
"Masuk lah ke kamar mu, pikirkan baik-baik, apa yang ibu dan Purnama katakan, ibu bicara seperti ini bukan karena berpihak kepada salah satu di antara kalian, tapi ibu bicara seperti ini sebagai orang tua pengganti kamu disini, apapun jawaban kamu besok pagi kepada Purnama ibu akan dukung, ibu percaya keputusan kamu adalah yang terbaik untuk kamu.!"
Ucap Ibu kos sembari tersenyum.
"Makasih ibu.!"
Ucap Alice sembari tersenyum dan memeluk ibu kos nya.
"Kalau begitu ibu masuk lebih dulu, maka Alice akan masuk juga heheh.!"
Pinta Alice.
"Iya deh iya anak baik.!"
Seru Ibu kos tersenyum.
Setelah ibu kos masuk kedalam kamar nya Alice Pun berjalan menuju kamar nya dan duduk di atas kasur.
Perlahan Alice membuka isi dari hand bag kecil yang di serahkan Purnama tadi.
"Subhanallah bross nya cantik sekali ya Allah."
Seru Alice sembari menutup mukut menggunakan kedua tangannya.
"Ini terlalu berlebihan sepertinya.!"
Seru Alice lagi.
Alice pun membuka kotak cincin.
"Massya Allah, indah sekali cincin nya.!"
Alice mengambil cincin dengan permata yang menghiasi di atasnya.
"Ya Allah ada tulisannya juga.!"
Seru Alice lagi.
Seketika Alice terdiam memikirkan ucapan Purnama dan Ibu kos nya, Alice merapihkan kembali barang-barang pemberian Purnama dan menyimpannya di meja, di samping tempat tidurnya.
"Ya Allah beri aku kemudahan, entah kepada siapa lagi aku harus menceritakan semua ini, Sungguh engkau maha mengetahui segalanya, apa yang ada di dalam hati hamba.!"
Seru Alice sembari kemudian membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
Alice menatap langit-langit kamar nya, menerawang jauh.
"Assalamualaikum.!"
Ucap Asti sembari masuk ke dalam kamar.
"Wa allaikumus sallam.!"
Jawab Alice.
"Kakak baru pulang?"
Tanya Alice.
"Iya, o iya ini tadi aku sempet beliin kamu gamis, aku suka aja sama warna dan modelnya terus aku sama Dahlan inisiatip deh beliin buat kamu, coba deh kamu liat, suka gk?"
Tanya Asti.
Sembari menyodorkan salah satu tas belanja nya.
Alice duduk di atas ranjang nya kemudian menerima tas belanja tersebut dan membuka nya.
"Subhanallah ya Allah kakak ini cantik banget.!"
Alice terpukau melihat gamis bercorak abu dan merah muda.
Alice melihat harga yang masih tergantung di baju tersebut.
"Ya Allah kakak ini mahal banget kak, sayang uang nya kenapa di beliin baju semahal ini?"
Seru Alice yang kaget melihat harga baju nya yang mencapai tiga ratus ribu rupiah lebih.
"Tapi kamu suka kan?"
Tanya Asti.
"Suka sih, tapi tetep aja kak ini kemahalan buat aku, biasa juga aku beli baju cuman tiga puluh lima ribu paling mahal ya seratus ribu, ini bisa buat beli baju berapa biji kak tiga ratus ribu.!"
Seru Alice.
"Udah anggap saja itu hadiah dari aku sama Dahlan, ini aku juga beliin kamu pentopel, biar kamu kemana-mana sendal nya gak itu-itu aja, lagian itu sandal kamu udah beberapa kali kan lepas terus.!
"Ya Allah kak, jangn-jangan itu mahal lagi, gak mau ah kalau mahal-mahal Alice gak pantas pake nya.!"
"Gak boleh nolak rejeki, inituh udah rejekinya kamu, cuman emang datang nya aja ke aku sama Dahlan.!"
"Lagian kan gak ada salahnya kalau seorang kakak ngasih ke adik nya.!"
Pungkas Asti.
"Pokonya ini harus di pakai ya, kalau kamu mau berterimakasih sama aku sama Dahlan cukup pakai aja baju dan pentopel nya ok.!"
Seru Asti lagi, tiba-tiba Asti melihat ada hal yang mencolok di meja dekat ranjang Alice seketika Asti menghampiri meja tersebut dan melihat-lihat.
"Ya ampun cantik banget, ini punya kamu?"
Tanya Asti kepada Alice.
"Mungkin..."
Jawab Alice.
"Kenapa mungkin?"
Tanya Asti lagi.
"Itu dari kak Purnama, tadi kak Purnama ngasih itu ke aku sepulang dari pasar malam.."
Jelas Alice.
"Dalam rangka apa?"
Tanya Asti lagi.
"Ya kak Purnama...."
Alice menceritakan semua nya dari awal hingga akhir kepada Asti.
"Emhsss kamu udah mikirin jawabannya?"
Tanya Asti lagi.
"Alice bingung kak.!"
"Apa yang bikin kamu bingung?"
Tanya Asti agak kesal kepada Alice.
"Alice masih takut...!"
"Alice kita itu ibarat wayang dalam kesenian sunda, yang hanya bisa bergerak ketika sang Dalang memainkan kita, selebihnya kit hanya akan diam.!"
Ucap Asti.
"Maksud kakak?"
Tanya Alice.
"Purnama datang kedalam kehidupan kamu itu karena Allah yang sudah mentakdirkan kalian untuk bertemu, semua yang terjadi di dunia ini atas kehendak nya, jadi kamu jangan menyalahi taqdir, pada akhirnya kamu juga akan menikah, karena setiap manusia itu telah diciptakan berpasang-pasangan, kalau pun kita tidak tahu jodoh kita siapa setidaknya buka hati kamu untuk orang yang jelas-jelas sudah banyak berkorban demi kamu dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kamu, memangnya menurut kamu kenapa? semua itu tentu karena dia sayang sama kamu dia tulus sama kamu, kebanyakan lelaki di luar sana ketika telah di abaikan berkali-kali akan pergi dan menghilang bagaikan di telan bumi, tapi lihat Purnama berapa kali dia bertanya atas jawaban dari perasaanya berapa kali juga kamu tidak menjawab nya, apa ada yang berubah dari dia terhadap kamu?"
Asti mulai meluapkan emosi yang beberapa saat ini dia coba tahan.
"Kamu gak boleh gantungin perasaan orang kaya gitu Lice kalau kamu suka bilang suka sama dia sambut perasaan dia, kalau kamu gak suka bilang sama dia meskipun pahit setidaknya dia tidak akan terus menanyakan hal yang sama dan terus terpaku kepada kamu!"
Ucap Asti lagi.
Alice tertegun dan tertunduk mendengar semua Ucapan Asti.
Air mata Alice perlahan mulai berjatuhan di atas gaun nya.
"Kalau aku yang ada di posisi kamu sudah sejak awal aku akan menerima dia, apa kurangnya dia sih, dia itu tampan dari segi fisik dia juga baik rajin ibadah soleh dan sabar, lelaki seperti apa yang kamu mau sebenarnya Lice?"
Asti bertanya kepada Alice yang mulai senggukan menangis.
"Menangis lah pikirkan apa yang aku katakan, jujur aku sedikit kesal karena kamu terlalu lama mengabaikan Purnama dan membiarkan dia terus hidup dan terpaku kepada Kamu, jangan lupa dia juga berhak bahagia kamu tidak punya hak menahan dia untuk tetap di sisi kamu sementara kamu tidak memberikan dia kepastian.!"
Ucap Asti sembari menyimpan kembali Pemberian Purnama ketempat semula.
Asti kemudian bergegas pergi ke kamar mandi dan mengurung diri di sana dengan berpura-pura membersihkan diri sementara Alice masih terisak di atas ranjang nya.
"Ya Allah selama ini aku terus memberikan harapan kepada kak Purnama, kak Asti benar aku benar-benar tidak memikirkan perasaan kak Purnama."
Alice merasa bersalah karena terlalu lama menggantungkan perasaan Purnama meski pada kenyataanya tak sedikitpun niat dihatinya untuk menggantung, Alice hanya butuh waktu lebih lama untuk meyakinkan perasaanya...