Alice

Alice
He Can Read My Mind



Tatapan Alice berhenti saat ia melihat mata ayah Xander. Tubuhnya memaku, tak berkutik dari tempatnya.


Penglihatan apa lagi ini?


Ya, dia melihat ayah Xander meninggal dunia.


"Alice!" panggil Xander sambil menatap Alice yang memaku di tempatnya. Berkedip saja tidak.


"Alice!" panggilnya lagi. Namun Alice tak berkutik.


"Hmm!" dehamnya. "Alice!" panggilnya lagi dengan suara agak besar. Dan tentu saat itu Alice sadar dari penglihatannya.


"Ya. Kenapa?" tanya Alice yang telah sadar dari penglihatannya. 'Apa itu tadi. Gak mungkin ayah Xander... meninggal dunia...' batin Alice.


Xander menghela napasnya. "Harusnya aku yang bertanya seperti itu!"


"Nak, sini!" panggil ibu Xander pada Alice sambil menepuk sofa kosong di sebelahnya. Alice pun segera menuju sofa dan duduk disana.


"Senang rasanya Xander punya teman!" ujar ibu Xander. Itu membuat Alice heran.


'Apa Xander tidak memiliki teman? Atau dia sama sepertiku, tidak mau bergaul?' batin Alice.


"Hmm, maksudnya apa, bi?" tanya Alice.


"Xander itu, sejak dulu tak mau bergaul. Entah kenapa!" kata ibu Xander.


"Aku juga begitu." gumam Alice dengan suara kecil.


"Apa?"


"Enggak, bi!" ujar Alice.


"Ini dimakan buahnya!" kata ibu Xander sambil menyodorkan sepiring buah apel yang sufah dipotong- potong.


"Iya, bi!" kata Alice.


Mereka berbincang agak lama,merasa seperti sudah kenal dekat. Sampai tidak menyadari Xander pergi dari ruangan itu.


"Xander mana?" tanya Alice yang sudah menyadari Xander tak ada lagi di ruangan itu--sambip mengedarkan pandangannya ke seluruh bagian ruangan.


"Kayaknya dia pergi keluar. Pasti ke taman rumah sakit lagi. Anak itu memang suka berada disana. Katanya yempatnya tenang." kata ibu Xander. "Kamu mau kesana?" lanjutnya.


"Boleh!" kata Alice. Terakhir kali dia berada di rumah sakit ini, taman itu tampak suram, bunga disana layu, seperti tak terawat. 'Apa sekarang indah?' batin Alice.


Dia pun segera keluar dari ruangan itu, tak lupa berpamitan dengan ibu Xander. Lalu berjalan menuju taman.


"Bahagianya punya ibu seperti ibu Xander." gumam Alice iri. Kedua orang tuanya tak pernah lagi mengunjunginya sejak ulang tahunnya yang ke sepuluh. Kira-kira sudah 5 tahun orang tuanya tak pulang. Alice sangat merindukan mereka berdua. Ditelpon juga tak diangkat.


Setelah berjalan agak lama, akhirnya Alice sampai di taman. Xander ada disana, menatap kosong ke arah langit. Alice pun segera menghampiri Xander. Entah kenapa Alice sudah merasa dekat dengan Xander. Ya, Xander teman yang baik.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Alice.


"Percaya... Apa?" tanya Alice.


Xander menghela napas. Menatap kembali langit biru yang tampak indah siang ini. "Percaya atau tidak, aku bisa membaca pikiran orang!" ucap Xander sambil menatap Alice.


Alice terkejut. Bukan karena kagum atas kelebihan Xander.


Tapi, karena "Apakah Xander membaca pikirannya ketika ia mengatakan dalam hati bahwa ayah Xander akan meninggal dunia!"


'Apa Xander mendengar hal tadi?' batin Alice, yang tentu dibaca pikirannya oleh Xander.


Sama seperti Alice, Xander bisa membaca pikiran orang lain dengan menatap mata mereka.


"Ya, aku mendengarnya!" kata Xander. "Ayahku..." wajah Xander langsung murung kala itu. Alice menyesal entah karena apa.


Lagi-lagi Xander menghela napasnya. Keheningan terjadi di antara mereka untuk beberapa saat.


"Omong-omong, kau punya kemampuan melihat masa depan, ya!?" tanya Xander memastikan apa benar Alice punya kemampuan itu.


"Ya!" jawab Alice.


"Kemampuan yang luar biasa!" kagum Xander.


"Kau juga!" kata Alice. "Aku agak membenci kemampuan ini!" sambung Alice.


"Kenapa? Bukankah itu bagus?" tanya Xander.


"Aku ingin menghilangkan kemampuan ini. Sudah berapa kali aku menyesal saat tidak dapat membantu orang yang sedang dalam bahaya, padahal sebelumnya aku sudah apa yang akan terjadi pada mereka! Aku merasa seperti pembunuh..." jelas Alice.


"Aku malah bersyukur dengan kemampuan ini. Karena aku akan tahu, mana orang yang berbohong, dan mana yang jujur. Mana yang tulus, dan yang mana yang tidak. Mana yang baik, dan yang mana yang jahat!" kata Xander. Alice mengangguk.


"Apa kau tahu. Kemampuan ini, turun dari kedua orang tuaku!" kata Xander.


"APA?" Alice terkejut. Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah, "Apakah kedua orang tua Xander juga membaca pikirannya tadi?"


"Tentu!" kata Xander. "Kalau pun ayah pergi, biarkanlah, itu sudah takdir dari Tuhan!" lanjutnya.


"Lagipula, ayah akan tenang disana. Dia tidak akan merasakan sakit lagi, seperti yang dirasakannya saat ini!" gumam Xander.


Alice mendengarnya. "Bukankah itu... terdengar agak kejam?" tanya Alice.


"Bukankah itu benar?" tanya Xander balik. Alice hanya mengangguk- angguk.


Alice terlalu banyak menghabiskan waktu bersama Xander dan keluarganya. Sampai lupa akan bibinya yang kecelakaan pagi tadi.


"Aku pergi dulu, ya. Mau ke ruangan bibi aku!" pamit Alice. Xander mengangguk. Setelah itu Alice pun pergi dari taman.


Sesampainya di ruang rawat bibi Alice. Dia pun segera berdiri di samping kasur Maya. Maya masih terbaring disana, tak sadarkan diri. Kondisinya tampak menyedihkan.


"Bibi terlalu ceroboh. Kenapa tak mendengarkan perkataanku waktu itu. Kalau saja..." Alice terisak. "Kalau saja bibi tidak pergi ke sana. Tidak akan seperti ini jadinya!"