajak Desi mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Makanan apa?"
Tanya Iqbal
"Apa aja yang penting enak dimakan dan makan nya sama kamu heheh!"
Seru Desi.
"Widihhh udah jago gombal sekarang ya heheheh!"
Jawab Iqbal.
Alice dan Topan tersenyum melihat pemandangan itu, di satu sisi Alice mengingat masa-masa saat bersama Purnama dulu, sementara disisi lain Topan malah membayangkan dia dan Alice sedang bercanda semesra itu.
Dunia memang rumit...