
Setelah mobil yang dikendarai oleh Lucas dan teman-temannya berlalu dua pemuda yang tadi terlihat kembali ke depan gedung tersebut dan masuk kedalam.
"darimana saja kalian?" tanya salah satu rekannya.
"maaf bang, tapi tadi kami bertemu dengan tiga orang asing diluar, jadi kami pura-pura hanya lewat, dan baru kembali setelah mereka pergi" jelas salah satunya.
"mau apa mereka kesini?"
"kami juga tidak tahu bang, mereka hanya menanyakan alamat disini"
"tidak ada yang lain?" tanyanya.
"tidak bang, hanya itu" jawab yang lainnya membuat seorang pria bertubuh kekar dan berambut gondrong itu mengangguk.
"yasudah sana kembali kebelakang" titah pria gondrong tersebut.
"baik permisi bang" pamit keduanya.
Setelah mereka pergi, si rambut gondrong tersebut menghubungi seseorang untuk memberikan informasi yang baru saja didapatkannya.
Saat sedang jatuh cinta semua akan terasa indah, mungkin begitulah yang dirasakan seorang Arash saat ini.
Laki-laki itu tidak berhenti tersenyum ketika
mengigat kejadian tadi siang dimana dirinya secara sadar telah mengklaim Ziana sebagai calon istrinya.
Apalagi ketika melihat mata perempuan itu melotot tajam kearahnya, bukannya marah Arash malah merasa gemas.
Ziana yang memiliki postur tubuh yang tidak terlalu tinggi, dengan wajah imutnya, hidung mancung, bibirnya yang mungil dan mata yang agak sipit membuat Arash jatuh cinta pada sosoknya.
"psstt..psstt.." bisik Aruna kepada Attar yang sedang duduk disebelahnya.
bocah laki-laki itu menoleh sambil mengangkat kedua alisnya "apa?"
sambil menunjuk Arash yang duduk dihadapannya dengan dagu, Aruna bertanya "Daddy kmu kenapa?"
bocah itu mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu, namun sebenarnya Attar sangat mengetahui tentang sang Daddy yang sedari tadi siang selalu tersenyum.
Bahkan Attar dan Arash sedang bekerja sama untuk menjalankan sebuah rencana besar untuk masa depan keduanya nanti.
"kalian berdua kenapa bisik-bisik?" tanya papa Arnan yang melihat pasangan Tante dan keponakan itu sedang berbisik-bisik.
keduanya kompak menggeleng " tidak pa, tidak opa" ucap keduanya bersamaan.
"papa sudah kenyang, cepat habiskan makanan kalian. Arash, papa tunggu diruang kerja" ucap papa Arnan sebelum bangkit dari tempatnya duduk.
bukannya menjawab papa, Arash masih terus melamun sambil tersenyum, beruntung mama yang berada disebelahnya menyenggol lengannya.
"Mama kenapa, ngagetin aja" protes Arash karena terkejut.
"eh iyaa pa ada apa?" tanya Arash saat sang papa sudah berlalu meninggalkan ruang makan sambil menggeleng melihat sikap Arash.
"Pa.." panggil Arash, namun Arnan tidak menoleh dan terus melanjutkan langkahnya.
"papa kenapa sih, kayak cewek pms aja" dengus Arash sebelum menyendok nasi kedalam mulutnya.
"apa katamu?" kata Arianna melotot kepada anak sulungnya karena tidak terima suaminya di katain pms oleh anaknya sendiri.
"ampun Ma, Arash hanya bercanda" elaknya saat sendok hampir mendarat di kepalanya.
"sana susul papa, keruang kerjanya" titah mama Arianna.
"siap Mam" jawab Arash kemudian laki-laki itu pun bangkit dari tempat duduknya untuk menyusul sang papa yang sudah keruang kerja lebih dulu.
"kakak kamu tuh kenapa sih? mama perhatiin dari tadi melamun sambil senyum-senyum sendiri" kata mama kepada Aruna setelah Arash sudah tidak terlihat lagi.
"gak tau ma, mungkin lagi jatuh cinta" ceplos Aruna sambil mengangkat piring kotor bekas mereka makan.
"ah masa sih? tapi sama siapa?" gumam mama Arianna. kemudian wanita paruh baya itu menyusul Aruna sambil membawa makanan sisa untuk disimpan di dapur.
Meskipun hidup serba berkecukupan namun baik Arnan maupun Arianna tidak pernah menghamburkan makanan, mereka selalu memasak secukupnya dan jika ada sisa akan disimpan di dalam lemari pendingin untuk bisa dipanaskan kembali jika ingin memakannya.
Sementara itu Ziana yang sudah kembali ke apartemennya tidak bisa tidur karena terus kepikiran dengan kebohongan yang dilakukan oleh Arash tadi siang.
Ziana merasa sangat kesal dengan laki-laki itu setiap kali mengingat kejadian tadi siang. Rasanya ingin sekali perempuan itu menghajar mulut Arash yang sudah dengan lancangnya berbohong tentang status mereka.
Yang Ziana takutkan adalah soal Attar yang akan menganggap serius ucapan Arash yang didengarnya.
Perempuan itu tidak bisa membayangkan jika Attar memintanya untuk mewujudkan kebohongan daddy-nya, dan membuat Ziana tidak bisa menolak keinginan bocah menggemaskan itu.
Saat sedang sibuk merutuki Arash sebuah panggilan masuk mengalihkan perhatiannya karena panggilan tersebut datang dari Lucas.
"halo ada kabar apa?" tanyanya tanpa basa-basi.
"....."
"terus pantau, kalau perlu pasang kamera tersembunyi"
".........."
"tapi ingat jangan sampai ketahuan oleh siapapun" peringat Ziana
"....."
Tut
Ziana mengakhiri panggilannya dengan Lucas, setelah itu perempuan itu terlihat mengirim pesan kepada seseorang, kemudian bergegas untuk segera tidur karena malam yang semakin larut.
****
Happy Reading 💞💞 💞