About Ziana

About Ziana
Chapter 152



Malam itu tiba-tiba langit berubah mendung, dan hanya dalam hitungan menit saja hujan turun.


Awalnya hanya rintik-rintik biasa, namun lama-kelamaan berubah menjadi lebat


Arash panik, mengingat bahwa istrinya memiliki alergi dengan air hujan


Dengan gerakan cepat, dia mengeluarkan jas yang membungkus tubuhnya lalu menggunakannya untuk menutupi tubuh sang istri.


lalu tanpa aba-aba, laki-laki itu langsung menggendong istrinya ala bridal style dan berlari sekuat tenaga, berharap agar sang istri tidak sampai terkena air hujan.


namun sayang, sesampainya di vila terlihat kedua kaki hingga betis dan satu punggung tangan Ziana berubah menjadi kemerahan.


Laki-laki itu lalu mengeringkan tubuh sang istri dengan handuk, tidak lupa membantu Ziana untuk berganti baju.


Melihat kekhawatiran dari sang suami, membuat Ziana dengan pasrah menerima semua perlakuan dari laki-laki itu.


"sayang.. badan kamu jadi merah-merah.."


ujar Arash dengan nada panik.


Sedangkan Ziana hanya menjawab dengan santai "tidak apa, lagian itu tidak parah kok"


"tapi kamu pasti tidak nyaman.." ucap Arash lagi dengan raut wajah bersalahnya.


"aku sudah terbiasa dengan semua ini, bahkan dulu ketika masih kecil aku suka bermain hujan-hujanan." ucap Ziana sambil tertawa kecil.


Tak..


Sebuah sentilan mendarat dengan sempurna di kening wanita itu "dasar nakal" ucap Arash dengan gemas.


"aaawww..." ringis Ziana seraya mengusap keningnya yang terkenal sentilan dari Arash.


"kenapa menyentil ku sih.." protes Ziana yang tidak terima keningnya terkena sentilan.


"itu hukuman atas kenakalan masa kecilmu" ucap Arash. "bagaimana bisa kamu bermain hujan-hujanan disaat kamu tahu bahwa tubuhmu akan merah-merah dan gatal setelahnya?" ucap Arash lagi gemas sendiri dengan sang istri.


Ziana terdiam sejenak, seperti mengingat masa kecilnya dulu.


"hanya ingin.." ucapnya singkat seraya membuang pandangannya kearah lain.


Arash mengerutkan kening, perubahan ekspresi wanita itu terlalu kentara, namun karena tidak ingin membuat istrinya menjadi murung Arash menyudahi obrolan tentang masa kecil sang istri.


"kedepannya aku tidak ingin melihatmu hujan-hujanan lagi, mengerti..!!" ujar Arash dengan nada tegasnya, sengaja agar wanita itu menurut perkataannya.


Ziana memanyunkan bibirnya, namun wanita itu tetap menganggukkan kepalanya.


"gadis pintar.." celetuk Arash mengusap kepala Ziana pelan.


Laki-laki itu lalu bangkit dan berjalan menuju kopernya, sedangkan Ziana hanya memperhatikan sang suami tanpa berucap sepatah kata pun.


Tidak sampai 1 menit Arash kembali ke tempatnya semula sambil membawa sebuah kantong plastik berisi obat? dan juga sebotol air mineral.


Ziana mengerutkan keningnya 'sejak kapan dia menyiapkan obat itu?' batinnya terus memperhatikan semua pergerakan Arash.


"nih minum obatnya dulu" ujar Arash menyodorkan sebutir obat ke mulut Ziana.


Dengan patuh wanita itu membuka mulutnya dan menerima obat tersebut beserta air minumnya.


"terimakasih.." ucap Ziana.


Arash tidak menjawab, hanya sebuah senyuman yang menjadi balasan dari


ucapan terima kasih sang istri.


"istirahatlah.. aku akan mandi dan ganti baju dulu.." ucap Arash sambil membenarkan selimut Ziana yang sudah berbaring diatas tempat tidur.


Ziana mengangguk.


Cup


Sekarang sebuah kecupan yang mendarat di keningnya, bukan lagi sentilan seperti sebelumnya.


Setelah mengecup kening Ziana, dengan santainya laki-laki itu berjalan menuju kamar mandi meninggalkan Ziana yang wajahnya sudah memerah.




Sementara itu ditempat lain masalah terjadi. Pelakunya adalah Panji, adik ipar Regan.



Panji membuktikan perkataannya beberapa waktu yang lalu, bahwa ia akan memberitahu kakak tirinya, yaitu Gretha tentang pekerjaan Regan yang sebenarnya.



Mengetahui semua itu, membuat Gretha shock dan berdampak kepada janin yang ada dalam kandungannya.



Regan segera melarikan istrinya kerumah sakit.



Pria yang sebentar lagi menjadi ayah itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, pikirannya kalut, takut sesuatu hal terjadi kepada istri dsn calon anaknya.



"bertahanlah sayang.." ucapnya dengan lirih.



Sekitar 20 menit mereka sampai dirumah sakit "dokter..dokter.. suster.. tolong istri saya" teriaknya memanggil semua pegawai rumah sakit itu.




Gretha langsung dilarikan ke ruangan IGD untuk mendapatkan penanganan "dokter.. tolong selamatkan istri saya dok, dia mengalami pendarahan.." ucap Regan yang sudah berderai air mata.



Sekuat-kuatnya seorang laki-laki pasti akan mengeluarkan air mata jika itu menyangkut seseorang yang dicintainya.



"kami akan berusaha semaksimal mungkin.." ucap dokter wanita tersebut sebelum memasuki ruang IGD.



Regan terduduk lemas didepan ruang IGD karena tungkainya sudah tidak bisa lagi menopang berat tubuhnya.



Pria itu terus menangis, tanpa memperdulikan tatapan aneh dan kasihan yang dilontarkan oleh orang-orang yang berlalu lalang didepannya.



Valerie dan Lucas yang kebetulan sedang berada dirumah sakit tidak sengaja melihat keberadaan Regan.



Sepasang suami istri lalu mendekati sahabatnya. Lucas ikut berjongkok di hadapan Pria yang sedang rapuh itu.



"Regan.. lo kenapa? apa yang terjadi..?" tanya Lucas beruntun.



Regan mendongak (karena posisi Lucas yang lebih tinggi darinya) tanpa menghapus air matanya. Melihat siapa yang berada didepannya, Regan langsung memeluk dan semakin menangis.



Lucas menepuk-nepuk punggung pria itu dengan sabar. Sedangkan Valerie sudah ikut menangis dibelakang Lucas.



Entahlah, karena semenjak hamil, dokter cantik itu berubah menjadi cengeng.



Setelah sedikit tenang, Lucas melerai pelukannya dan membantu Regan untuk duduk di kursi tunggu, sementara Valerie memberikan sebotol air mineral miliknya kepada Regan.



"terimakasih.." ucap Regan menatap pasangan suami istri itu.



"kita udah jadi sahabat, jadi lo gak perlu pake makasih segala" ucap Lucas yang diangguki oleh sang istri yang telah duduk disebelahnya.



"sekarang lo cerita sebenarnya apa yang terjadi.."



"Gretha.. dia pendarahan.." ucap Regan dengan nada sendu



"APA..??" ujar Lucas dan Valerie kaget.



"kok bisa?" tanya Lucas.



Regan lalu menceritakan semuanya kepada Lucas dan Valerie sehingga dia dan istrinya bisa berada disini sekarang.



Lucas hanya mampu geleng-geleng kepala '*amit-amit gue punya adik ipar kayak gitu*' batinnya menatap Regan prihatin.



Selang beberapa menit dokter yang tadi menangani Gretha akhirnya keluar juga.



Kompak ketiganya berdiri dan menghampiri dokter tersebut.



"gimana keadaan istri dan anak saya dok?" tanya Regan langsung.



Dokter itu terlihat menghela nafasnya sebelum buka suara.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...