About Ziana

About Ziana
Chapter 130



Selesai berbincang-bincang dengan kakek Abian, Ziana pun pamit karena hari yang sudah semakin siang.


"bagaimana jika meminta Robin saja yang mengantarmu nak?" usul kakek Abian namun dengan cepat ditolak oleh Ziana. "tidak kek, taksi yang ku pesan sedang dalam perjalanan, lagipula kasihan Robin jika harus bolak-balik hanya untuk menjemput dan mengantarku" tolak Ziana secara halus, takut menyinggung perasaan sang kakek.


Kakek Abian pun akhirnya mengalah, karena apa yang diucapkan Ziana itu ada benarnya. Dengan berat hati sang kakek pun mengizinkan Ziana pulang setelah taksi yang dipesannya tiba.


"Zizi pamit ya kek" pamit Ziana menyalami tangan keriput kakek Abian.


"sering-seringlah mampir" pesan kakek.


"Zizi tidak janji kek, tapi akan aku usahakan" kata Ziana seraya tersenyum sebelum masuk kedalam mobil.


Ziana kembali lebih cepat karena sakit kepalanya kambuh lagi. Semenjak masuk rumah sakit entah kenapa Ziana sering mengalami sakit kepala yang teramat.


Sejak saat itulah dia selalu membawa obat sakit kepala di dalam tasnya, jadi saat sakit seperti ini ia bisa langsung meminumnya.


Meskipun tidak langsung sembuh seperti yang sering di perlihatkan oleh iklan-iklan televisi, namun setidaknya bisa sedikit mengurangi rasa sakitnya.


Setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit, Ziana pun tiba di kantornya yaitu di Callista Group.



Arash menyelesaikan urusannya lebih cepat karena ingin segera bertemu Ziana dengan alasan untuk urusan pernikahan, yang sebenarnya sudah 85% selesai.



Namun karena ingin selalu berada di samping sang calon istri jadilah Arash selalu mengatakan soal urusan pernikahan mereka.



Singkat cerita, Arash menghubungi Ziana untuk memastikan keberadaan perempuan itu, namun karena nomornya tidak aktif akhirnya Arash menelpon sekertaris Dita.



"halo Dita, apa Ziana sudah sampai di kantor?" tanya Arash to the point.



("Maaf pak tapi Bu Ziana belum di kantor") jawab sekertaris Dita.



Mendengar jawaban Dita diseberang sana, tanpa mengucapkan apapun lagi Arash langsung mematikan sambungan teleponnya.



"huhh.. gak Bu Ziana gak pak Arash semua sama aja, suka matiin telpon secara sepihak" gerutu Dita kesal.



"lagi ngomongin siapa?" tanya Ziana yang tiba-tiba muncul didepan meja Dita.



"eehh.. ibu, itu tadi ada yang nelpon terus langsung dimatiin secara sepihak" alibi Dita yang juga tidak sepenuhnya berbohong



"ohh.. yaudah aku masuk dulu, kamu kerja yang benar"



"baik Bu"



"eehh iya Bu.." panggil Dita tiba-tiba. Membuat Ziana menoleh "ada apa?" tanyanya.



"tadi pak Arash nelpon dan nanyain apa ibu sudah sampai apa belum," beritahunya.



"oh iya makasih, nanti biar aku telpon balik" ucap Ziana kemudian berbalik masuk kedalam ruangannya.




Didalam ruangan Ziana



Setelah masuk, Ziana memilih duduk di sofa lalu merogoh tasnya untuk mencari handphonenya.



Pantas saja tidak bisa dihubungi, ternyata ponsel itu mati setelah dirinya memesan taksi tadi. Dengan langkah malas Ziana mengisi daya baterai ponselnya, baru setelah itu perempuan itu kembali melangkah gontai menuju sofa panjang, kemudian membaringkan tubuhnya disana.



Mungkin karena efek obat yang tadi diminumnya, hanya dalam hitungan detik saja Ziana akhirnya tertidur di sofa itu, beruntung perempuan itu menggunakan celana panjang jadi tidak akan masalah jika ada seseorang masuk ke ruangannya.



Sementara itu Arash kembali kerumah tadi ia mengantar Ziana yang katanya adalah rumah milik kakeknya, yang Arash sendiri pun baru pertama kali kesana.



Setelah menepikan mobilnya Arash pun turun kemudian menghampiri seorang security yang berjaga disana.



"permisi pak.." Sapa Arash lebih dahulu.



Security itu pun segera berlari menghampiri Arash "iya pak ada yang bisa dibantu?" tanya security yang bername tag Kadir itu sopan.



"saya mau nanya pak, apa cucu pemilik rumah ini yang bernama Ziana ada didalam?" tanya Arash to the point.



"oh nona Ziana.. dia sudah pergi sekitar 30 menit yang lalu pak" beritahu pak Kadir. "begitu ya pak, kalau gitu terimakasih, saya pamit dulu" pamit Arash sopan.



Meskipun seorang CEO di perusahaannya, namun Arash selalu di ajarkan untuk selalu bersikap sopan kepada orang yang lebih tua dari dirinya, dan ajaran itu selalu diingat dan ditanamkan oleh Arash.



Usai berpamitan Arash kembali ke mobilnya, tujuan utama laki-laki itu saat ini adalah Callista Group, sebuah perusahaan swasta yang dikelola sendiri oleh Ziana.



"Mau kemana kamu?" tanya Luis yang baru saja tiba, kepada Zara ketika melihat wanita itu sudah cantik dan rapi.


"seperti katamu, aku harus menemui putriku" ucap wanita itu semangat. Mendengar itu membuat Luis tersenyum tipis "bagus, kalau begitu biar saya antar" tawarnya.


"tidak perlu Luis, aku sudah terlalu banyak merepotkan mu" tolak Zara. "oh ayolah ra, aku tidak pernah merasa direpotkan, sama sekali.." kata Luis membujuk.


"jadi biarkan aku mengantarkan mu ya.." bujuk Luis lagi, namun Zara yang keras kepala dengan cepat menggeleng "tidak.. jika kau ingin membantuku, tunggulah disini dan jagain rumahku agar tidak ada maling yang berani masuk" ucap Zara seraya terkekeh sendiri karena ucapannya barusan.


Karena tidak ingin merusak kebahagiaan wanita itu, akhirnya Luis mengikuti keinginan Zara tapi dengan syarat "hubungi aku jika sudah sampai" pesan Luis sebelum wanita itu masuk kedalam taksi.


Zara hanya mengangguk sambil memonyongkan bibirnya kedepan karena tingkah Luis.


Wanita itu melambaikan tangannya setelah mobil yang ditumpanginya perlahan mulai meninggalkan halaman rumahnya.


Luis balas melambaikan tangan, hingga mobil itu sudah tidak terlihat lagi, barulah laki-laki itu terlihat berjalan gontai memasuki rumah minimalis milik Zara.


*****


Happy Reading 💞💞 💞