Alice

Alice
Prolog



Alice melihat mata itu dari kejauhan. Seorang gadis kecil dengan sepasang mata hijau--Alice melihat sesuatu yang buruk akan terjadi pada gadis kecil itu.


--


"*Wah, bonekanya cantik! Kenapa di letakkan di rel?!" kata seorang gadis kecil yang melihat sebuah boneka beruang yang tersangkut di rel.


Gadis kecil itu berlari ke arah rel tersebut. Berusaha menarik boneka beruang yang tersangkut disana.


"Huh, susah sekali!" katanya masih berusaha menarik boneka beruang tadi dengan sekuat tenaga.


'Tut, tut, tut'.


Oh, tidak! Sebuah kereta melaju dari sisi kiri gadis itu!


Bodohnya gadis itu hanya diam di tempat menatap kereta yang semakin melaju ke arahnya*.....


--


Alice sadar dari penglihatannya barusan. Dia mulai mengatur napasnya yang memburu se-usai melihat kejadian tadi. Dia kembali melihat gadis kecil tadi. Tapi dia tak ada lagi disana. Sial! Alice kehilangan gadis kecil itu


Alice mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Mencoba mencari gadis kecil tadi. Namun nihil. Dia tak kunjung menemukan gadis bermata hijau tadi.


Dia kecewa. Walaupun itu takdir jika gadis kecil itu harus segera pergi. Tapi, itu terasa tidak adil menurut Alice.


Haruskah Alice menolongnya?


Tapi, bagaimana caranya? Alice sendiri tak tahu dimana keberadaan gadis kecil tadi. Matanya tak henti mencari si pemilik mata hijau tadi.


"Sekarang bagaimana? Oh, Tuhan, sebenarnya apa rencana-Mu memberi kemampuan ini padaku?" gumam Alice. "Sekarang, aku merasa tak enak membiarkan gadis kecil itu pergi begitu saja."


"Permisi!"


"*Tolong jangan di jalan!"


"Kau menghalangi jalanku!"


"Munggir!"


Alice lekas berjalan menjauh dari tempatnya berdiri tadi kala mendengar celotehan orang-orang yang lewat di hadapannya. Tempat ini ramai sekali! Membuat sesak saja.


"Aku menyerah. Aku tak tahu harus apa. Biarkan-lah Tuhan yang menentukan hidup gadis kecil itu. Aku tak mau terlibat. Lebih baik aku pulang saja!" kata Alice.


Masih ada rasa ragu di hati Alice untuk langsung pergi dan melupakan apa yang dilihatnya tadi.


Dia berjalan menelusuri pasar yang super ramai sambil menundukkan kepalanya.


"Aku benar-benar benci tempat ramai!" gumam Alice. Bahunya juga terasa sakit karena sejak tadi bertabrakan dengan orang-orang yang berjalan di sampingnya.


"Aduh, benar-benar!" kesal Alice sambil memegangi bahunya.


Tak jauh dari tempatnya berdiri, ada sebuah cafe yang biasa dia kunjungi. Dia memilih pergi ke sana sebentar untuk beristirahat sambil menunggu jalanan sepi.


Alice melangkah masuk ke dalam cafe. Disana terasa nyaman, dia duduk di sebuah bangku yang dekat dengan dinding kaca transparan. Di luar, banyak sekali orang yang berlalu-lalang.


"Mau pesan sesuatu?" seorang wanita, pelayan cafe tiba-tiba datang menghampiri Alice yang tengah asik memandang keluar jendela. Wanita itu menyodorkan sebuah papan berisi menu cafe itu.


Alice melihat-lihat menu yang ada disana. "Hmm. Cappucino saja." jawab Alice lalu mengembalikan papan tadi pada wanita itu.


Dengan senyum di wajahnya, wanita itu berlalu dari pandangan Alice.


ZRAASSS


Alice terkejut. Tadi cerah. Kenapa sekarang hujan?


"Hujan pula. Bagaimana aku mau pulang nanti. Semoga hujannya cepat reda!" gumam Alice sambil memandang keluar.


"Ini pesanannya!" wanita tadi datang kembali tak lupa tersenyum pada Alice, salah satu pelanggannya.


"Iya. Terima kasih banyak!" jawab Alice. Lagi. Wanita itu pergi.


Alice menyeruput Capuccino yang dipesannya tadi sedikit. "Enak." gumamnya.