Alice

Alice
Bagian 65



Seraya memeluk tubuh Dewi, Asti merasa khawatir jika Dewi mendengar apa yang di katakannya tadi saat Dewi tengah tertidur.


tok...tok...tok...


dari luar terdengar seseorang mengetuk pintu membuat Asti dan Dewi melepaskan pelukan mereka.


Dewi dan Asti menatap ke arah Pintu yang perlahan terbuka.


"Ayo makan malam dulu!"


Seru Dahlan kepada Asti.


"Eh, Dew, mau makan bareng kita?"


Tanya Dahlan kepada Dewi.


Dewi menggeleng seraya tersenyum.


"Dewi harus sabar makan-makanan rumah sakit dulu sebelum bisa makan segala hal setelah sembuh nanti heheheh!"


Seru Dewi bersemangat.


"Mantap hehehe!"


Ucap Dahlan sembari mengacungkan jempol tangannya kepada Dewi.


"Ya udah kak Asti makan dulu aja gih, lagian kayanya Dewi mau bobo lagi jehehe!"


Seru Dewi.


"Hahahah, maaf ya tidur nya kamu tadi jadi keganggu, kakak keluar dulu ya, kamu lanjut bobo cantik lagi ok!"


Seru Asti sembari melambaikan tangannya.


"Bye Dewi.!"


Dewi pun melambaikan tangan kepada Dahlan.


Dewi kembali membaringkan tubuhnya setelah Asti dan Dahlan keluar dari kamar nya.


"Perempuan sebaik kak Asti saja yang sudah kenal lama dia khianati, apalagi aku yang baru kemaren sore kenal sama Dia, pantaslah saja nasib ku seperti ini hemhsss, wi... wi... nasib mu ko elek temen.!"


Ucap Dewi berkata-kata kepada diri nya sendiri.


Sementara di Luar Purnama, Dahlan dan Asti sedang asik menyantap makan malam mereka.


Tiba-tiba dari lorong rumah sakit nampak seorang gadis bergaun warna biru muda mengenakan kerudung senada berjalan ke arah mereka.


"Subhanallah bidadari nyasar.!"


Ucap Dahlan yang menyadari kedatangan Perempuan itu, wajah nya masih nampak remang-remang tak terlihat jelas.


"Yakin orang itu bang?"


Tanya Asti merapat kepada Dahlan.


Purnama yang merasa penasaran berbalik badan menoleh ke arah Dahlan dan Asti menatap.


"Calon bini, dari jauh aja udah kecium wanginya, eeemmmmhsss semerbak banget!"


Ucap Purnama.


Mendengar Ucapan Purnama, Dahlan dan Asti saling bertatap seolah bertanya-tanya maksud dari ucapan Purnama.


"Subhanallah cantik banget."


Ucap Purnama lagi.


Semakin mendekat Wajah Perempuan itu nampak mulai terlihat jelas, dengan senyum melebar menghias bibir merah jambu nya, membuat siapapun Pria tak ingin berpaling menikmati keindahan nya.


"Assalamualaikum...!"


Sapa Alice ramah sembari tersenyum.


"Wa allaikumus sallam"


jawab Asti.


"Loh kenapa sama mereka berdua kak?"


Tanya Alice kepada Asti.


"Mereka baru saja liat hantu jadi-jadian lewat kesini makanya masih pada bengong.!"


Jawab Asti sembari menyenggol Dahlan.


"Jahat banget ih elu jadi cewek, kita abis liat bidadari surga ko malah di bilangin abis liat hantu.!"


Protes Dahlan.


"Bidadari?"


Tanya Alice bingung.


"Iya bidadari Lice, calon bidadari surga nya Kakak maksud Dahlan."


Purnama menerangkan.


Alice mengerlikan Alis nya sebelah.


"Maksud mereka itu kamu Lice, emang dasar aja mereka mata buaya gak bisa liat yang bening dikit lupa deh sama yang buluk padahal udah nemenin seharian.!"


Seru Asti menyindir Dahlan.


"Namanya Juga macan betina ya gitu ngambekkan mulu hahahah!"


Seru Dahlan kepada Asti.


Tanya Asti


"Alhamdulillah udah kak tadi di penginapan.!"


"Alhamdulillah, kamu kesini sama siap?"


Tanya lagi Asti


"Sendiri kak, tapi tadi Orang tua Dewi mau nyusul kesini ko katanya.!"


Jawab Alice.


"Sendirian, kenapa gak nelpon kakak sih, kalau ada apa-apa di jalan gang kan bahaya, itu jalanan sepi.!"


Protes Purnama karena kekhawatirannya


"Alice kira kakak masih istirahat tadi di penginapan.!"


Seru Alice membela diri.


"Iya Loh Lice kita kan gak tahu kondisi di sini sprti apa orang-orang nya, kalau sampai ada laki-laki yang jahat bahaya.!"


Ucap Asti.


"Bener Lice lain kali Elu kalau mau kemana-mana jangan sendirian, bukannya kita ngarepin hal buruk kejadian sama elu sih, intinya ya kita khawatir,aja.!"


Tambah Dahlan.


"Kamu kalau mau kemana-mana tuh bilang sama kakak ya jangan bikin kakak khawatir gitu ah.!"


Ucap Purnama agak kecut, kemudian pergi ke arah kamar kecil meninggalkan Alice yang kebingungan mendapat perlakuan demikian dari Purnama untuk pertama kalinya.


"Kak Purnama kenapa, marah ya sama aku?"


Tanya Alice kepada Asti


"Udah gak usah di pikirin, sebenarnya dia itu bukan marah hanya saja rasa khawatirnya terhadap kamu terlalu berlebihan.!"


"Alice minta maaf deh udah bikin salah, janji gak lagi-lagi.!"


Jawab Alice sembari menunduk dan memainkan kedua ibu jari tangannya.


"Udah kamu jangan terlalu mikirin dia ah, nanti juga dia baik sendiri, oya Lice kamu gak papa aku sama Dahlan tinggal sendirian.?"


Tanya Asti kepada Alice.


"Kakak pasti cape ya, sok aja kak aku gak papa ko, kakak pada pulang aja terus istirahat ya.!"


Pesan Alice.


"Ya udah kamu hati-hati disini ya, Purnama paling bentar lagi juga balik, baik-baik ya kalian di sini, Assallamualaikum, Bye ..!"


Seru Asti sembari melangkah meninggalkan Alice yang membalas lambaian tangan nya.


Asti menggandeng tangan Dahlan.


"Makasih ya buat hari ini.!"


Ucap Dahlan tiba-tiba.


"Makasih?, emang kenapa sama hari ini?"


Tanya Asti kepada Dahlan.


"Iya gue tahu ko elu itu sebenarnya cape dan pengen rebahan, tapi elu malah gak tega ngeliat gue harus jaga Dewi sendirian eh akhirnya elu malah nemenin.!"


Ucap Dahlan Mencoba menjelaskan.


"Gak papa Bang, Aku seneng ko bisa bareng sama abang heheh!"


Ucap Asti sembari bergelayun di tangan Dahlan.


Dahlan mengusap-usap kepala Asti dan mengacak-acak rambut nya.


"Iiihh abang ih..."


Ucap Asti protes sembari mencoba merapihkan rambut nya.


Asti kemudian mencubit pinggang Dahlan.


"Aduhhh sakit, ya ampun galak banget jadi cewek!"


"Weee biarin hahahah.!"


Ucap Asti sembari berlari ke dalam jalan gang menuju Penginapan.


Kelakuan Asti dan Dahlan yang saling kejar membuat orang-orang di sekelilingnya ikut tersenyum mengenang kisah mereka di massa muda ketika mereka seusiaan Dahlan dan Alice.


"Makasih buat segalanya.!"


Ucap Dahlan sembari berhenti berjalan di tengah-tengah jalan gang tersebut.


"Ko berhenti bang, gelap loh ini kalau mau berhenti entar aja di sana tuh yg ada lampu sama bangkunya biar kita bisa duduk gak berdiri kaya gini dong ah bang...."


Asti belum sempat melanjutkan kata-kata nya, tubuh Asti di tarik Dahlan hingga tertahan Di dinding tembok tinggi pembatas jalan gang.


Perlahan namun Pasti Dahlan mulai mencium bibir Asti dengan lembut, tangan Asti yang tadinya terurai di samping tubuhnya,perlahan mulai berpindah ke Pundak Dahlan.


Angin malam yang bertiup seakan membuat mereka semakin terhanyut menikmati kehangatan yang hadir menyusuri urat-urat dalam setiap jengkal tubuh mereka.


Kecupan demi kecupan Dahlan daratkan dengan lembut dan penuh kemesraan pada Bibir Asti, membuat Asti semakin terhanyut dan masuk kedalam suasana saat itu, pelukan Asti semakin erat menarik tubuh Dahlan yang tinggi merapat ke tubuhnya.