Alice

Alice
23. Memulai Hal Baru



" Apa kau keguguran Alice ?" Tanya Arthfael mendekat kearah Alice.


"Apa pimpinan tau kau datang kesini?" Tanya Alice berbalik melihat Arthfael tajam.


"Apa benar Alice? " kembali tanyanya tanpa menjawab pertanyaan Alice


"Jawabbbb akuuuu !!! " teriak Alice membuat member diluar kaget seketika karna teriakan Alice


"Tidak ...." lirih Arthfael sambil menunduk


"Apa kau gila hah?!" Tanya Alice yang kini berdiri tepat didepan wajah Arthfael.


"Iya aku gila Alice.... aku sangat merindukanmu.... Apa kau tau bagaimana diriku tanpamu disana?!" Arthfael mulai meneteskan air matanya


"Kau cepatlah pergi" Usir Alice, membalikkan badannya menghindari tatapan Arthfael.


"Aku tidak akan pergi Alice...." lirihnya hingga terdengar suara tangisan dari sana


"Kau tau saat ini keadaanku semakin memburuk aku hanya bisa bertahan hidup sebentar lagi aku juga tau aku akan dihukum mati karna saat itu aku berusaha kabur dari markas" tangisnya


"Itu semua kulakukan karna aku sangat mencintaimu ... aku hanya ingin bertemu dengan dirimu sesaat sebelum aku mati" sambung Arthfael yang berhasil membuat hati Alice merasakan hal yang tak biasa dari dalam sana.


Arthfael melangkah kearah Alice yang masih membelakangi dirinya, memeluknya erat dari belakang, tak ada kata apapun yang terucap dari keduanya, hanya hati yang berbicara.


Datuk jam terus berbunyi hingga suara itu bercampur dengan suara tangis yang mulai terdengar dari dua insan yang sedang berpelukan erat ini seakan ingin mengadu pada tuhan yang maha pengasih untuk menyatukan mereka dikehidupan selanjutnya dengan keadaan yang lebih baik lagi, dengan cerita romansa yang tidak ada kata berpisah baik sedih.


Bercinta dikehidupan Mafia mungkin saja bisa bagi mereka apalagi disisi lain, Arthfael adalah putra dari pimpinan, tentu hal ini pasti sangat mengembirakan pimpinan untuk mempersatukan putra kandung dan putri angkat-nya.


Tapi ini tidak semudah yang dibayangkan, ntah apa gerangan yang terjadi pada Arthfael hingga dia memilih untuk kabur dari markas Mafia, sebuah tindakan yang akan membuat dirinya akan dihukum mati, sebab telah menyalahi aturan yang telah ditetapkan dari organisasi, kabur dari markas tentunya bukanlah pilihan yang bijak, jika sudah bertindak seperti ini, pastinya mati ditempat lebih baik dari pada menjadi sendera.


Mati sama sekali tidak menyakitkan dari pada menjadi sendera, sungguh bagi para Mafia mati adalah anugrah terbesar dibandingkan menjadi sendera yang tidak tau nasipnya akan seperti apa.


"Jangan menangis Alice" kata Arthfael mengelus kepala Alice dan membalikkan badan-nya agar saling berhadapan.


"Aku tau ini salah bagi kita. Tapi, aku sudah memilih ini karna kau tidak bisa ditemui saat ini aku sangat merindukanmu" Arthfael mencium kening Alice dan memeluk nya erat, Alice semakin memeluk erat Arthfael.


"Lihatlah dirimu kau memelukku erat tapi kau tidak pernah mengatakan bahwa kau juga mencintaiku" Alice hanya diam dalam pelukan Arthfael


Menyebutkan kata cinta adalah hal yang tidak mudah bagi diri Alice dia tidak pandai berkata kata manis apalagi kata cinta. oleh karna itu, Alice hanya memendam rasa itu dan tidak mengatakannya walau ia memang mencintai Arthfael dan berat rasanya untuk ditinggal Arthfael.


"Lihatlah betapa menyedihkannya diriku, aku tidak bisa mendapatkan cinta dari orang orang didunia ini termasuk perempuan yang sekarang berada dalam pelukanku" kata Arthfael sedikit tertawa


"Alice apa kau bisa mengabulkan tiga saja dari banyaknya permintaanku" pinta Arthfael sembari melepaskan pelukannya


"Kau boleh meminta lebih" Alice memandang Arthfael berusaha tersenyum dengan muka sembamnya


"Bagaimana kalau 2222"candanya


Alice tertawa kecil


"Apapun itu" sambung Alice


"Baiklah aku akan meminta banyak hal sekarang" kata Arthfael tersenyum sambil memegangi wajah cantik yang kini berada tak jauh dari pandangan-nya.


"Yang pertama aku ingin ini" kata Arthfael sambil dengan cepat memeluk Alice erat dan menyentuh bibir ranum milik si cantik ini.


Alice hanya terdiam dan menutup matanya merasakan ciuman dari Arthfael yang mendarat dibibirnya, dengan gerakan lembut Alice juga membalas ciuman yang diberikan Arthfael tanpa melepas pelukan-nya.


Arthfael melepas ciuman-nya sejenak untuk menghirup udara, merasa ciuman-nya disambut oleh Alice, dia pun tersenyum melihat wajah malu-malu Alice menunduk, dengan gerakan cepat Arthfael merapatkan pinggang Alice padanya ingin mencium bibir manis itu sekali lagi


Alice yang terkejut pun langsung memegang kedua lengan pria kekar yang menarik pinggang-nya cepatcepat hendak menciumnya kembali


"Yang kedua?" Tanya Alice menghentikan Arthfael.


Arthfael tertawa kecil melihat tingkah Alice seolah takut akan dirinya.


"Aku ingin kau menjadi wanita pada umumnya, pilihlah hidup sesukamu, pakailah baju wanita dan jadilah wanita sempurna jangan lagi seperti pria kurangi juga amarahmu, kau harus meninggalkan dunia gelap dan kejam ini " pintanya sambil mencubit hidung Alice.


Alice mengganggu tanda setuju, karna dia juga sudah mulai merasa sangat lelah dengan kehidupan yang penuh dengan darah ini, sangat hampa dan suram, walaupun beresiko. Tapi tak ada salahnya mencoba pikirnya.


"Yang ketiga? " Tanya Alice


"Akan aku pikirkan nanti" tatap Arthfael pada Alice


"Baiklah" kata Alice seraya mengalungkan tangannya ke leher Arthfael malu-malu.


Merasa sudah lelah Arthfael akhirnya berhenti dan memeluk Alice erat-erat sembari meletakkan dagu-nya ke sela-sela leher Alice menghirup wangi khas tubuh Alice.


"Aku membelikanmu baju wanita kamu harus mencobanya" Arthfael melepas pelukan-nya setelah mencium sekolah bibir Alice.


"Mari sini kusisir rambutmu" tawar Arthfael menarik tangan Alice pelan.


"Iya" Alice tersenyum girang


Arthfael selesai menyisir rambut Alice dan Arthfael keluar dari kamar Alice karna Alice akan mengganti bajunya.


"Apa dia mmara? Tanya V saat melihat Arthfael keluar dari kamar Alice


"Ahhh sekarang sudah tidak" kata Arthfael tersenyum ramah sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mengingat Alice tadi berteriak.


"Apa dia mengatakan sesuatu tentang aku" Tanya Jungkook


"Tidak ada" kata Arthfael


"Minta maaf lah nanti padanya" kata Arthfael


"Ahhh aku sangat takut " Jungkook mendesah pelan sambil mengayun-ayunkan tangannya


"Tidak apa apa dia tidak akan marah" kata Arthfael meyakinkakan.


Mereka terus mengobrol hingga terdengar suara Alice


"Apa ini terlihat bagus? " Tanya Alice disela sela pembicaraan mereka.


Alice melangkah menunjukan baju yang dipakainya dengan raut muka tidak percaya diri melihat penampilannya seperti wanita pada umumnya dengan mengenakan baju atasan yang menampakkan kedua bahu putihnya berwarna merah bata disertai rok mini hitam diatas lututnya, hingga menunjukkan kaki jenjang nya yang putih mulus membuatnya sepadan di kulitnya.



ditambah Arthfael hanya mengikat rambut Alice dengan gaya Shoelace braids.



Arthfael membuatnya dengan sangat rapi dan cantik, memang betul kata pepatah, pisau semakin diasah maka semakin tajam, kini Arthfael sangat handal dalam urusan rambut wanita, dia sudah sangat cocok membuka toko salon.


Alice keluar dengan perlahan dari kamar hendak bergabung bersama mereka di ruang tamu.


Member BTS melihat Alice keheranan sekaligus terpukai atas penampilan Alice.


Mereka bukannya tidak pernah melihat wanita berpenampilan seperti Alice lebih dari Alice juga mereka pernah melihatnya.


Tetapi ini berbeda karna si detektif yang memakainya mereka terpukau saat melihat perbedaan Alice ketika memakai baju wanita dengan baju gaya lelakinya.


Karna biasanya mereka hanya melihat Alice berbaju kemeja dan celana panjang saja, beda hal dengan yang mereka saksikan sekarang


"Bagaimana? " Tanya Alice memecah lamunan


"Itu bagus" kata member BTS tersadar dari lamunan-nya


"Bagaimana? " Tanya Alice pada Arthfael


"Sangat bagus " sanjungnya


"Mulai sekarang pakai-lah baju yang seperti ini" kata Arthfael mengelus kepala Alice dan disambut senyuman olehnya.


Member BTS ikut tersenyum sesaat melihat mereka dan merasakan aura berbeda pada diri Alice.


"Angel aku akan pergi sekarang aku tidak bisa berlama lama disini " kata Arthfael


"Ohhh baiklah" kata Alice tersenyum lebih lebar karna sudah merasa baikan setelah situasi didalam kamar tadi.


"Aku titip wanita pemalas ini ya" kata Arthfael dan membuat Alice malu seperti wanita biasanya dan seolah olah Alice berubah drastic secepat kilat setelah kedatangan Arthfael.


"Iya tentu" kata mereka


Arthfael pun keluar dari rumah BTS dengan langkah ringan dan senyum yang mengambang karna ternyata cintanya kini terbalas.


Tapi lain hal dengan member BTS yang kini mulai keheranan atas perlakuan Alice yang kini tengah berdiri cantik didepan mereka tanpa henti-nya tersenyum.