
Arash pun menceritakan semua sesuai yang diketahuinya dari Bagas.
Luis mendengarkan dengan seksama seluruh isi cerita yang disampaikan oleh Arash sambil menganggukkan kepalanya.
"beberapa waktu yang lalu dia memang sempat tinggal disini..." Luis berucap dengan pandangan mata jauh menerawang.
"hanya beberapa bulan, sebelum seorang pria datang dan menyeretnya secara paksa.." Luis menjeda ucapannya, sementara Arash terdiam tanpa berusaha menyela ucapan Luis.
"saya kasihan melihatnya, namun tidak bisa berbuat apa-apa karena hubungan kita hanya sebatas pemilik rumah dan penyewa rumah.." kembali Luis menjeda.
"Pria itu mengaku sebagai suaminya, jadi saya merasa tidak berhak mencampuri urusan mereka, namun setelah mendengar ceritamu, sepertinya saya berubah pikiran"
"maksud anda?" Arash mengernyit heran.
"Dia sudah saya anggap seperti adik sendiri, dan mengingat perlakuan kasar pria malam itu membuat saya terus memikirkannya sepanjang malam, mungkin perasaan bersalah karena mengabaikannya waktu itu" Ucap Luis panjang lebar.
"ayo...saya akan membantumu mencari keberadaannya" Luis bangkit dari duduknya.
"bagaimana caranya?" Sambil bertanya, Arash tetap ikut bangkit.
"saya pernah memberinya sebuah kalung saat dia pertama kali datang kesini, dan didalam kalung itu terdapat sebuah alat yang bisa mendeteksi keberadaannya" Jelas Luis.
"kenapa anda bisa memberinya kalung seperti itu" tanya Arash menatap penuh selidik.
Ditatap seperti itu membuat Luis terkekeh geli "Dia pernah beberapa kali hilang disekitar sini, dan membuat saya harus mencarinya sampai berjam-jam" ucapnya sambil menahan tawa mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu.
Arash menghembuskan nafas lega setelah mendengar penjelasan Luis.
"ayo ikut aku, kita akan mencarinya bersama-sama" ajak Luis mendahului Arash berjalan menuju sebuah ruangan yang entah ruangan apa itu.
Arash hanya mengikuti pria yang baru beberapa jam dikenalnya itu tanpa rasa takut sedikitpun.
🌹🌹🌹
Kembali ke kota A Regan mengendarai mobilnya dengan sangat cepat seperti orang kesurupan.
Setelah mendapat kabar dari pembantunya yang mengatakan bahwa Gretha istrinya tidak sengaja terpeleset dan dilarikan ke Rumah sakit membuat Regan hilang kendali.
Pria yang biasanya selalu bersikap tenang itu dalam sekejap berubah karena mengkhawatirkan sang istri tercinta dan calon anaknya yang baru memasuki usia 5 bulan.
Tanpa fikir panjang Regan menerobos lampu merah, bahkan beberapa kali pria itu diteriaki oleh beberapa pengendara lain karena aksi ugal-ugalan yang dilakukannya.
Regan sampai di rumah sakit dengan selamat, pria itu berlari sambil berteriak seperti orang gila, membuat semua orang menatapnya heran.
Dita mendekat ke arah pria yang juga merupakan rekan bisnisnya "tuan Regan.." sapanya.
Regan menoleh dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya "kamu.."
"Dita, sahabatnya Ziana sekaligus sekertarisnya" ucap Dita memperkenalkan diri.
Regan lalu mengusap wajahnya..
"kalau boleh tau anda kenapa berteriak, apa ada masalah?" Dita memberanikan diri untuk menanyakan hal yang juga membuat seisi rumah sakit ini penasaran.
Regan menceritakan kejadian yang menimpa istrinya sehingga membuatnya berteriak seperti orang gila malam-malam begini.
"Anda tenang dulu, siapa nama istri bapak? biar saya yang menanyakan tentang ruangan mana yang ditempati oleh istri anda" kata Dita sambil mendudukkan Regan di kursi tunggu.
"terimakasih" ucap Regan tulus.
Semua orang pasti akan merasa kacau jika sudah menyangkut hal yang kita cintai, perasaan itulah yang sedang dirasakan oleh Regan.
Tidak mudah baginya untuk melupakan masa lalu dan menjalin hubungan dengan orang baru, namun berkat Gretha dia mampu melalui semua itu, hingga kini seluruh hatinya telah tertaut sepenuhnya untuk sang istri tercinta yang kini tengah mengandung calon anaknya.
Regan tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu hal yang buruk kepada Gretha, pikirnya sambil menunduk dengan mata yang sudah memerah.
Hingga tepukan Dita di bahunya menyadarkan Regan dari pikiran-pikiran negatifnya.
"saya sudah menemukan ruangan istri anda, mari saya antar" kata Dita.
"ayo cepat, antar saya kesana" ucap Regan berdiri dari duduknya.
Sesampainya didepan Ruangan Gretha, Dita pun pamit karena harus menemani ibunya.
"ini ruangan istri anda.." belum selesai dengan ucapannya Regan sudah menerobos masuk tanpa mengucapkan apapun kepada Dita yang telah menolongnya.
Sedangkan Dita yang melihat itu hanya tersenyum tipis dan menggeleng, dia memaklumi perasaan Regan.
Setelah Regan masuk, Dita pun berbalik arah untuk keruangan ibunya.
****
Happy Reading 💞💞 💞