About Ziana

About Ziana
Chapter 158



Selagi Gretha ditangani oleh dokter Ziana dan yang lain menunggu di luar sembari menunggu kabar tentang Regan.


Arash dan Lucas mengusulkan untuk melapor polisi jika hingga sore Regan belum juga ditemukan, namun Ziana tidak setuju.


"sebaiknya kita tidak perlu melibatkan polisi dalam kasus ini" ucap Ziana menolak usulan dari suaminya.


"sayang..ini demi kebaikan Regan, semakin banyak yang mencari maka akan semakin cepat di ketemukan" bujuk Arash


Namun Ziana tetap pada keputusannya "percuma meminta bantuan polisi, karena kalau benar Regan di culik oleh pihak musuh maka polisi pun tidak akan bisa menemukannya, ditambah kita belum tahu siapa yang telah menculik Regan"


"gue setuju sama istri lo, akan sulit bagi pihak kepolisian untuk menemukan Regan jika memang benar dia diculik oleh orang dari dunia bawah (mafia)" Sela Bryan yang sependapat dengan Ziana.


"lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" ucap Arash menatap kedua sahabatnya secara bergantian karena tidak memiliki ide. Ia sudah begitu lama meninggalkan dunia bawah, jadi dia sudah tidak mengerti tentang sistem mafia sekarang.


"kenapa kalian liatin gue.." seru Lucas yang di tatap oleh Bryan dan Arash.


"kan lo yang biasanya paling banyak ide" ujar Arash santai yang disetujui oleh Bryan.


"y..ya.. iya tapi gak usah natap gitu juga dong" ucapnya pura-pura malu, layaknya seorang gadis perawan yang ditatap oleh cowok ganteng yang menjadi idolanya.


"dih najis" seloroh Arash bergidik seraya memeluk pinggang Ziana.


Sementara Bryan dan Valerie yang melihatnya hanya mampu menggeleng dengan keabsuran laki-laki itu, sedangkan Lucas sudah tertawa ngakak melihat reaksi Arash.


Ziana yang merasa malu di peluk seperti itu mencoba melepaskan tangan kekar Arash.


"sshh.. sebentar saja, aku kangen" bisik Arash lembut di telinga Ziana sehingga membuat wanita itu menggeleng 'dasar modus' batin Ziana jengah dengan tingkah suaminya yang selalu punya cara untuk bisa mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Kelima manusia itu terdiam dengan pikiran masing-masing hingga suara pintu terbuka menginterupsi mereka.


"bagaimana keadaannya dok?" tanya Valerie yang sudah tahu bahwa Ziana dan ketiga laki-laki itu tidak akan buka suara.


"anda tenang saja, kondisi pasien sudah baik-baik saja jadi tidak ada hal yang perlu


di khawatirkan" jelas dokter tersebut seraya tersenyum.


"syukurlah.. kalo begitu terimakasih dokter" ucap Valerie membungkuk hormat kepada dokter yang menjadi seniornya.


"sama-sama dokter Valerie, kalau begitu saya permisi" pamit dokter tersebut.


"silahkan dok, sekali lagi terimakasih.." ucap Valerie lagi seraya menundukkan sedikit kepalanya kepada dokter tersebut.


Dokter tersebut tersenyum tipis sebelum berlalu dari sana.




Sementara itu di suatu tempat Regan terbangun dengan keadaan kedua tangan


dan kedua kakinya yang terikat.



Samar-samar Regan melihat seorang wanita yang sudah berusia sekitar 50 an tahun bersama dengan beberapa laki-laki berbadan besar, yang Regan yakini adalah anak buah dari wanita paruh baya itu.



Salah satu dari laki-laki berbadan besar itu tidak sengaja menoleh dan melihat tubuh Regan yang bergerak.



"sepertinya dia sudah sadar nyonya" ucapnya kepada wanita paruh baya yang di panggilnya dengan sebutan nyonya.



Wanita paruh baya yang tidak lain adalah Melissa itu menatap ke arah Regan. Kemudian secara perlahan Melissa berdiri dengan dibantu oleh salah satu anak buahnya.



Melissa berjalan menghampiri Regan dengan senyum menyeringai.



Regan terus memperhatikan Melissa '*siapa wanita tua itu, aku seperti tidak asing dengan wajahnya*' Batinnya tanpa melepaskan tatapan matanya.



"lama tidak berjumpa, Regan Aulian.." ucap Melissa menyebutkan nama lengkap Regan.



"anda sebenarnya siapa, dan mau apa anda menculik saya.." desis Regan menatap Melissa tajam.



"apa kau tidak mengenaliku? dan bisa kau turunkan pandanganmu itu? jika tidak ingin matamu kenapa-kenapa" ujar Melissa yang tidak suka ditatap seperti itu.



Regan tidak mengindahkan peringatan wanita tua itu "aku rasa kita tidak saling mengenal nenek tua.."



"lancang.. berani kamu mengatai ku dengan sebutan itu.." bentak Melissa marah mendengar panggilan yang disematkan oleh Regan.



"kenapa kalian diam saja.. dasar bodoh, cepat hajar mulut kurang ajarnya itu" teriak Melissa memerintahkan para anak buahnya.




*Bagh.. bugh.. bagh..bugh*..



"CUKUP.." teriak Melissa menghentikan para anak buahnya.



Bagai kerbau yang di cucuk hidungnya, keempat anak buahnya itu langsung mundur begitu mendapat perintah, sungguh uang bisa membuat siapa saja menjadi patuh.



"bagaimana anak muda, kau lihat bukan apa yang bisa nenek tua ini perbuat kan? kau berhutang budi padaku karena telah menyelamatkanmu dari amukan para anak buahku itu"



*Cuihh*



"saya tidak sudi berhutang budi kepadamu" seru Regan dengan arogan membuat Melissa naik pitam dibuatnya.



"HEH ANAK PUNGUT.. susah payah suamiku membesarkan dan melatih kamu, tapi seperti ini balasan mu kepada kami"



Mendengar perkataan Melissa membuat Regan yang tadinya tidak mengingat siapa nenek tua itu seketika mengingatnya "oh ternyata anda nyonya Melissa Ravindra,


maaf karena saya melupakan anda"



"lama tidak berjumpa nyonya, saya kira sifat anda sudah berubah karena sudah tua tapi ternyata masih sama seperti dulu" kata Regan panjang lebar dengan nada mengejek, berharap Melissa akan terpancing emosi.



Namun nenek tua itu masih terlihat berdiri dengan tenang, meskipun susah payah ia menahan amarahnya akibat ucapan Regan.



"ingat posisimu anak muda, kau lupa dimana kau berada sekarang.." ucap Melissa tenang



Regan hanya tertawa dengan gertakan halus yang di ucapkan Melissa "seharusnya saya yang berkata seperti itu nenek tua, apa anda lupa siapa saya?"



"nikmatilah kesombongan mu itu sampai teman-temanmu datang, karena akan ada kejutan yang sudah ku persiapkan untuk menyambut mereka semua hahaha.." setelah berkata demikian, Melissa beserta para anak buahnya meninggalkan ruangan tersebut.



"aku harus segera pergi dari sini, aku merasa akan ada hal buruk yang terjadi.." gumam Regan sambil berusaha mencari cara untuk melepaskan tali yang mengikat kedua


tangan dan kakinya.



Sementara itu di rumah sakit Ziana tiba-tiba mendapat pesan misterius dari nomor yang tidak dikenal.



Ziana membuka pesan tersebut dan terkejut karena ada foto Regan yang sedang terikat disana.



"*jika ingin teman kalian selamat temui saya di alamat yang sudah saya kirim*.." Isi dari pesan tersebut.



"pesan dari siapa sayang?" tanya Arash begitu melihat perubahan dari ekspresi Ziana



Ziana lalu menyodorkan handphonenya kepada Arash yang langsung disambut oleh laki-laki bucin itu dengan bingung.



Tangan Arash terkepal melihat isi dari pesan misterius tersebut "Ber\*\*\*\*\*k siapa yang sedang bermain-main dengan kita"



"ada apa bro..?" tanya Lucas dan Bryan hampir bersamaan.



"Regan diculik" beritahu Arash seraya memperlihatkan pesan yang ada di handphone sang istri.



"Kita harus segera bertindak.." ucap Bryan.



\*\*\*\*\*