About Ziana

About Ziana
Chapter 45



Sementara di ruangan Ziana, perempuan itu belum menunjukkan tanda bahwa dia akan membuka matanya.


Regan yang sudah selesai sarapan di kantin kembali memasuki kamar VVIP milik Ziana.


karena merasa cemas dengan keadaan perempuan itu, Regan menghubungi dokter untuk mengecek kondisi dari Ziana.


"gimana Val keadaannya?" tanya Regan.


"harusnya queen sudah baik-baik saja sekarang, tapi entah kenapa seakan ada sesuatu yang membuatnya tidak ingin bangun?" Ucap Valerie yang juga bingung dengan perkataannya.


"apa maksud kamu?" Regan nampak mengerutkan keningnya.


"entahlah.. sepertinya queen enggan untuk bangun" perkataan dokter Valerie membuat Regan semakin mengerut.


"Jelaskan" kata Regan tegas.


"saya juga tidak mengerti bang, tadi malam kondisi queen sudah sangat stabil"


"terus?"


"maaf, tapi sepertinya queen sudah tidak punya keinginan untuk hidup" ucap Valerie sambil menunduk.


Sementara Regan hanya termenung selama beberapa saat, sebelum akhirnya laki-laki itu menggeleng. 'tidak.. kamu gak boleh nyerah Zi' batin Regan.


"Val tolong lakukan sesuatu" Regan mengguncang dokter muda yang juga merupakan anggota dari Bloody Rose tersebut.


Valerie menggeleng "tidak ada yang bisa kita lakukan bang, karena semua catatan medisnya sudah stabil"' ucap Valerie dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"saran saya sebaiknya terus ajak queen berbicara, atau datangkan orang-orang yang dekat dengan queen, siapa tau itu bisa menjadi motivasi buat queen untuk bangun" sambung Valerie panjang lebar.


Regan mengangguk laki-laki itu teringat oleh Dita sekertaris sekaligus sahabat dari Ziana.


Buru-buru Regan menghubungi Dita dan memintanya untuk segera datang kerumah sakit.


_______________________________________


Sementara itu di sebuah ruangan serba putih tampak seorang pria dengan luka bakar di wajahnya tengah terbaring dengan banyak alat-alat medis yang melekat di tubuhnya.


Sama seperti Ziana, pria itu pun masih belum sadarkan diri pasca penembakan, ya pria itu koma.


Asisten pribadi dan anak buahnya sudah memanggilkan dokter terbaik, namun hasilnya tetap sama.


Luka tembak yang dialaminya cukup serius, namun beruntung tidak sampai mengenai jantung,karena jika sampai mengenai jantung bisa sangat fatal begitu kata dokter yang menanganinya.


"apa yang harus kita lakukan selanjutnya?" tanya Anak buah dari pria itu.


setelah itu si anak buah pun pamit undur diri dari ruangan tuannya.


_________________________________________


Kembali ke ruangan Ziana, disana sudah ada Dita yang terus mencoba untuk membangunkan Ziana dengan cara mengguncang tubuhnya namun hasilnya nihil.


"Kak.. gue tau lo bisa denger gue" ucap Dita marah.


"gue mohon kak lo harus bangun, lo gak boleh kayak gini, gue butuh lo. Siapa yang akan ngerepotin gue kalau lo gak bangun, siapa yang akan nolongin gue kalau gue di bully? siapa yang akan mimpin perusahaan kalau lo gak mau bangun kak, siapa?" tutur Dita dengan air mata yang sudah mengalir.


Valerie yang masih berada di sana ikut meneteskan air matanya melihat Ziana yang tidak merespon sama sekali.


Ziana terlihat damai dalam tidur panjangnya.


"kak gue tau lo sering protes kalo jadwal lo padat, gue tau lo lelah dengan jadwal-jadwal itu, lo boleh kok protes, lo boleh marahin gue, tapi plis jangan seperti ini kak, bercandaan lo sama sekali gak lucu" kata Dita lagi namun Ziana sama sekali tidak merespon.


Dita yang merasa putus asa melihat keadaan sahabatnya hanya bisa terduduk di lantai, perempuan itu menangis.


"hei ayo bangun, Ziana gak akan suka kalo dia melihat lo nangis kayak gini" kata Regan sambil membantu Dita untuk berdiri, lalu menuntunnya untuk duduk di sofa.


Setelah tangisnya reda Dita pun pamit ke taman yang berada di rumah sakit, untuk menenangkan pikirannya terlebih dahulu.


Regan hanya mengangguk. setelah Dita dan Valerie keluar, Regan kembali mengambil posisi duduk di kursi dekat tempat tidur Ziana.


"Zi.. kamu bisa dengar aku kan?"


Regan menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan perkataannya.


"Zi, kamu tau? banyak banget orang yang sayang sama kamu, jadi aku mohon jangan seperti ini lagi ya, kamu harus bangun. Aku tau kamu perempuan yang kuat, kamu pasti bisa melewati ini semua" ucap Regan pelan.


"kamu keluarga satu-satunya yang aku punya Zi, apa kamu juga akan ninggalin aku? kamu tidak mau melihat aku menikah dengan wanita pilihanku? kamu bahkan belum sempat berkenalan dengannya Zi" Sekuat tenaga Regan menahan air matanya agar tidak terjatuh.


Suara dering telepon menginterupsi Regan.


"ada apa?" sapa Regan pertama kali kepada si penelpon.


"........"


"baik saya segera ke sana" ucap Regan sebelum mengakhiri panggilan.


sebelum pergi, terlebih dahulu pria itu menghubungi Valerie untuk menggantikannya menjaga Ziana selama dirinya tidak ada.