
“Kau sungguh penakut… padahal aku menyuruhmu datang sendirian..yaa mungkin kau sudah tuli karna sudah tua dan terlalu brengsek” ucap Alice pelan tapi tajam pada James
“Dasar kurang ajar” ujar James sembari melangkah cepat dengan rasa amarah tampak jelas diwajahnya hendak meninju Alice.
Dengan segera Alice menghindar pukulan James dan bangkit dari duduk-nya dengan suara tertawa mengejek
“ups… pelan-pelan James…kau sudah tua, jangan banyak bergerak nanti kau harus dibawa kedokter tulang” ucapnya mengejak “ ohh tidak… atau kedalam peti saja” ujar Alice menatap tajam seperti elang kepada James.
James yang mendapat tatapan tajam dan benci dari Alice langsung tiba-tiba merasakan ada sedikit rasa sakit dari dalam hati dan perasaannya, ada rasa keayah-han dan rasa rindu dari dalam hatinya, dia tidak menyangka, bahwa dirinya sungguh tidak bisa membawa Alice kembali padanya dan malah bertemu dengan keadaaan seperti ini. Dia memang pantas mendapatkan perlakuan keji atau sumpah serapah dari Alice. hatinya sangat hancur dan sedih tapi dia tidak menunjukkan rasa perasaan itu terhadap Alice dia sangat ingin mengorbankan dirinya saja untuk dibunuh oleh Alice tapi ini bukan keputusan yang bagus, dia adalah ketua pimpinan dari Mafia Deep Black, dia harus menepis keras rasa perasaan itu dari hatinya.
“Aku ragu atas ucapanmu itu nona… bahkan ayah dan ibumu mati hanya dengan siasat ku… bukankah kalian dari keluarga yang sangat dungu?” ucap James
Alice yang mendengarkan mulut James menyebut nama ayah dan ibunya merasa tidak tahan untuk tidak bergerai bersamanya.
Alice terus melangkah cepat kearah James dan mereka berdua mulai beradu dengan tangan kosong, pukulan demi pukulan terus diluncurkan dan saling menghindar, kelihaian Alice dan James hampir sama kuatnya. Hingga, petarungan antara dua insan ini berlangsung dengan sangat lama, meski mereka sudah mengeluarkan darah dari hiudng, dahi dan tepi bibir mereka. Alice dan James tetap tidak mau berhenti berkelahi dan terus menerus meluncurkan serangan tanpa henti.
“kau tak akan mampu mengalahkanku …. kau tau itu” ucap James dengan sedikit tertawa dan mulai memukul kepalaAlice.
Alice menatap arah bahu James dan kemudian dengan cepat dia meraih lengan James dan menjatuhkan James dengan sekali lemparan dan bergegas mehimpit leher James diantara kedua pahanya untuk mencekiknya.
“Harusnya kau tau juga, aku bahkan bisa membunuh ibu dan ayahku tanpa rasa iba dan tetap semangat melihat darah mereka” ucap Alice dengan suara terengah-engah sembari terus menguatkan cekikan-nya pada James.
John yang melihat situasi ini pun dengan segera melangkah kearah mereka untuk menyelamatkan James.
Alice yang menyadari John yang melangkah kehadapannya dengan segera mengambil pisau yang berada dipinggangnya dan melemparnya cepat dan langsung saja mengenai leher John.
“Harusnya kau jangan ikut campur” ucap ALice tertawa melihat John yang kesakitan dan bersiap menghadap malaikat maut
Melihat Alice yang sedikit lengah membuat genggamannya sedikit lebih longgar, dengan cepat James melepaskan diri dengan napas yang terengah-engah.
Alice yang sadar kemudian berdiri dan melangkah kearah James yang masih terduduk mengatur nafas-nya. Alice mengeluarkan senapan dari dari dalam saku belakang-nya dan mengarahkan ke kepala James.
“Apa kau tau senapan ini?” Alice bertanya kepada James
James yang mendapatkan pertanyaan itu mengangkat kepala-nya menghadap Alice dan melihat senapan yang dimaksud Alice. Itu adalah senapan yang didaptkan Alice untuk pertama kalinya setelah lulus dari berbagai uji tes dan pelatihan didunia Mafia. Itu adalah senapan pemberian James kepada Alice beberapa tahun lalu.
Melihat ALice yang masih menyimpan senapan itu membuat rasa sakit hati dan sedih-nya tak bisa dia tutupi lagi. Rasa bersalah dan rasa keinginan untuk tetap bersama Alice bercampur hingga setetes air melucur tanpa ijin dari pelupuk matanya, James menundukkan kepalanya dan mencoba untuk menahan agar tidak menangis.
Alice yang melihat reaksi James hanya menatap James dalam diam seribu kata karna rasa kecewa dan sakit hati yang sudah dia dapatkan lebih sakit dari rasa hangat diberikan oleh ayah angkat yang berada didepan-nya ini.
“Ternyata ini yang kau bicarakan sewaktu aku pulang dari Turki itu… hah minta maaf untuk apa?… kau bahkan tidak punya akal seperti binatang” Alice tak kuasa menahan rasa sakit dan kecewanya
“Aku tau… kesalahanku sungguh tak bisa kau maafkan” ucap James yang kini dengan suara penuh tangis
“Maaf adalah kematian James” ucap Alice datar
“Aku bersedia untuk mati untuk menebus kesalahanku padamu Alice. Tapi, dengan satu syarat”
“Syarat?… kau disini bukanlah sebagai seseorang yang bisa mengajukan syarat kepadaku James… dengan syarat atau tidak kau akan tetap mati ditanganku”
“Kumohon Alice… ini hanya permintaan terakhir dari-ku” ucap James kepada Alice dengan sedikit memelas kepada anak angkat yang sudah dia bumbui derita sejak kecil hingga sekarang.
“Katakan” ujar Alice menyetujui
“Kemarilah…” James merentangkan tangannya kepada ALice yang masih berdiri mentap-nya keheranan
“Ayah hanya ingin memelukmu anak-ku Alice” ucap James dengan sedih, air matanya mengalir tampak ada rasa menyesal yang begitu besar dari dalam lubuk mata-nya.
Alice heran bingung sekaligus ragu untuk datang menerima pelukan dari ayah-nya ini, dia memang ayah angkat yang tela mengurus Alice dari kecil, tapi dia juga yang merenggut segala kebahagian Alice miliki.
Perasaan Alice campur aduk antara benci dan sayang, walaupun James membuat hidup Alice seperti ini, Tapi James juga tak mungkin tidak memberikan rasa hangat pada Alice,
Alice bingung. Tapi, tubuhnya seakan menuntun dirinya datang kedekapan ayahnya untuk terakhir kalinya. Dia melangkah dengan pelan kearah James dan mendudukkan dirinya juga kelanati tepat berada didepan ayah angkatnya ini.
James terharu melihat Alice masih mau mendekat dan meminta permintaan dari-nya walaupun ini adalah permintaan terakhir, dengan pelan James meraih Alice kedalam dekapan-nya dengan erat hingga air mata James mengenai baju dan leher Alice.
Sementara, Alice hanya diam membisu dia tidak menangis atau membalas pelukan James. James mengerti dan tidak meminta agar anak-nya ini mau membalas pelukan-nya, James sudah sangat bersyukur dengan permintaan-nya yang sudah dikabulkan.
“Maafkan Ayah Alice… Ayah berjanji akan segera menebus segala kesalahan yang telah Ayah perbuat selama hidup Ayah… termasuk kepada dirimu anak-ku Alice tersayang” ucap James dengan suara pelan tanpa melepasa dekapn-nya.
Alice hanya terdiam dan sedikit terhenyak kaget mendengar penuturan Ayah angkat-nya ini.
“Ayah menyayangimu Alice” Ucap James
Seketika Alice mengerang kesakitan ketika mendapatkan sebuah suntikan tepat dilehernya. Alice memegang lehernya sakit sembari menatap James tanda tidak percaya ternyata James memang sungguh pria yang sangat brengsek dan hina didunia ini.
Dengan cepat Alice langsung hilang kesadaran dan jatuh kelantai.