
Semua anggota Mafia yang berjabat duduk dibangku mereka masing masing dengan tatapan kaget dan tidak percaya menatap dari sebuah rekaman CCTV ternyata Arthfael meninggalakan bukti yang sepertinya telah lama dia persiapkan untuk Alice sebelum kematiannya.
Rekaman itu terhenti ketika Alice sudah pergi dari rumah itu.
"Kita harus membuatnya kembali" kata James pimpinan Mafia dengan tatapan marahnya saat melihat rekaman cctv dari BTS dan Alice saat sedang menonton kesaksian yang diberikan oleh Arthfael .
"Baik pimpinan" kata mereka
"Cari tau dimana sekarang Alice " kata James memerintah John
"Baik pimpinan" kata John kemudian melacak keberadaan Alice saat ini menggunakan laptop yang berada didepannya.
"sepertinya dia meninggalkan smartphone miliknya dirumah BTS karna dari hasil yang saya dapat menunjukan disana, sementara dia sudah pergi"
"Cari lagi" kata James sedikit keras
John langsung memainkan jari jarinya lincah diatas laptop sambil pandangan yang terpokus pada layar laptop
"Dari hasil yang saya dapat, semua anggota dari BTS saat ini sedang berada didalam kediamannya tapi hanya seorang dari mereka yang tidak ada disana. Aku pikir Alice pasti sedang bersamanya " kata John setelah menemukan titik celah.
"Sambungkan" kata James memerintah
John menunduk dan langsung menyambungkan nomor telpon dari member V.
Tak sulit mendapatkan nomor V karna sebelum-nya mereka pernah melakukan pemerasan.
"Debeseo" kata orang dari seberang setelah tersambung
"Where is Alice" kata James pimpinan langsung bertanya
"Alice ?" kata seorang dari seberang dengan suara herannya
"Yes i'am" kata Alice cepat merebut ponsel.
"Aku tahu apa yang sudah terjadi dan kau juga tau apa yang telah terjadi. Segera kembali kemarkas malam ini" kata James
"Urusanku belum selesai"
"Aku tau... aku akan mengirim anggota Mafia untuk memusnahkan mereka semua malam ini dan kau akan kembali tanpa mengundur waktu lagi jika kau tidak mau mendengar perintahku aku juga akan memusnahkanmu" kata James dan langsung menutup telponnya.
James masih tertegun dan tidak tau harus berkata apa pada Alice tentang ini.
Sudah bertahun tahun dia berusaha untuk menyimpan rahasia ini dari anak angkatnya itu tapi memang sebaik apa pun dia menyimpan rahasia itu suatu saat pasti akan diketahui juga tepat pada waktunya.
Sebuah rahasia itu kini telah disampaikan oleh anak kandungnya sendiri.
James tidak bisa kehilangan Alice karna dia menyayangi dan dia adalah pilar dari kekuatan Mafia mereka.
James berharap Alice mau kembali dengannya walau dia sudah tau kebenaran yang sangat susah untuk diterimanya.
Jika Alice menolak untuk kembali dia akan dikatakan sebagai pengkhianat dan harus dibunuh dengan segera, James tidak mau membunuh Alice tapi jika Alice memutuskan untuk tidak kembali kemarkas dan menjadi bagian dari Mafia lagi maka dengan berat hati James harus memerintahkan untuk membunuh Alice.
Semua menunggu perintah dari pimpinan Mafia untuk menerima tugas selanjutnya
"Siapkan pasukan sejumlah 40 orang saja" kata pimpinan setelah bisa menerima situasi ini
"Tapi bukankah itu terlalu sedikit pimpinan" cegat bagian keamanan
"Aku percaya Alice akan kembali kesini dia yang akan membunuh anggota BTS. Jangan membantahku" kata James menatap pimpinan keamanan
"Dia wanita yang sangat ahli dan aku sudah menguasai pikirannya tugaskan tiga puluh orang pertama untuk pergi menghancurkan perusahaan mereka dan sepuluh orang untuk mendatangi Alice dan membantunya.
Pastikan orang orang ini adalah orang yang benar benar lihai
James berlalu pergi melangkah dengan perasaan yang gundah menyusuri lorong suram itu tak tentu arah hingga kakinya membawa dirinya ke depan pintu kamar Alice.
James membuka perlahan pintu kamar Alice dan menatap setiap bagian dari kamar Alice dengan wajah lusuhnya, sedikit dia mengingat saat dia merangkul Alice mencium dan mengelus kepala Alice dengan perasaan sayangnya.
Seberkas kenangan saat dia mengajari Alice untuk pertama kali memainkan pistol teringat dipikirannya.
"Lakukan seperti ini" kata James membenarkan lengan Alice kecil.
Alice hanya mengangguk dan diam karna takut dengan pria yang sedang mengajarinya
"Kau takut ?" tanyanya melihat tangan kecil itu gemetar memegang pistol ditangannya
"Kalau kau takut kau tidak akan pernah bisa" kata James pada Alice
"Luruskan pandanganmu dan anggap sasaran yang ada didepanmu adalah orang yang ingin kau musnahkan" kata James berbisik ketelinga Alice
'Tuarrrr' suara itu langsung menyambar sasaran diujung sana
"Anak bagus" kata James mengelus kepala Alice
Beningan air matanya menetes perlahan tanpa ijin darinya ketika dia mengingat betapa kejamnya dirinya pada Alice gadis cantik rupawan yang telah dia renggut kebebasannya. Bahkan, dia gunakan untuk membunuh orang tua kandungnya sendiri.
Dia perlahan mendekati besi dipojok sana yang digunakan untuk menggantung baju milik Alice dia mengambil baju itu dan mencengkramnya keras dengan tangannya dan memeluk baju itu.
Dia sangat ingin meminta maaf tapi bagi Mafia maaf yang sesungguhnya adalah mengorbankan nyawanya sendiri.
Dia belum bisa mengatakan maaf dengan memberikan nyawanya saat ini, karna posisi yang dia emban lebih besar.
"Maafkanlah ayah Alice" lirihnya kemudian mengembalikan baju itu ketempat semula.
Tiba-tiva Matanya tertuju pada satu baju yang tertutup oleh baju yang lainnya tapi masih bisa ia lihat sekilas karna warnyanya berbeda dari yang lainnya.
Ia kemudian mengambil baju itu dengan pelan.
Tampak lah sebuah baju anak perempuan kira-kira untuk anak berumur delapan tahun berwarna pink yang hampir memudar.
Dia bingung saat melihat baju yang disimpan Alice dan berusaha mengingat-ingat kapan Alice memakai baju ini.
Ingatannya kembali ke beberapa tahun yang silam, pada saat dia pertama kali melihat Alice datang kemarkas dimana penculikan yang terjadi setelah dia pulang sekolah.
Dia mengenakan baju itu dengan tangan yang terikat dan mulut yang ditutup.
Dia tidak menyangka Alice ternyata masih menyimpan baju masa kecilnya itu. Baju yang dia kenakan dengan seribu trauma dan luka.
Air mata penyesalan dalam dirinya kini keluar perlahan tanpa henti.
James perlahan terlelap diatas kasur sederhana milik Alice dikamar itu, James memeluk bantal itu erat dan mencium bau badan dari Alice yang tertinggal disana dengan air mata yang masih mengalir, dia menyesali perbuatannya dimasa lalu.
Tidak ada yang bisa dirubah saat ini kini dia hanya bisa menerima ganjaran atas perbuatannya disisa hidupnya yang tidak tau kapan akan berakhir.
James menyesal tapi ini adalah kesepakatan dirinya dengan para pejabat lain.
Dia bisa saja melepaskan Alice tapi tidak mungkin dia mengambil keputusan untuk membebaskan Alice padahal Alice sendiri adalah orang yang ditakuti dan paling lihai di organisasi ini.
Hanya ada dua kemungkinan yang akan terjadi saat ini.
Mengurung Alice di markas atau membiarkan Alice jadi buronan Mafia.
Sebab Alice adalah wakil Mafia, melepaskan-nya sama saja dengan membuka celah kehancuran bagi organisasi Mafia.
Dalam waktu dekat hal yang ditakuti adalah...Alice akan membongkar organisasi Deep Black.