
Melihat mobil Gita melaju meninggalkan motor Purnama Alice berlari keluar menatap mobil Gita sampai akhirnya tak nampak lagi.
Alice terduduk lesu, lagi-lagi kekecewaannya harus ia telan kembali.
Desi menghampiri Alice dan duduk di samping nya.
"Tak perlu merasa kecewa, bukankah ini yang kamu harapkan?"
Tanya Desi berkata penuh kecewa atas sikap yang di ambil sahabatnya.
Alice hanya menggeleng tertunduk hingga menangis.
"Kenapa bukan tadi kamu tumpahkan air mata kamu, kenapa baru sekarang ketika dia sudah hampir di rebut orang, Alice percaya pada ku, semakin kamu menghindari kak Purnama semakin besar Peluang kak Gita buat selalu dekat dengan kak Purnama.!"
Jelas Desi kepada Alice.
Alice masih tak merespon sesekali dia hanya terisak.
"Sudahlah ayo kita kembali bekerja, jangan sampai kita di pecat dari sini.!"
Desi meraih Alice dan membantunya berdiri sembari masuk kedalam tempat kerjanya.
"Kamu duduk lah dulu disini biar aku yang akan melayani pelanggan.!"
Ujar Desi kepada Alice.
Kemudian meninggalkan Alice terduduk sendirian.
Usai melayani pelanggan Desi melihat kunci kontak motor masih tergantung di motor Purnama, Desi onpun berinisiatip mengunci leher motor dan membawa kuncinya.
"Lice ini kunci motor kak Purnama kalau kita biarkan takut ada pencuri sebaiknya kamu simpan kunci motor ini.!"
Pinta Desi seraya menyodorkan kunci motor.
"Makasih Des.!"
Ucap Alice pelan.
Desi mengangguk sembari tersenyum kemudian kembali ke depan untuk melayani pelanggan.
Sementara Itu Irma di kosan tengah tertawa terbahak-bahak didalam kamarnya dengan handphone menempel di telinganya.
"Terus...terus gimana ekspresinya dia kak tadi?"
Tanya Irma kepada orang yang di telponnya.
"Aku sih gak terlalu jelas juga ngeliatnya soalnya merek kan di dalam, sekarang aku masih nyetir nih, nanti lah aku hubungin kamu lagi.!"
Ucap Gita dari sebrang telpon
"Tapi kak Purnama nya ada sama kakak?"
Tanya Irma penasaran.
"Ada ini di samping aku, dia kedinginan basah kuyup, sekarang dia tidur, makanya aku mesti cepet sampai ke rumah, udah dulu yah bye, thank informasinya.!"
Ucap Gita kepada Irma.
"Jangan lupa honor nya di tf !"
Pesan Irma.
"Iya nanti gue transfer tenang aja ah bawel banget.!"
Ucap Gita seraya menutup telponnya.
"Eh lain kali kalau belum di transfer gak akan aku kasih info ini orang, tapi gak papa hahahah, selain usaha aku buat hancurin hubungan mereka selangkah lebih maju, aku juga bakal punya pemasukan hahahh.!"
Seru Irma tertawa dalam kamarnya merasa Puas.
Gita masih mengemudikan mobil, sembari sesekali tersenyum menatap Purnama yang tengah terbaring lemas di sampingnya.
"Akhirnya saat ini datang juga, maaf Pur aku terpaksa lakuin ini, karena dulu kamu pergi begitu saja tanpa pesan atau kesan, ya aku akuin aku salah tapi bagaimanapun aku tidak pernah mau melepaskan kamu.!"
Seru Gita Bicara kepada Purnama yang tengah lemas tak sadarkan diri.
Sesampainya di Rumah Gita, Gita menyalakan klakson mobilnya tiga kali meminta penjaga rumah membukakan pintu gerbang rumahnya.
Setelah dibuka, Gita meminta tolong kepada para pekerja di rumahnya untuk memboyong Purnama kedalam kamar nya.
"Pak ini di angkat ya bawa ke kamar saya.!"
Seru Gita sembari menunjuk kepada Purnama.
"Loh non dia kenapa?"
Tanya penjaga Rumah.
"Dia cuman pingsan, buruan ya.!"
Pinta Gita.
Usai memarkirkan mobilnya Gita lebih dulu turun dan masuk kedalam rumahnya.
"Bi tolong telpon Dokter yang biasa suruh datang kesini, jangan lupa keluar beli baju buat pacar saya, sebelumnya beri saya baju mandi untuk mengganti baju nya terlebih dahulu siapkan semuanya dikamar saya.!"
Seru Gita pada pelayan Rumah.
"Baik non.!"
Ucap Pelayan Rumah sembari segera berlari mengerjakan apa yang Gita minta.
"Awas Pak hati-hati.!"
Pesan Gita kepada para penjaga rumah yang membawa Purnama masuk.
Setelah berada di kamar Gita Pun meminta Semua orang keluar dari kamarnya.
"Kalian semua boleh keluar.!"
Ucap Gita.
Setelah semua keluar dari kamar Gita Pun mulai membuka baju Purnama yang basah kuyup.
"Selain tampan kamu juga memiliki tubuh yang indah.!"
Seru Gita sembari mencium pipi Purnama.
"Nah ini baru mantap ini akan jadi senjata paling ampuh untuk aku pisahin kamu sama Alice, emhsss kamu memang menggemaskan sayangku.!"
Ucap Gita sembari mencium bibir Purnama.
Tok...!
Tok...!
Tok ...!
"Permisi non Dokter sudah datang."
Ucap Pelayan rumah dari luar kamar.
"Hadeuh ganggu orang lagi senang-senang aja.!"
Ucap Gita mengeluh sembari bangkit dari samping Purnama dan merapihkan rambut serta pakaiannya.
"Antar dia Masuk Bi.!"
Perintah Gita.
"Baik non.!"
Seru pelayan Rumah.
Dokter pun masuk di antar oleh Bibi pelayan rumah.
"Hai Gita.!"
Sapa Dokter kepada Gita.
"Hay Dok, bagaimana kabar Dokter?"
Tanya Gita membalas basa-basi Dokter.
"Baik, siapa orang ini?"
Tanya Dokter bingung.
"Dia pacar saya dok, tadi diluar kehujanan karena nungguin saya, heheh.!"
Ucap Gita berbohong.
"Wah baik sekali pria ini rela hujan-hujanan demi menunggu kamu heheh, coba biar saya periksa.!"
Ucap Dokter sembari memeriksa tubuh Purnama.
"Seharusnya celana nya di ganti dulu ini, bisa masuk angin dia.!"
Ucap Dokter melihat Purnama yang masih menggenakan celana basahnya.
"Bi mana pakaian yang saya minta tadi?"
tanya Gita pada bibi Pelayan.
"Baik non akan saya ambilkan.!"
Ucap Bibi pelayan sembari keluar kamar.
"Ya ampun di suruh begitu aja lama banget tuh pelayan.!"
Gita mengumpat
Dokter yang sudah terbiasa dengan sikap Gita, tidak meras terheran oleh kata-kata Gita baginya itu hal lumrah yang sering Gita lakukan.
"Bagaimana dok kondisi pacar saya?"
Tanya Gita sembari duduk di sisi tempat tidur Purnama dan mengelus-elus rambut Purnama
"Kamu tidak perlu khawatir dia baik-baik saja hanya pingsan biasa, berikan dia minuman hangat dan segera ganti pakaiannya, saya akan buatkan resep untuk pemulihan stamina nya kamu tenang saja.!"
Ucap Dokter menjelaskan.
"Syukurlah, sayang kamu baik-baik saja muach.!"
Ucap Gita seraya mencium kening Purnama.
Dokter hanya menggeleng sembari tersenyum geli.
"Baiklah Gita saya tidak mau mengganggu kebersamaan anda dengan kekasih anda saya akan pergi sekarang.!"
Ucap Dokter yang merasa geli melihat sikap Gita.
"Baik dokter terimakasih, resepnya tolong berikan kepada bibi supaya cepat di beli.!"
Pesan Gita pada sang Dokter.
"Baiklah !"
Seru Dokter sembari keluar.
"Permisi non ini pakaian untuk teman nonsa.!"
Ucap Bibi pelayan Rumah.
"Apa kamu bilang teman, dia ini kekasih saya panggil dia tuan Purnama paham kamu.!"
Seru Gita marah kepada Bibi pelayan.
"Ba...ba...baik nona saya minta maaf, ini pakaian untuk tuan Purnama."
Ucap Bibi mengulang kata-katanya.
"Nah begitu bagus... mana sini lama banget sih disuruh begitu juga.!"
Ucap Gita.
"Bikinkan susu Panas untuk Tuan Purnama, dan segera beli obat yang dokter resepkan.!"
Perintah Gita lagi.
"Baik nona, saya permisi.!"
Ucap Bibi pelayan sembari pergi meninggalkan Purnama dan Gita di dalam kamar.