Alice

Alice
Accused Alice



Alice berjalan menuju sekolahnya dengan berjalan kaki. Dipikirannya saat ini hanyalah bibinya. Alice benar-benar khawatir akan keadaan Maya.


"Pagi!" sapa Xander yang tiba-tiba berada di sebelahnya.


"Hmm." deham Alice.


Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju sekolah.


Belum sampai di depan gerbang sekolah, Xander berhenti di tempatnya, membuat Alice pun ikut berhenti berjalan menatap Xander.


"Aku lupa pakai dasi!" kata Xander.


Alice pun menatap beberapa murid yang berdiri di gerbang--yang bertugas mencatat nama siswa yang tidak berpakaian lengkap. Ya, mereka petugas OSIS.


"Siapa suruh. Seharusnya, kau lebih disiplin. Lihatlah, poinmu akan berkurang. Baru saja masuk sekolah, sudah tidak disiplin." ejek Alice. Alice pun segera berjalan dengan santai menuju gerbang sekolah. Sementara Xander, berpikir bagaimana caranya agar dia masuk ke dalam sekolah tanpa mengirangi poinnya.


Xander yang tampaknya sudah mendapatkan ide, segera pergi menuju belakang sekolah.


Ya, dia berpikiran untuk memanjat pagar belakang sekolah, mengingat disana sepi. Dia pun bergegas melompati pagar yang cukup tinggi.


Agak sulit baginya. Tetapi, dengan bantuan tubuh tingginya, dia akhirnya berhasil masuk ke dalam sekolah. Walau dengan baju yang agak kotor terkena karatan pagar.


Xander pun menepuk-nepuk bajunya untuk menghilangkan noda kotor disana.


Setelah agak bersih, dia pun berlari ke arah kelasnya. Melihat Alice yang membaca novel dengan serius.


Xander pun langsung duduk menuju tempat duduknya yang terletak di belakang bangku milik Alice.


Tidak ingin mengganggu Aluce yang sedang sibuk membaca, Xander memutuskan untuk bermain game di ponselnya.


"Hey!" panggil seorang murid perempuan dengan ketus pada Alice.


"Kenapa?" tanya Alice dingin.


"Jangan pura-pura tidak tahu!" ketus murid perempuan itu lagi. Namanya Valerie. Perempuan itu memang ketus dan sombong.


"Apa maksudmu!" tanya Alice tak mengerti.


"Aishhh, benar-benar! Apa yang harus kulakukan agar kau mengerti!" gumam Valerie itu sinis. "Kau mencuri kalungku, kan!" tanya Valerie dengan suara yang ditinggikan.


"Perempuan aneh!" gumam Alice benar-benar tak mengerti maksud ucapan Valerie.


'APA KATAMU! CEPAT MENGAKULAH! KEMBALIKAN KALUNGKU! APA KAU TAU BERAPA HARGANYA?" teriak Valerie kesal.


Valerie mengaluhkan pandangannya sinis ke arah lain lalu menghela napas kesal.


"Kau mencurinya bukan?! Aku tau. Kau kemarin pulang lebih awal setelah mencuri kalungku karena takut bukan!?" terka Valerie.


"Bibiku kecelakaan..."


"Jangan mengelak! Cepat kembalikan kalungku!" rengek Valerie.


"Aku tidak mencuri kalungmu. Aku bahkan tak tau kalau kau membawa kalung ke sekolah!" ujar Alice membela diri.


"BOHONG!..." seru Valerie terpotong.


"Ada apa ini ribut-ribut?" seru Wanda yang tiba-tiba berada di depan kelas. Semua murid yang baru mengetahui kehadirannya langsung berhamburan menuju bangku masing-masing. Kecuali Valerie, dia masih tetap berada di tempatnya tadi.


"Kau yang disana!" panggil Wanda sambil menunjuk Valerie. "Apa yang kau lakukan disitu. Duduk di tempatmu!" pinta Wanda.


Alih-alih kembali ke tempat duduknya, Valerie malah pergi ke meja guru.


"Aku tak menyuruhmu kemari. Kembali ke tempat dudukmu!" pinta Wanda lagi.


"Bu. Kalung emas saya hilang. Itu 10 gram!" kesal Valerie.


"Lalu?" tanya Wanda masa bodo.


"Aku baru kehilangan kalung, bu. Dan itu tidak murah harganya!" kesal Valerie sambil menghentak- hentakkan kakinya di lantai.


"Ini salahmu!" ujar Wanda.


"Apa?!" tanya Valerie kesal.


"Ya, ini salahmu. Seharusnya kau lebih paham peraturan-peraturan yang ada di sekolah ini. Salah satunya, 'Tidak membawa barang berharga ke sekolah!'... Kalau hilang, itu diluar tanggung jawab kami!" kata Wanda. "Kalau begitu, kembali ke tempat dudukmu!" sambungnya.


"Tidak mau!" seru Valerie. "Sebelum aku mendapatkan kembali kalungku. Kita tak boleh memulai pelajaran!" pinta Valerie seolah dia guru.


Wanda tertawa kecil. "Kau pikir kau siapa?" tanya Wanda. "Terserahlah. Kau boleh berdiri disana sampai kapan pun kau mau!" lanjutnya.


"Baik kita mulai pelajaran..." seru Wanda sambil membuka bukunya.


"Ishhh!" kesal Valerie dengan mata sinis menatap Wanda, lalu berjalan kembali ke mejanya dengan hentakan kaki keras.


"Nyerah juga!" gumam Xander.