Alice

Alice
Bagan 103



Sepanjang perjalanan Irma hanya terdiam dengan ekspresi wajah yang di buat-buat.


Sesampainya di rumah Purnama semua turun dari mobil tidak ada yang mencurigakan jika terlihat dari luar.


"Subhanallah ini rumah apa istana?"


Ucap Desi kepada Alice.


Alice hanya tersenyum mendengar celotehan Desi.


"Jangan kampungan gitu dong ah, kan malu keliatan banget dari kampungnya heheh.!"


Seru Irma sembari berjalan mendahului Alice dan Desi.


"Ih dasar licik.!"


Ucap Desi.


"Udah ah gak usah di ladenin, mungkin dia bercanda aja.!"


Ucap Alice.


"Ada apa lagi sama anak itu?"


Tanya Asti.


"Sebenarnya aku tadi nelponin kakak itu ya karena mau ngomongin dia.!"


Ucap Desi.


"Emangnya ada apa, maaf tadi aku lagi siap-siap makanya gak sempet angkat hp."


Jelas Asti.


"Jadi ceritanya tadi aku gak sengaja denger Irma ngomong, tentang Kak Gita, Kak Purnama dan Alice ada senjata-senjata gitu, dan bakal kejadian hari ini.!"


Ucap Desi.


"Maksudnya gimana aku gak ngerti?"


Tanya Asti lagi


"Sudah lah kak,mungkin saja Desibtadi salah denger kan atau apa lah gitu, kita juga gak ada bukti jadi ya lupain aja.!"


Saran Alice.


"Gak bisa lah massa maen lupa-lupain gitu aja, kalau beneran ini bisa bahaya.!"


Ucap Asti.


"Udah gini aja, kalian tenang aja biar gue yang ngawasin si Gita, lagian perasaan Purnama gak bakalan lah ngundang si Gita, pasti bakal ngehargain perasaan loe Lice.!"


Ucap Dahlan.


"Ngundang?, maksudnya ngundang itu apa kak?"


Tanya Alice dibuat bingung.


Asti sontak langsung menyenggol tangan Dahlan.


"Emhss maksud nya Dahlan itu, Purnama gak bakal mungkin ngasih tahu kondisinya sekarang ke Gita apalagi sampai nyuruh Gita datang kesini.!"


Ucap Asti membantu menjelaskan kepada Alice.


Desi menarik napas panjang begitu juga dengan Dahlan.


"Beneran kan ini gak ada yang di sembunyiin dari aku?"


Tanya Alice mencoba memastikan.


"Enggak lah apaan coba yang bakal aku sembunyiin, iya kan bang?!"


Seru Asti mencoba meyakinkan.


"Syukurlah, ayo kita masuk?"


Ajak Alice.


Di dekat Pintu nampak Irma masih menunggu Alice dan yang lain.


"Ayo masuk Ir.!"


Ajak Asti.


Irma mengangguk mengikuti langkah Asti.


"Ko sepi banget katanya pesta ulang tahun tapi ko sepi-sepi aja.!"


Ucap Irma dalam hati nya.


"Ayo kita langsung aja ke kamar Purnama.!"


Ajak Asti.


"Kak kalau diliat-liat kenapa pada kaya mau ke acara kondangan sih pakaiannya?"


Tanya Alice.


"Perasaan kamu aja paling.!"


Seru Asti tersenyum.


Alice dan yang lain menaiki tangga menuju kamar Purnama.


Sesampainya di depan pintu kamar Purnama, Asti mengetuk Pintu.


"Pur aku sama Alice dan yang lain udah datang nih.!"


Seru Asti dari luar, namun tidak ada jawaban dari dalam, tiba-tiba dua orang perempuan datang dari kamar samping.


"Permisi yang namanya Alice yang mana?"


Tanya Perempuan tersebut.


"Saya kak, ada apa ya?"


Tanya Alice ngerasa takut.


"Mari ikut kami sebentar.!"


Ajak Perempuan cantik tersebut, seraya menggandeng tangan Alice.


"Ta...ta... tapi mau kemana?".


Tanya Alice ketakutan.


"Udah gak papa Lice ikut Aja,kita tunggu disini.!"


Ucap Asti


Setelah Alice di bawa masuk kedalam kamar sebelah Purnama Pun keluar memakai stelan jas layaknya seorang pengusaha.


"Udah masuk belum?"


Tanya Purnama.


"Iya udah.!"


Seru Asti.


"Itu Alice mau di apain kak, kasian.!"


Ucap Desi polos.


"Mau dibikin cantik, udah tenang aja, Ayo kita turun sembari siap-siap dibawah.!"


Ajak Purnama.


Ucap Desi.


"Gak papa lah pokonya tambah cantik ini mah, ayo kita turun.!"


Seru Asti sembari menggandeng Desi.


Desi pun tersenyum dan ikut turun.


Dibawah sudah banyak para pekerja di rumah Purnama, sedang menyiapkan kue dan minum serta cemilan, semua tengah disibukan oleh pekerjaannya masing-masing.


Sementara Alice di dalam kamar tengah sibuk bertanya ini dan itu.


"Teteh ini saya mau di apakan?"


Tanya Alice.


"Gak di apa-apain teh, pokonya teteh cukup duduk dan diam saja.!"


Jawab perempuan perias.


"Tapi saya kesini mau jenguk kak Purnama bukan mau apa-apa teh.!"


Ucap Alice lagi.


"Iya teh saya tahu, tapi kalau mau ketemu sama den Purnama teteh harus rapi dan cantik biar den Purnama gak bisa ngedip saat liat teteh !".


Bujuk perempuan perias tersebut


"Tapi biasanya juga saya begini ko kalau ketemu sama kak Purnama, dan kak Purnama gak kenapa-kenapa ko ngeliat saya seperti ini.!"


Seru Alice lagi.


"Iya teteh, iya saya percaya ko, tapi untuk hari ini den Purnama bilang mau ngeliat sisi tersembunyi dari teteh, jadi teteh diam ya biar cepat beres kan, katanya mau liat den Purnama.!"


Bujuk lagi perempuan Perias.


Alice menarik napas dan mengikuti perintah perempuan perias.


"Nah sekarang teteh ganti baju ya pakai baju ini, nanti hijab nya kita bantu pasangin.!"


Ucap perempuan perias satunya lagi.


Alice pun mengganti baju di dalam ruangan yang telah disiapkan, setelah selesai Alice kembali duduk di kursi meja rias.


"Teteh ini mah bajunya kayanya kebagusan buat aku.!"


Ucap Alice.


"Enggak teh cocok pokonya di teteh bagus banget.!"


Ucap teteh perias.


"Sekarang kita bantu pasangin hijab nya ya.!"


Seru teteh perias satunya.


Alice hanya terdiam sampai hijabnya selesai di pasangkan.


"Nah sudah selesai sekarang.!"


Seru teteh perias.


"Sekarang pakai ini teh.!"


Ucap teteh perias sembari menyodorkan wedges dengan tinggi sekitar lima cm.


"Apa ini teh, saya harus pakai ini?"


Tanya Alice


"Iya teh kan bagus cocok sama bajunya.!"


Jawab teteh perias.


"Tapi teh saya gak bisa makenya, saya gak pernah pakai sendal tinggi kaya gini.!"


Ucap Alice merasa horor ketika melihat sepasang wedges di hadapannya.


"Gak papa di coba aja dulu, nanti kita bantuin ajarin cara jalannya.!"


Ucap teteh perias.


"Tapi nanti kalau saya jatuh gimana?"


Tanya Alice khawatir.


"Enggak kan ada kita yang jagain.!"


Ucap teteh perias tersenyum melihat kepolosan Alice.


"Saya pakai ini?"


Tanya Alice lagi ragu.


"Iya, ayo coba gini nah.!"


Ucap teteh perias sembari berniat memakaikan wedges tersebut.


"Ih jangan teteh jangan, biar saya pakai sendiri aja heheh.!"


Ucap Alice saat teteh perias telah jongkok dan berniat memasangkan wedges di kaki Alice.


Teteh Perias pun berdiri lagi sembari tersenyum.


"Gini ya pakainya?"


Tanya Alice setelah selesai memakai kedua belah wedges tersebut.


"Sekarang teteh berdiri coba.!"


Pinta teteh perias.


"Berdiri?"


Tanya Alice ragu-ragu.


"Iya ayo coba berdiri pelan-pelan.!"


Pinta teteh perias.


Alice pun perlahan berdiri.


"Nah itu bisa kan berdiri di wedges nya.!"


Ucap teteh perias senang.


"I ... i.... iya teh, tapi... saya ragu kalau harus jalan.!"


Ucap Alice gugup.


"Coba melangkah.!"


Ucap teteh perias.


"Melangkah?"


Tanya Alice sekali lagi.


Teteh perias mengangguk Alice pun mencoba melangkah namun langsung sempoyongan hampir terjatuh


"Eh... e...e...eh..., gak papa tenang ya tarik napas hembuskan.!"


Teteh perias sigap membantu Alice yang hampir ambruk terjatuh karena tidak bisa menguasai wedges nya.