
Alice berjalan menelusuri koridor sekolah. Dia benar-benar sebal dengan tingkah Valerie yang menuduhnya tadi.
Kantin.
Alice berpikiran untuk pergi ke kantin karena dia merasa lapar.
"Mau ke kantin?" tiba-tiba Xander datang.
"Iya." balas Alice.
Mereka berdua pun berjalan beriringan menuju kantin.
Sesampainya di kantin Alice mengambil tempat duduk, sedangkan Xander memesan makanan.
Tidak menunggu lama, pesanan mereka akhirnya datang.
"Terima kasih!" ucap Alice.
"Makanlah!" kata Xander.
Mereka pun menyantap makanan yang ada di meja sembari bercerita.
"Aku ingin sekali menjambak rambut Valerie tadi. Dia benar-benar menyebalkan!" cibir Alice.
Xander tertawa kecil melihat ekspresi lucu Alice. "Aku tau siapa pelakunya!" ujar Xander.
"APA?" pekik Alice. Beberapa murid yang duduk dekat dengan mereka menatap Alice. "Maaf." gumam Alice sambil tersenyum tipis.
"Kenapa kau tidak memberi tau tadi? Kau tidak lihat aku dituduh?! Memang siapa pelakunya?" tanya Alice dengan suara kecil.
"Dia sendiri pelakunya!" ujar Xander.
"Apa?" tanya Alice bingung. "Apa maksudmu?" lanjutnya.
"Dia itu ceroboh!" ucap Xander. Dia menyeruput es yang dibelinya tadi. "Kau tau, kemarin pulang sekolah aku melihatnya berjalan di koridor, dia tampak serius memainkan ponselnya. Kurasa, dia sedang chat dengan seseorang. Dia juga memegang kalungnya dan sekotak susu. Saat dia di dekat tong sampah, dia malah membuang kalungnya. Kurasa dia salah buang, harusnya dia membuang kotak susunya, tapi dia malah membuang kalungnya. Dasar bodoh, dia terlalu serius dengan ponselnya!" jelas Xander.
"Kenapa kau tidak memberi tau padanya kemarin?" tanya Alice lagi.
"Aku hendak memberi tahunya hari itu, tapi, dia langsung berlari entah kemana setelah membuang kalungnya. Lalu, aku berniat memberi tahunya pagi tadi--"
"Kenaoa kau tidak memberi tau?" potong Alice kesal.
"Aku melihat dia menuduhmu sambil marah-marah. Jadi, aku tak jadi memberi tahunya... Dia menuduh orang sembarangan atas kesalahan yang dibuatnya!" ujar Xander.
"Beri tahulah! Kasihan dia, katanya itu 10 gram. Harganya tidak murah!" pinta Alice.
"Baiklah!" jawab Xander.
"BENARKAH?"
"Eh, kaget!"
Valerie yang tiba-tiba datang dan bertanya dengan teriakan mengagetkan Xander. Ya, dia mendengar perbincangan Alice dan Xander tadi.
"Kau mengagetiku!" sebal Xander.
"Apa itu benar?" tanya Valerie lagi.
"Hmm!" deham Xander yang sedang makan.
"Hey..." panggil Valerie. Xander menoleh. "Ayo antarkan aku ke belakang sekolah. Pasti semua sampah ada disana. Dan kalungku juga pasti ada disana!" lanjut Valerie.
"Tidak mau!" ujar Xander.
"Hey, bantulah!" pinta Valerie lagi.
"Tidak!" Xander tetap tidak mau.
"Xander... Bantulah! Dia tak mungkun mencarinya sendiri!" kata Alice.
Xander tampak berpikir. Cukup lama. Lalu, dia menghela napasnya. "Aishhh, baiklah!" ujar Xander.
"Thank you!" ucap Valerie. Setelah itu dulua duduk di sebelah Alice.
"Alice... Maaf, ya. Aku sudah menuduhmu mencuri kalungku. Aku memang bodoh dan ceroboh!" ujar Valerie.
Alice mengangguk sebagai jawaban. "Baiklah. Aku memaafkanmu! Juga, aku akan membantu mencari kalungmu!"
****
"Ayo!" ajak Valerie sepulang sekolah pada Xander dan Alice untuk mencari kalungnya.
"Aishh, sudah cukup hari yang melelahkan ini. Kenapa pula aku harus membantumu!" sebal Xander.
"Hey, kau sudah berjanji!" seru Valerie.
"Aku tahu. Cepatlah. Aku tak ingin oulang terlalu malam hanya untuk mencari kalungmu!" kata Xander.
Mereka bertiga pun segera menuju belakang sekolah.
"Ugh, kotor sekali!" ujar Valerie melihat tumpukan samoah di depannya.
"Masih berniat mencarinya?" tanya Xander.
"Tentu. Aku harus mendapatkannya. Itu tidak murah tau!" ujar Valerie.
Mereka pun mulai mencari dengan teliti pada tumpukan sampah tersebut.
"Aku tidak bisa menemukannya. Ayo kita pulang saja. Ikhlaskan-lah kalungmu itu!" ujar Xander menyerah mencari kalung Valerie.
"Xander, ayo cari. Kau sudah berjanji untuk mencari kalung Valerie, kan?" ucap Alice sembari mengelap keringat yang mulai menetes di dahinya.
Tak ingin membantah, Xander mulai mencari lagi kalung Valerie.
"Kenapa kau menuruti perintah Alice, tapi tidak denganku?" gumam Valerie.
"Kenapa? Kau cemburu?" tanya Xander.
Valerie tertawa kecil. "Untuk apa cemburu. Lebih baik kau bantu cari lagi kalungku!" kata Valerie.
"Vale, apa ini kalungmu?" seru Alice sambil mengangkat sebuah kalung emas.
"Ah, benar!" seru Valerie sambil berjalan menuju Alice.
"Ini kalungku!" ujar Valerie senang.
"Selesai juga!" gumam Xander.
"Makasih Alice!"